Pascapanen

Pasca Panen Sayur

Dalam kegiatan pasca panen sayuran segar, ada beberapa perlakuan yang harus diperhatikan, antara lain pembersihan, pengeringan, sortasi, dan pengemasan. Kegiatan- kegiatan itu bertujuan :

  1. Sayuran yang telah dipanen tetap baik mutunya atau tetap segar seperti waktu diambil
  2. Sayuran menjadi lebih menarik dalam sifat sifatnya ( warna , bau, rasa dan aroma )
  3. Sayuran selalu dalam keadaan siap dengan mutu yang terjamin sebagai bahan baku industry yang memerlukannya, dan
  4. Hasil sayuran dapat dicegah dari kerusakan dan dapat diawetkan dengan baik untuk digunakan sewaktu waktu atau dipasarkan dalam kualitas yang terjamin.

Pembersihan
Pembersihan adalah tindakan pertama setelah sayuran dipanen. Kegiatan ini memegang peranan penting dalam proses selanjutnya. Tujuan utama pembersihan adalah untuk menyingkirkan sumber sumber kontaminasi dan juga akan lebih menampilkan sosok sayuran itu.
Saat dibersihkan, bagian bagian yang tidak penting dari sayuran dipotong ( tergantung permintaan konsumen) dan komoditi lain yang terikut, misalkan tanah, disingkirkan. Kemudian sayuran dicuci.
Tindakan pencucian merupakan suatu cara untuk mengurangi jumlah mikroorganisme yang berada dipermukaan sayuran, terlebih bila syuran yang telah dipanen terkena debu atau hujan. Pencucian juga bertujuan untuk menurunkan suhu sayuran sehingga memperpanjang kesegaran sayuran dan mencegah pengkristalan jika akan dimasukkan dalam alat pendingin. Pencucian sebaiknya dilakukan dengan air dingin yang telah ditanmbahkan zat germisidal atau germisistatik agara kontanmniasi tidak berlangsung ke bagian bagian lain dan air yang tertinggal pada syuran tidak dapat merangsang perkembangbiakan mikroorganisme ( bakteri perusak) yang tertinggal saat pencucian.

Pengeringan
Pengeringan disini adalah sekadar mengeringkan air bekas cucian yang ada dipermukaan jaringan sayuran. Tujuan pengeringan adalah untuk mempermudah pengemasan, terutama pengemasan yang menggunakan plastic film. Selain itu, tujuannya untuk mengurangi pembusukan akibat sisa air cucian yang menguap dan kelembaban jaringan sayuran yang meningkat.
Pengeringan dapat dilakukan dengan lap yang terbuat dari bahan yang mudah menyerap air, misalkan katun, bahan handuk, dan sebagainya. Cara pengeringan sperti itu umumnya digunakan untuk sayuran buah, seperti timun, tomat, terong , dan lain lain. Sedangkan untuk sayuran atau batang dapat digunakan kipas angin.

Sortasi
Setelah proses pembersihan, kegiatan selanjutnya adalah sortasi. Sortasi merupakan proses pemisahan dan penggolongan tingkat kebagusan dan kesergaman hasil.
Sortasi dapat dilakukan dengan prinsip prinsip pemisahan, seperti beda ukuran berat, beda ukuran bentuk, beda sifat permukanan, beda bobot jenis, beda warna, dan beda tingkat kematangan/kemasakan.
Kegiatan sortasi biasanya dilakukan berdasarkan standar mutu yang ditetapkan, baik untuk pasar dalam negeri maupun luarnegeri. Biasanya setiap kkonsumen menentukan sendiri sendiri mutu sayuran yang akan dibelinya.

PENGEMBANGAN  TEKNOLOGI   PASCA  PANEN :

1.    Pendahuluan

Indonesia secara alamiah adalah negara pertanian dengan budaya pertanian yang kuat. Bertani, beternak, berburu ikan dilaut adalah keahlian turun-menurun yang sudah mendarah daging. Teknologi dasar ini sudah dikuasai sejak jaman nenek moyang. Karena budaya pertanian telah mendarah daging maka sebagai akibatnya, bahwa dengan usaha yang cukup minimal, sektor pertanian kita sebenarnya dapat dipacu untuk berproduksi sebesar-besarnya.

Gambar 1  Produksi pangan dunia

Eropa memiliki seperempat (24%) populasi dunia, tetapi menghasilkan hampir separuh (48%) jumlah total persediaan makanan, demikian juga Amerika Utara yang hanya memiliki 8% penduduk dunia, tetapi menghasilkan 20% persediaan makanan dunia. Sebaliknya Timur jauh, termasuk Indonesia yang memiliki 40% penduduk dunia hanya menyediakan 14% persediaan makanan dunia.

Salah satu masalah produksi tersebut di Indonesia adalah ketidak mampuan kita menyediakan “teknologi pasca panen”, yang mengakibatkan :

1.    Produk pertanian seperti buah-buahan cepat jenuh, sehingga harga mudah jatuh di musim panen, sehingga pengembangan nya secara intensif besar-besaran tidak dimungkinkan.

2.    Bargaining power petani sangat lemah menghadapi tengkulak, sehingga kehidupan, kesejahteraan dan “daya beli pada teknologi” akan selalu tetap lemah

3.    Kemampuan pengawetan, pengepakan, sehingga bisa menjadikan “produk kualitas ekspor” andalan masih sangat tergantung pada teknologi luar negeri, sehingga ketergantungan terhadap produk, uluran tangan dan teknologi akan terjadi selamanya

4.    Bila Indonesia menguasai, dan mampu mengembangkan teknologi “setara dengan teknologi dunia”, tidak mustahil produk pertanian bisa di maksimalkan menjadi komoditi ekspor andalan Indonesia, sehingga kemajuan teknologi bisa lainnya bisa berlangsung dan maju pesat.

Beberapa produk pertanian yang saat ini berhasil berkembang cukup berarti di Indonesia antara lain :

a.    Tepung, beras, ubi kayu, jagung, gandum

b.    Buah-buahan : jeruk, pisang, mangga, dll

c.    Sayur-sayuran: kubis, kentang

d.    Kacang-kacangan: kacang tanah, kedelai

e.    Ikan segar, udang, telur, susu, dairy produk

f.     Daging ayam, sapi, kerbau

g.    Makanan jadi, minuman

h.    Ternak, hasil peternakan, makanan ternak

Teknologi pasca panen untuk produk-produk di atas memang sebagian sudah tersedia di Indonesia, akan tetapi penguasaan pakar Indonesia terhadap manufaktur, riset dan pengembangan teknologi ini masih sangat lemah. Oleh sebab itu sulit bagi teknologi ini di Indonesia untuk bisa menjadi “tulang punggung” produk-produk pertanian, sehingga menjadi komoditi ekspor unggulan Indonesia.

Teknologi ini harus dikuasai, walaupun harus bertahap. Dengan pengembangan produk dari yang sederhana hingga produk yang kompleks, dari skala kecil hingga skala industri, dan dengan akumulasi langkah-langkah perbaikan berkesinambungan, yang melibatkan usaha multi-disiplin, teknologi ini akan menjadi teknologi yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar produk pertanian Indonesia, yang akan dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat, meningkatkan volume ekspor non-migas, dan sekaligus ikut berkontribusi cukup berarti dalam menyelesaikan persoalan pengangguran di Indonesia.

2.    Latar Belakang

Teknologi pasca panen adalah teknologi multidisiplin, yang melibatkan pakar-pakar, seperti pakar bahan, manufakturing, teknologi pengolahan pangan, kimia, pengukuran, gizi, agro-kompleks dan lingkungan.

Kelemahan pengembangan teknologi di Indonesia adalah sinergi antar disiplin ilmu yang masih sangat rendah. Sinergi adalah akumulasi usaha difusi dari berbagai ilmu dan teknologi, yang sangat membutuhkan energi, sehingga untuk mendapatkan produk yang canggih, modern dan berkehandalan tinggi perlu langkah dan tahapan sistematik, yang memerlukan dukungan politik dan dana pemerintah dan perguruan tinggi.

Keberpihakan pemerintah terhadap teknologi rakyat perlu ditegaskan, karena kuat sekali indikasi pemerintah yang lebih mengutamakan akumulasi kekuatan ekonomi pemerintah dan sektor swasta dari pada pemberdayaan teknologi produksi rakyat dan penyelesaian pengangguran, yang memang memerlukan usaha sedikit lebih serius dari pemerintah.

Teknologi pasca panen haruslah dibuktikan oleh UGM pada pemerintah sebagai teknologi pemberdayaan bagi kemampuan produktivitas rakyat, yang bisa mendorong ekspor pertanian rakyat sebagai sumber devisa negara, dan merupakan salah satu langkah strategis menyelesaikan pengangguran.

Oleh sebab itu di dalam metodologi pengembangannya perlu diperhatikan strategi implikasi kebutuhan dana, potensi pertanian rakyat, sustainability, potensi ekspor, potensi penyelesaian pengengguran, keterlibatan sektor swasta dan daya serap teknologi oleh rakyat.

 

3.    Metodologi

Metodologi pelaksanaan pengembangan teknologi pasca panen adalah sebagai berikut:

a.    pemilihan prioritas: jenis teknologi, skala teknologi

b.    perhitungan dampak terhadap: kebutuhan dana, potensi pertanian rakyat, sustainability, potensi ekspor, potensi penyelesaian pengengguran, keterlibatan sektor swasta dan daya serap teknologi oleh rakyat

c.    penjadwalan pengembangan teknologi

d.    pelaksanaan pengembangan teknologi

e.    Strategi implementasi teknologi.

4.    Pelaksanaan

Pengembangan teknologi pasca panen ini memerlukan dukungan dari berbagai pihak.

a.    Pakar perguruan tinggi: sebagai penyedia teknologi & human resources

b.    Mitra industri (mungkin internal UGM): yang akan berpartisipasi dalam program produksi awal hingga produksi massa.

c.    Pemerintah daerah: akan menyediakan daerah sebagai pelaksanaan program implementasi, yang akan masuk dalam scheme anggaran Pemda dalam pelaksanaannya

5.    Pengusul

Sutrisno dan teman-teman Klaster Sains & Teknologi

(Untuk Ditanggapi oleh Para Peneliti di Klaster AGRO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s