Tanaman Pangan

Apakah SL PTT itu ?

Pada tanggal 25 – 28 April 2009 ini di Boyolali berlangsung Jambore SL PTT ? Mungkin masih ada petani yang bertanya: “Apakah SL PTT ” itu?

PTT itu adalah akronim dari Pengelolaan Tanaman Terpadu. Cara baru bercocok tanam padiyang memanfaatkan secara terpadu sumberdaya yang tersedia.

Hasil pengkajian di beberapa tempat memperlihatkan dengan PTT ini maka produktifitasnya meningkat sebesar 19,3 % – 24,5 %, (sekitar 1-2 ton lebih tinggi) sehingga petani dapat memperoleh keuntungan sebesar 35-50 % dibanding cara yang tersedia. PTT inipun telah mampu “berkontribursi secara nyata” produksi padi secara nasional.

Cara bertanam legowo ini biasa dilakukan pada pendekatan yang disebut dengan Pengelolaan Tanaman Terpadu atau lebih populer dengan PTT Padi. Untuk menerapkan pendekatan PTT padi ada beberapa teknologi yang harus dilaksanakan yaitu : (1) penggunaan benih varietas unggul/bermutu, (2) pengaturan jarak tanam. (3) penggunaan benih muda, (4) penggunaan bahan organik, (5) pemupukan sesuai dengan kebutuhan, (6) pengendalian OPT sesuai konsep PHT, (7) pengelolaan air sesuai kondisi lapangan. Secara rinci di jelaskan sbb:

1.      Penggunaan benih varietas unggul bermutu

Varietas unggul yang dianjurkan adalah Ciherang, Mekongga, Conde, Cigeulis, Widas, Cimelati, Gilirang, Angke, Tukad Balian, Tukad petani. Bisa juga digunakan padi hibrida longping, Pusaka dan intani I. Atau varietas unggul setempat. Kemurnian dan daya tumbuh benih tersebut harus diatas 90%. Harus dipilih benih bersertifikat sekurang-kurangnya berlabel biru. Benih ini perlu diseleksi dengan perendaman dalam larutan air garam kurang lebih 3 %, hanya benih yang tenggelam yang dipergunakan.

2.      Penggunaan jarak tanam legowo

Umumnya padi yang berada pinggiran lebih tinggi, lebih subur, lebih lebat dibandingkan dengan padi yang berada di tengah. Nah, jarak tanam tanam legowo berusaha supaya banyak padi yang “merasa” di pinggir sehingga menjadi subur dan lebat. Caranya dengan mengatur jarat tanam padi dengan pola berselang-selang antara 2 atau 4 baris dengan 1 baris kosong (inilah yang dinamakan legowo).

Ada 2 macam legowo, yaitu legowo 2 dan legowo 4. untuk legowo 2 jarak tanam yang dianjurkan adalah 50 cm x 25 cm x 12,5 cm sedangkan untuk legowo 4 adalah 50 x 25 x 25 x 25 x 12,5 cm.

Sekali lagi maksud jarak tanam legowo ini untuk memperoleh pengaruh border effect atau pengaruh tanaman pinggiran sekaligus dapat meningkatkan populasi tanaman sebesar lebih kurang 30%.

3.      Penggunaan bibit muda tunggal dan dangkal

Umur bibit di persemaian cukup 10-20 hari setelah sebar/HSS (sudah mempunyai 4 daun). Penanaman cukup 1-2 bibit perumpun dan ditanam lebih dangkal. Secara ini akan memberikan pertumbuhan dan perkembangan akar yang lebih baik, anakan lebih banyak dan tanaman lebih mampu beradaptasi dibandingkan dengan tanaman yang berasal bibit yang lebih tua. Cara ini akan menghemat penggunaan benih hingga 50%.

4.      Penggunaan bahan organik

Penggunaan bahan organik bertujuan untuk memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah. Gunakan bahan organik atau pupuk kandang sebanyak 2-3 ton/ha, seperti kompos, jerami, pupuk kandang/kotoran sapi atau ayam, pupuk hijau dan pupuk organik lainnya.

5.      Pemupukan

Pupuk dasar N,P dan K. Pemupukan pertama dilakukan sebelum tanaman berumur 14 hari. Cobalah tanyakan kepada penyuluh pertanian dosis pemupukan yang direkomendasikan setempat. Kalau tidak ada, perhatikan rekomendasi masing-masing produsen atau yang tertera dalam kemasan pupuk ybs. Sebenarnya untuk memudahkan petani dan lebih praktis telah dikembangkan metode baru untuk mengukur tingkat kehijauan daun padi yang dinamakan Bagan Warna Daun (BWD).

Petani tinggal mencocokan warna daun padi dengan warna pada BWD dan memberikan urea sesuai rumus pada BWD tersebut. Dengan menggunakan teknologi ini, pemberian pupuk N dapat dihemat sampai 20%. Tetapi mungkin alat ini belum tersebar luas di kalangan petani.

6.      Pengendalian hama dan penyakit

Pengendalian hama penyakit supaya sesuai dengan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Misalnya tanam serempak, pemantauan perkembangan populasi organisme pengganggu tanaman, melakukan pengamatan hama secara periodik. Kalau sudah melampaui ambang kendali baru diadakan pengendalian dengan pestisida. Perhatiakn pula pengendalian gulma. Minimal 3 kali.

7.      Pengairan berselang

Sekarang ini sedang disosialisasikan apa yang dinamakan dengan pengairan berselang (intermitten) untuk memberi kesempatan tanah kering beberapa saat. Sebab pengenagan terus-menerus menyebabkan penumpukan bahan beracun di lapisan perakaran. Sampai menjelang pemberian pupuk dasar (7-9 HST, hari setelah tanam) di airi selama 5 cm, kemudian biarkan mengering dengsn sendirinya (selama 5-6 hari, pengairan berselang). Setelah permukaan retak, langsung sawah di airi kembali sedalam 5cm. Ulangi seperti ini sampai tanaman masuk stadia berbunga. Mulai stadia berbunga, airi tanaman terus-menerus setinggi 5 cm. Keringkan air sekitar 2 minggu menjelang panen. Cara ini dapat menghemat penggunaan air irigasi sekitar 40 % dibanding penggenangan terus-terusan.

Cara pengelolaan PTT lebih efektif menggunakan sekolah lapang. Artinya petani berkelompok dan mengamati secara bersama. Sehingga antar petani dapat saling belajar, maka diharapkan produktifitasnyapun optimal. Untuk mempercepat penyebarluasan informasi ini, maka pemerintah menyelenggarakan jambore. Pada jambore ini para petani dapat mengadakan dialog dengan para pejabat penentu kebijakan, para pejabat pembimbing/penyuluh, para peneliti dan sesama petani sendiri selama berjambore.       (sumber : Sinar Tani)

BUDIDAYA PADI METODA SRI

PERTANIAN PADI SAWAH RAMAH LINGKUNGAN BERKELANJUTAN

FOKUS PADA UNSUR ‘TANAMAN, TANAH, AIR DAN UDARA’ HANYA ADA PADA

PERTANIAN PADI SAWAH SRI ORGANIK.

clip_image002[23]SRI ( System of Rice Intensification ) adalah cara budidaya padi yang pada awalnya diteliti dan dikembangkan sejak 20 tahun yang lalu di Pulau Madagaskar dimana kondisi dan keadaannya tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Ditemukan secara tidak sengaja d Madagaskar antara tahun 1983- 1984 oleh Biarawan Yesuit asal Prancis , bernama Fr Henri De Laulani SJ. Oleh Penemunya Methode ini selanjutnya dalam bahasa Perancis dinamakan Le Systme de Riziculture Intensive disingkat SRI. Karena kondisi lahan pertanian yang terus menurun kesuburannya, kelangkaan dan harga pupuk kimia yang terus melambung serta suplai air yang terus berkurang dari waktu ke waktu, maka dikembangkanlah metoda SRI untuk meningkatkan hasil produksi padi petani Madagaskar pada saat itu, dengan hasil yang sangat mengagumkan. Saat ini SRI telah berkembang di banyak negara penghasil beras seperti di Thailand, Philipina, India, China, Kamboja, Laos, Srilanka, Peru, Cuba, Brazil, Vietnam dan banyak negara maju lainnya. Melalui presentasinya Prof. Norman Uphoff dari universitas Cornell, USA, pada tahun 1997 di Bogor, SRI diperkenalkan di Indonesia. Dan sejak tahun 2003 penerapan dilapangan oleh para petani clip_image002[25]kita di Sukabumi, Garut, Sumedang, Tasikmalaya dan daerah lainnya memberikan lonjakan hasil panen yang luar biasa.

Cara budidaya SRI sebenarnya tidak asing bagi para petani kita, karena sebagian besar prosesnya sudah dipahami dan biasa dilakukan petani. Metoda SRI ini dinamakan bersawah organik dan menghasilkan padi/beras organik karena mulai dari pengolahan lahan, pemupukan hingga penanggulangan serangan hama sama-sekali tidak menggunakan bahan-bahan kimia . Metoda SRI seluruhnya menggunakan bahan organik disekitar kita ( petani ) yang ramah lingkungan, dan bersahabat dengan alam serta mahluk hidup di lingkungan persawahan. Dari hasil penelitian dan percobaan oleh para ahli selama bertahun- tahun di berbagai negara menunjukan bahwa hasil yang diperoleh dengan metoda SRI sangat tinggi jika sepenuhnya tidak memakai bahan-bahan sintetis( kimia/anorganik) baik untuk pupuk maupun untuk pembasmi hama dan penyakit padi.

Coba diperhatikan photo diatas, ternyata dari proses pembenihan saja, ada cara / teknis baru yang perlu diterapkan, dan tenbtunya hal ini perlu merubah Budaya Petani yang telah biasa melakukan pembenihan dihamparan sawah. Dengan cara diatas terasa penggunaan benih akan bisa sangat diminimalkan tanpa harus resiko mengorbankan Produksi padi. Disamping keperluan benih, juga bisa dihemat ongkos kerja dalam hal pembenihan dan tidak akan membuat bibit padi stress disaat dipindahkan kehamparan sawah.

clip_image002[27] clip_image002[33]

clip_image002[31]

Gambar diatas jelas tampak cara menanam padi dengan methode SRI perlu diperhatikan adalah jarak antar tanaman dan dalam satu garis lurus, hal ini akan berakibat saat akan melakukan penyiangan dengan menggemburkan tanah disela padi seperti gambar kanan atas. Dan rata-rata kekhawatiran Petani seperti terlihat pada gambar tengah diatas ( agak meragukan ) disaat awal dengan menanam satu bibit pada satu titik tanam sepertinya khawatir akan penghasilan Petani.

Meluasnya SRI ke berbagai negara antara lain berkat jasa Profesor Norman Uphoff PhD, mantan direktur Cornell International Institute for Food, Agriculture, and Devclip_image002elopment (CIIFAD). Ia tertarik memperkenalkan metode baru itu lantaran peningkatan produksi signifikan. Norman pertama kali memperkenalkan SRI kepada para petani di Indonesia pada 9 tahun silam. Berhasilnya ujicoba SRI di luar Madagaskar membuat Norman semakin yakin untuk mempopulerkan SRI. ‘SRI seperti sebuah resep menu makanan yang bisa digunakan siapa saja. Penerapannya bisa disesuaikan dengan kondisi lokal,’ ujar Professor of Goverment and International Agriculture di Cornell University.

Prof Norman Uphoff PhD

Norman Uphoff berperan dalam penyebaran sistem SRI di Asia, Afrika, dan Amerika. Dosen Cornell University itu terbang ke Malang, Jawa Timur, untuk menjadi pembicara seminar pada 6 Oktober 2009. Wartawan Trubus Ari Chaidir mewawancarai doktor alumnus University of California, Berkeley, Amerika Serikat, itu. Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana Anda melihat perkembangan SRI saat ini?

Sebelum 1999, SRI hanya berkembang di Madagaskar. Namun, sekarang metode SRI berkembang dan diterapkan di 36 negara di Asia, Amerika, dan Afrika. Negara terbaru yang menerapkan SRI adalah Timor Leste pada 2009.

Anda juga mengamati perkembangan SRI di Indonesia?

SRI lumayan bagus di Indonesia karena mendapat dukungan dari berbagai institusi seperti lembaga swadaya masyarakat dan perguruan tinggi. Bahkan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono juga mendukung SRI. Dengan demikian SRI lebih mudah diterapkan petani-petani di Indonesia.

Sejauh pengamatan Anda, negara mana yang paling sukses menerapkan SRI? Apa indikator keberhasilan negara itu?

Kamboja, India, China, dan Vietnam tergolong bagus dalam menerapkan SRI. Itu terlihat dari banyaknya petani di negara-negara itu yang menerapkan SRI. Petani yang sukses menerapkan SRI mengajak petani lain untuk mencoba sistem itu. Mereka meluangkan waktu, tenaga, dan biaya sendiri untuk mempromosikan SRI dari satu kampung ke kampung lain sehingga penyebaran SRI di sana relatif cepat.

Adakah teknologi yang diperbarui di dalam SRI?

SRI bukanlah sebuah teknologi, tetapi sebuah konsep agroekologi yang mengedepankan pengaturan tanam, tanah, air, dan pupuk. Inovasi baru dalam SRI akan muncul seiring dengan banyaknya eksperimen.

Mampukah SRI mendukung ketahanan pangan?

Ketahanan pangan adalah masalah besar, kita butuh banyak inovasi dan penelitian untuk menghadapinya. SRI dengan konsep agroekologi mendukung ketahanan pangan dengan peningkatan produktivitas padi, penghematan kebutuhan air, dan peningkatan pendapatan petani. Pendapatan petani meningkat karena produksi juga meningkat.

Beberapa petani yang baru pertama kali menerapkan SRI sulit menanam bibit muda dengan posisi akar horizontal. Selain itu pertumbuhan gulma relatif banyak akibat budidaya tanpa air. Apakah itu menjadi kelemahan metode SRI?

Pada awal penerapan memang ada yang kesulitan karena merupakan fase belajar. Namun, setelah terbiasa dengan SRI, petani tidak perlu waktu lama ketika menanam bibit. Pada SRI penyiangan harus dilakukan karena banyak gulma. Untuk mempermudah penyiangan dapat dilakukan dengan mekanisasi dengan memanfaatkan mesin penyiang. Dampaknya menghemat tenaga kerja, waktu, dan memperbaiki sistem aerasi tanah. Dari hasil penelitian, frekuensi penyiangan berpengaruh terhadap hasil panen. Penyiangan 4 kali dalam satu musim tanam menghasilkan panen lebih banyak daripada 2 atau 3 kali penyiangan.

Mungkinkah metode SRI diterapkan pada komoditas lain?

Di India metode SRI diterapkan pada tebu. Para petani tebu mengurangi pasokan air 30% dan bahan kimia 25%. Hasilnya panen tebu meningkat 20%. SRI juga diterapkan pada milet dan gandum yang juga meningkatkan panen.

Bagaimana prediksi dan harapan Anda terhadap perkembangan SRI pada masa mendatang?

Metode SRI belum selesai. Pada masa mendatang SRI terus berkembang, dimodifikasi, dan ditingkatkan. SRI diharapkan bisa berinovasi sesuai kebutuhan lokal

Dari tanya jawab diatas jelas menggambarkan bahwa menanam Padi dengan Methode SRI jelas lebih menguntungkan, hanya saja dalam hal ini perlu adanya Pendampingan Petani secara komprehensif dan adanya pemahaman dan pengertian dan keyakinan bahwa dengan bertani Methode SRI akan mendongkrak Pendapatan hasil Pertanian padi dan tentunya akan berdampak pada Peningkatan Pendapatan Petani.

DSC01392 Dan ini semua kami akan mengawali pendampingan Petani dengan Methode SRI dengan pendekatan Pendampingan Anggota Subak di Tegallinggah Karangasem secara bertahap dan berkelanjutan yang tentunya dalam hal ini kami senantiasa bersinergi dengan program Dinas Pertanian setempat khussunya dengan PPL ( Penyuluh Lapangan ),

Dan sebagai catatan kami melakukan Pendampingan dengan Methode SRI dengan memanfaatkan Pupuk Organik RI1, dikombinasikan dengan pupuk kompos dan pupuk kandang. ( Non Pupuk Kimia  dan Non Pestisida ).

Bagi yang berminat  dan ada pengalaman dalam hal sebagai Pelaku dan Pendamping silahkan berikan apresiasi dan saran serta masukan untuk penyempurnaan dari program diatas.

wawancara  disunting dari  trubusid_admin

Karang Tani Makmur  , prusugi@gmail.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s