Pengelolaan Ubi Jalar

PANDUAN PENGELOLAAN USAHATANI
(Ipomoea batatas)
DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA
KABUPATEN SUMEDANG
KERJASAMA DENGAN
BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN (BPTP)
JAWA BARAT
2009
iii
DAFTAR ISI
Halaman
PANDUAN PENGELOLAAN USAHATANI UBI JALAR ………………………… i
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………. ii
DAFTAR TABEL ………………………………………………………………………….. iv
DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………………………. v
I. PENDAHULUAN ……………………………………………………………………… 1
1.1. Latar Belakang …………………………………………………………………. 1
1.2. Tujuan …………………………………………………………………………… 2
1.3. Keluaran …………………………………………………………………………. 2
1.4. Dasar Pertimbangan ………………………………………………………….. 3
II. METODOLOGI ……………………………………………………………………… 5
2.1. Ruang Lingkup Pengkajian ………………………………………………….. 5
2.2. Acuan Pengamatan Pengetahuan Sikap Keterampilan (PSK) ……… 5
2.3. Peubah/parameter yang diamati ………………………………………….. 6
2.4. Indikator Keberhasilan ……………………………………………………….. 6
III. ARAHAN PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN UBI JALAR .. 7
3.1. Pohon Industri Komoditas Ubi Jalar ………………………………………. 7
3.2. Rehabilitasi Pra_Kondisi Sosial (Social Engineering) ………………….. 8
3.2.1. Keberdayaan Kelembagaan Usahatani (on farm) ……………. 10
3.2.2. Kelembagaan Usaha Lainnya Yang Perlu Akselerasi …………. 16
3.3. Civil Engineering (agriculture) ……………………………………………… 23
3.3.1. Informasi Umum ……………………………………………………… 23
3.3.2. Informasi khusus Civil Engineering Ubi Jalar (Ipomoca
batatas) ………………………………………………………………….
26
3.3.3. Budidaya Ubi Jalar (Ipomoca batatas) …………………………… 34
3.4. Technology Engineering …………………………………………………….. 38
3.4.1. Pembibitan Ubijalar (Ipomoea batatas) …………………………. 41
3.4.2. Pengolahan Media Tanam …………………………………………. 43
3.4.3. Teknik Penanaman ………………………………………………….. 44
3.4.4. Pemeliharaan Tanaman ……………………………………………. 51
3.4.5. Hama dan Penyakit …………………………………………………… 53
3.4.6. P a n e n ……………………………………………………………….. 56
3.4.7. Pasca Panen …………………………………………………………… 58
3.5. Economic Engineering ……………………………………………………….. 59
3.6. Management Engineering …………………………………………………… 65
3.6.1. Penataan Ruang Ekonomi Pertanian Perdesaan ………………. 65
iv
3.6.2. Faktor Lokasi Berpengaruh pada Penggunaan Lahan ……….. 67
3.6.3. Evaluasi Lahan dan Kesesuaian Lahan ………………………….. 68
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………… 79
v
DAFTAR TABEL
Tabel Judul Halaman
1 Proporsi tanaman semusim (tanaman pangan) dan tanaman
tahunan berdasarkan kemiringan lahan
24
2 Jarak antara dua tanaman pagar/strip atau lebar lorong yang
efektif berdasarkan kemiringan lahan
25
3 Persyaratan Penggunaan Lahan Ubi Jalar (Ipomoea batatas) 28
4 Tekstur, permeabilitas, dan kesesuaian tanah untuk embung 33
5 Kapasitas tampung embung, luas daerah tangkapan hujan, dan
luas pertanaman yang dapat diairi selama tiga bulan
34
6 Biaya pembuatan embung di Rembang, 1991/1992 35
7 Legenda peta kesesuaian lahan komoditas unggulan ubi jalar di
WP Tanjungsari, Kabupaten Sumedang
70
8 Legenda peta kesesuaian lahan komoditas unggulan ubi jalar di
WP Darmaraja, Kabupaten Sumedang
72
9 Legenda peta kesesuaian lahan komoditas unggulan ubi jalar di
WP Sumedang Kota, Kabupaten Sumedang
73
10 Legenda peta kesesuaian lahan komoditas unggulan ubi jalar di
WP Buahdua, Kabupaten Sumedang
75
11 Legenda peta kesesuaian lahan komoditas unggulan ubi jalar di
WP Tomo, Kabupaten Sumedang
77
12 Tindakan fasilitastor dalam melakukan manajemen transfer
teknologi
89
13 Indikator Adopsi Teknologi Inovasi Melalui Penilaian Umpan
Balik (berdasarkan tahapan perubahan perilaku sasaran ditinjau
dari aspek kognitif, afektif dan psikomotor)
93
14 Hubungan antara kecuraman lereng dengan lebar terras, dan
luas areal yang dapat ditanami pada terras bangku dengan
jarak vertikal 1 m (Constantinesco, 1987)
108
vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul Halaman
1 Pohon Industri Komoditas Ubi Jalar 7
2 Perbedaan land rent 66
3 Perbedaan tingkat kesuburan lahan dan topografi 66
4 Perbedaan “Land rent” dari tiga luasan lahan yang berbeda
lokasi dan jaraknya dari pasar (Barlowe, 1979)
60
5 Peta kesesuaian lahan komoditas unggulan ubi jalar di WP
Tanjungsari, Kabupaten Sumedang
70
6 Peta kesesuaian lahan komoditas unggulan ubi jalar di WP
Darmaraja, Kabupaten Sumedang
71
7 Peta kesesuaian lahan komoditas unggulan ubi jalar di WP
Sumedang Kota, Kabupaten Sumedang
73
8 Peta kesesuaian lahan komoditas unggulan ubi jalar di WP
Buahdua, Kabupaten Sumedang
74
9 Peta kesesuaian lahan komoditas unggulan ubi jalar di WP
Tomo, Kabupaten Sumedang
76
10 Manajemen Transfer Teknologi Dalam Interaksi Timbal-Balik
Antara Pengirim dan Penerima
88
11 Alur strategi transfer teknologi 91
12 Penanaman dalam strip (a) menurut garis kontur (contour
strip cropping), (b)lapangan (field strip cropping), dan (c)
strip berpenyangga (buffer strip cropping)
106
13 Sketsa penampang (a) Guludan, dan (b) Guludan bersaluran 106
14 Sketsa terras pengelak (a) dan terras retensi (b) 107
15 Sketsa terras bangku berlereng ke dalam (atas), dan terras
bangku datar (bawah)
107
1
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Performa agroekologi Kabupaten Sumedang merupakan daerah yang berbukitbukit
dengan ketinggian tempat antara 25 – 1.500 m dpl (di atas permukaan laut) serta
beriklim tropis, secara geografis terletak pada posisi 7°50′ Bujur Barat, 68°45′ Bujur
Timur, 1°23′ Lintang Selatan dan 1°43′ Lintang Utara. Batas-batas administrasi
wilayahnya, sebagai berikut: Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Indramayu
dan Subang, Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Garut; Sebelah Barat
berbatasan dengan Kabupaten Bandung, dan Sebelah Timur berbatasan dengan
Kabupaten Majalengka. Luas lahan bakunya adalah 152.220 ha yang terbagi atas 26
kecamatan dan 262 desa. Sebagian kecil digunakan untuk pesawahan yaitu sebesar
22,04% (33.549,3 ha) yang keadaannya dari tahun ke tahun semakin menurun dan
luas lahan darat sebesar 77,96% (118.670,7 ha).
Program Kabupaten Sumedang dalam “Pengembangan Daerah Agribisnis Skala
Optimis 2005-2008” menjadi landasan melakukan aktivitas kegiatan program Dinas
Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Sumedang. Salah satu prioritas aktivitas
teknisnya menitik_beratkan pada peningkatan produksi dan produktivitas dengan
mengoptimalisasikan sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya
institusi/kelembagaaan dalam suatu sistem dan usaha agribisnis ubi jalar.
Visi Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Sumedang
dalam pembangunan daerah adalah “TERWUJUDNYA KETERSEDIAAN PANGAN DAN
PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KOMODITAS UNGGULAN UNTUK MENINGKATKAN
PENDAPATAN PETANI TAHUN 2013”, sedangkan arah misi pembangunan pertanian,
adalah: (1) Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia pertanian; (2) Memperluas
penciptaan lapangan kerja serta menyiapkan tenaga terampil dan berjiwa usaha; (3)
Menjaga dan meningkatkan ketersediaan pangan daerah melalui intensifikasi,
ekstensifikasi dan diversifikasi; (4) Mewujudkan agribisnis komoditas unggulan; (5)
Meningkatkan kualitas dan kuantitas infrastruktur pengelolaan lahan dan air (Diperta
Kab. Sumedang, 2009).
Permasalahan pengembangan komoditas unggulan tanaman pangan yang
terungkap di tingkat masyarakat salah satunya agribisnis ubi jalar, antara lain:
2
(a) penguasaan teknologi produksi dan peningkatan produktivitas setiap bulan belum
dikuasai petani; (b) pemanfaatan lahan secara opersional dalam pengelolaannya belum
berpijak pada optimasi pemanfaatan sumberdaya pertanian berdasarkan peta
kesesuaian lahan skala 1:50.000 yang telah dimiliki oleh Dinas Pertanian Tanaman
Pangan dan Hortikultura. Hal ini terlihat dari kualitas ubi jalar sangat bervariasi di
pasar lokal; (c) keberdayaan kelembagaan organisasi/ sosiasi agribisnis ubijalar belum
tertata.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan
Hortikultura Kabupaten Sumedang bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian (BPTP) Jawa Barat melakukan terobosan dengan penyusunan “DETAIL
ENGINEERING DESIGN (DED) PENGEMBANGAN PERTANIAN DAN KOMODITAS
UNGGULAN HORTIKULTURA (salah satunya komoditas ubi jalar) di KABUPATEN
SUMEDANG” dengan pendekatan “teknik eko_sosial keberdayaan kelembagaan
overhead”.
1.2. Tujuan
Menyusun “Detail Engineering Desain Komoditas Tanaman Pangan di Wilayah
Kabupaten Sumedang”, sebagai kerangka acuan dan arahan dalam merehabilitasi prakondisi
pembangunan komoditas tanaman pangan oleh Dinas Pertanian Tanaman
Pangan dan Hortikultura Kabupaten Sumedang baik aspek teknis, budidaya, sosial
kelembagaan organisasi pertanian, ekonomi, manajemen maupun teknis konservasi
(civil engineering).
1.3. Keluaran
• Kerangka arahan rancangan teknologi budidaya yang mengarahkan peningkatan
produksi & produktivitas serta mutu hasil ubi jalar sesuai permintaan pasar.
• Kerangka arahan rancangan usaha pendukung dalam pengembangan komoditas
ubi jalar dengan teknologi introduksi yang semuanya diharapkan mampu
mendukung peningkatan nilai pendapatan petani.
• Kerangka arahan rancangan akselerasi keberdayaan kelembagaan organisasi
kelompoktani dan gapoktan serta bentuk kerjasamanya dengan fihak ketiga yang
terukur, jelas baik dalam pembagian hasil secara adil maupun terjaminnya
pemasaran berkelanjutan sehingga tumbuh kemampuan mengelola usaha dalam
satu kesatuan manajemen berorientasi kemandirian petani.
3
1.4. Dasar Pertimbangan
Peluang pengembangan alternatif model usahatani berbasis agroekologi lahan
kering/sawah yang berorientasi agribisnis di wilayah perdesaan dalam satu kesatuan
wilayah pembangunan (WP) telah tertuang dalam Masterplan Pembangunan Agribisnis
Kabupaten Sumedang, Tahun 2008. Pengembangan tersebut dapat dilakukan secara
segmen usaha baik pada aspek teknis budidaya, sosial kelembagaan, ekonomi,
manajemen maupun konservasi lahan (civil engineering) sebagai upaya perbaikan
mutu lahan untuk keberlanjutan pertanian. Implementasi pengelolaan pemanfaatan
sumberdaya lahan tersebut perlu ada terobosan rehabilitasi pra-kondisi(engineering)
per-subsistem agribisnis ubi jalar dengan memprioritaskan pada peluang yang
mempertimbangkan faktor penentu dan mendukung di wilayah pedesaan.
SDM petani baik pelaku utama maupun pendukungnya dalam implementasinya
menjadi faktor penentu. Faktor pendukung utamanya, adalah: (a) Kebijakan
Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang dengan telah disusunnya MASTERPLAN
PEMBANGUNAN AGRIBISNIS KABUPATEN SUMEDANG yang mendukung
pengembangan komoditas unggulan daerah; (b) Dinas Pertanian telah memiliki Peta
kesesuaian lahan skala 1:50.000 (semi detail) pada tahun 2005 dan 2006 yang
menegaskan Pewilayahan Komoditas Pertanian Kabupaten Sumedang; (c) Permintaan
pasar akan komoditas unggulan ubi jalar Kabupaten Sumedang masih terbuka luas
baik pasar luar negeri maupun pasar domestik.
Permasalahan pengembangan agribisnis ubi jalar secara umum, adalah: (a)
keberdayaan lembaga organisasi agribisnis ubi jalar belum tertata berdasarkan prinsip
ekonomi supplay dan demand (hukum ekonomi) di dalam wilayah Kabupaten
Sumedang maupun di luar Kabupaten atau Provinsi Jawa Barat; (b) pemanfaatan lahan
secara optimal belum berpijak pada optimasi pemanfaatan sumberdaya pertanian
dalam kontek pengembangan agribisnis melalui pendekatan wilayah (wilayah
pembangunan dalam Masterplan Pembangunan Agribisnis Kabupaten Sumedang; (c)
penguasaan teknologi produksi dan produktivitas komoditas ubi jalar belum seluruhnya
dikuasai petani pelaku agribisnis ubi jalar.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka pada tahun 2009 Dinas Tanaman
Pangan dan Hortikultura Kabupaten Sumedang telah memutuskan untuk melakukan
kerjasama dengan BPTP Jawa Barat menyusun : “Detail Engineering Design (DED)
4
Agribisnis Komoditas Unggulan tanaman pangan di Kabupaten Sumedang” yang
berbasis AEZ dengan menjabarkan esensi dari Masterplan Pembangunan Agribisnis
Kabupaten Sumedang 2008. Produk model akselerasi ini berbasis acuan transfer
teknologi berdasarkan umpan balik yang secara teknis operasional mengacu pada AEZ
Kabupaten Sumedang”.
Metoda yang dikembangkan yaitu: RRA, curah pendapat, diskusi kelompok,
studi kasus advokasi transfer teknologi inovasi mengacu indikator respon umpan balik
dari persepsi sasaran. Penerapan model tersebut disesuaikan dengan bobot kerumitan
(tingkat kesulitan teknis) materi teknologi berdasarkan kemampuan sasaran/pengguna
dalam menginterpretasi kinerja sumberdaya pertanian, kinerja teknologi inovasi
berdasarkan persepsi pelaku agribisnis komoditas unggulan secara rasional dan layak
“teknologi-sosial-ekonomi dan keberdayaan lembaga pemasaran pendukung. Kegiatan
pemberdayaan sasaran diarahkan dilakukan secara working group dalam satu kesatuan
manajemen dengan bentuk organisasi flat aktivitas ekonominya melalui pendekatan
pembangunan dan pengembangan kewilayahan (agregat) berbasis desa sentra
produksi komoditas ubi jalar. Hasil yang diharapkan adalah agribisnis kerakyatan dan
kelembagaannya berfungsi secara maksimal dan secara teknis didukung kebijakan
insentif & disinsentif dari peraturan pemerintah daerah yang berfihak kepada
masyarakat tani.
5
II. METODOLOGI
Dalam pengkajian ini diawali dengan survai data sekunder dengan desk study
untuk memperoleh gambaran umum sedangkan data primer dilakukan melalui studi
kasus sebagai pendalaman. Materi yang dihimpun, meliputi: (1) invetarisasi
sumberdaya lahan dan pengguna sumberdaya lahan; (2) sumberdaya manusia yang
terjun langsung pada sistem dan usaha agribisnis komoditas ubi jalar; serta (3)
kelembagaan agribisnis ubi jalar skala kecil.
Metode survai primer dipilih pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus
yang bersifat multi metode dengan titik berat pada metode non-survai, meliputi:
pengamatan efektifitas kinerja teknis-sosial-ekonomi dan kelembagaan agribisnis
aktual di lapangan. Wawancara mendalam dengan informan kunci, diskusi kelompok
dan ungakapan pengalaman petani berhasil.
Metode survai dipergunakan untuk mendapatkan informasi yang akurat
mengenai struktur dan dinamika kerjasama organisasi petani hubungannya dengan
lembaga/kelembagaan usaha agribisnis ubi jalar skala kecil antar pihak-pihak yang
bermitra dalam satu kesatuan manajemen pemampung produk ubi jalar partisipatif.
Fungsi kelembagaan/institusi masyarakat pertanian tersebut diamati tingkat
keterkaitan dengan manejemen pembinaan kinerja teknis pada berbagai level pembina
oleh Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Sumedang sebagai fihak
pemerintah yang bertanggung jawab.
2.1. Ruang Lingkup Pengkajian
Ruang lingkup Design pengkajian, meliputi aspek: Civil Engineering Agriculture,
Technology Engineering, Economic Engineering, Social Engineering dan Management
Engineering.
2.2. Acuan Pengamatan Pengetahuan Sikap Keterampilan (PSK)
Pengamatan dilakukan terhadap variabel:
PSK : f (a.t.T1,2. . . . 5)
a : adopsi ; t : penerapan teknologi (eksisting)
T : level adopsi (1 s.d. 5) penguasaan terhadap parameter yang diamati
6
2.3. Peubah/parameter yang diamati
• Performa kinerja
• teknis, ekonomis, dan kelembagaan pelaku usaha agribisnis ubi jalar, serta
komoditas pendukung lainnya.
• Kebutuhan IPTEK Komersial spesifik lokasi.
• Peluang kerjasama.
• Mandat institusi pembina bidang pangan.
2.4. Indikator Keberhasilan
1. Nilai Incremental Benefit-Cost Ratio (I B/C ratio) minimal >1 atau ada kenaikan
nilai >30% kondisi
2. awal bagi lembaga/kelembagaan usaha pengguna teknologi komersial.
3. Nilai nominal kerjasama dengan lembaga pengguna teknologi dan lama kerjasama
dengan pihak ke III (swasta, PMDN dan PMA).
4. Effect multiplier bagi kegiatan institusi pengguna, antara lain: opportunity cost,
efectivitas dan eficiency cost, serta pemberdayaan SDM pertanian secara optimal.
7
III. ARAHAN PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN UBI JALAR
3.1. Pohon Industri Komoditas Ubi Jalar
Gambar 1. Pohon Industri Komoditas Ubi Jalar
8
3.2. Rehabilitasi Pra_Kondisi Sosial (Social Engineering )
Masing-masing daerah dan masyarakat memiliki karateristik sendiri yang
bercorak khas, hal ini juga terjadi di masyarakat Kabupaten Sumedang yang terbentuk
dari hasil proses perjalanan sejarah biologis dan kebudayaan yang telah berlangsung
sangat panjang. Secara historis, Sumedang di masa silam merupakan suatu kerajaan
yang dikenal dengan nama “Sumedanglarang”. Budaya masa lalu yang tumbuh dalam
masyarakat yang terpelihara adalah kesatrian dan kemudian melekat serta manunggal
dihati masyarakat, hal ini telah menjadi sumbangan yang sangat berarti bagi
terwujudnya ciri khas masyarakat Sumedang kini, yaitu: sifat dan sikap someah
(ramah), tidak menonjolkan diri, menghindari kekerasan dan lebih mengutamakan
musyawarah. Hal ini merupakan nilai luhur masa silam yang tetap terpelihara yang
berakar tradisi masyarakat agraris (Gunawansyah T, 2005).
Struktur sosial suatu masyarakat terbangun oleh jalinan interaksi orang-orang
dengan status dan peran yang berbeda (Homans dalam Darmawan Salman dan Andin
H.Taryono.,1992). Pengaruh pemilikan dan penguasaan lahan; Geli Bulu Y., (2003)
menegaskan bahwa terhadap kemampuan petani dalam penerapan teknologi pertanian
antara rumah tangga petani lapisan atas dengan lapisan menengah kurang
memperlihatkan perbedaan yang berarti, namun kedua lapisan tersebut dengan rumah
tangga petani lapisan bawah perbedaan tersebut umumnya nampak pada perbedaan
status pemilikan dan penguasaan, serta luas lahan yang digarap.
Kemitraan yang terjadi antara pengusaha/mitra usaha dengan petani (secara
sosial) ditandai oleh dominannya konflik dan ketergantungan yang disebabkan cara
pembayaran, perlakuan mendikte, penentuan harga jual, dan keuntungan secara
sepihak yang dilakukan oleh pengusaha/mitra usaha, sehingga membuat kemitraan
menjadi melemah. Motif membesarnya porsi mencari keuntungan pengusaha secara
sepihak, di sisi lain merugikan petani.
Putnam (1993) dalam Wasito, 2004 menempatkan bahwa modal sosial sebagai
unsur utama pembangunan sebuah masyarakat sipil (civil community). Modal sosial
mengacu pada aspek-aspek utama dari organisasi sosial seperti kepercayaan (trust),
norma-norma (norms), dan jaringan-jaringan (networks) yang dapat meningkatkan
efisiensi dalam suatu masyarakat melalui fasilitas bagi tindakan-tindakan yang
terkoordinasi. Sikap saling percaya (trust) merupakan dimensi budaya dari kehidupan
9
yang sangat menentukan dalam keberhasilan berusahatani dan merupakan perekat
(dimensi afektif) yang menghubungkan pranata dan norma (dimensi ideasional)
dengan adanya partisipasi (dimensi perilaku).
Dinamika perilaku ditunjukkan oleh pelaku interaksi sosial ekonomi masyarakat
petani ubi jalar dengan analisis akhir yang diperoleh dari interaksi yang terjadi. Dalam
batas-batas tertentu berlaku umum di berbagai wilayah dan keadaan. Namun dalam
banyak hal aspek lokalita dan permasalahan spesifik harus memperoleh penekanan,
mengingat peluang besar terjadinya variasi per lokalita maupun permasalahannya.
Sejalan dengan diberlakukannya otonomi daerah, reformasi kelembagaan
pedesaan dapat dijadikan agenda penting untuk mengembalikan kekuatan ekonomi
pedesaan. Pranadji (2002) menyarankan bahwa dalam rangka meningkatkan
dayasaing keberdayaan kelembagaan dan sistem perekonomian (ubijalar) di pedesaan
sampai di tingkat komunitas pedesaan. Oleh karena itu, makna reformasi dalam
bingkai otonomi daerah mencakup pengertian pemberian kesempatan dan
kepercayaan (trust) kepada keberdayaan kelembagaan organisasi lokal untuk
meningkatkan kapasitas kecerdasan dan efisiensi di bidang pengelolaan sumberdaya
yang menggairahkan perekonomian perdesaan.
Up Hoff (1992) menyatakan bahwa suatu lembaga atau organisasi lokal yang
dinilai bisa mendorong kemajuan masyarakat haruslah mampu menjaring partisipasi
masyarakat secara masif. Sudaryanto dan Pranadji (2000) juga menyatakan bahwa
organisasi pedesaan harusnya merupakan bangunan jaringan kemitraan agribisnis. Ciri
penting organisasi ekonomi pedesaan yang dinilai mampu meningkatkan dayasaing
ekonomi pedesaan.
Hal ini dapat tergambarkan dari ungkapan masalah dan harapan para petani
Kabupaten Sumedang kepada para pembina pertanian Kabupaten Sumedang dengan
4 (empat) pertanyaan utama dan substansial, yaitu :
1. “Bagaimana kami merubah perilaku jika dalam usahatani posisinya sebagai
penggunaan lahan sewa, lahan negara, hak garap dalam pengelolaan organisasi
kelompok dikaitkan dengan aturan bagi hasil ?”
2. “Bagaimana kontribusi antara anggota dan pengurus dalam menerapkan aturan
bagi hasil dan iuran kelompok, umumnya kami kurang jelas dan tidak focus ?.
10
3. “Bagaimana menangani permasalahan kelompok baik yang menyangkut dengan
benah kelompok, aturan pengelolaan pembagian tanggung jawab yang kurang
jelas antar pengurus maupun bagi hasilnya ?
4. “Bagaimana kami menetapkan focus usahatani bersama yang menguntungkan
semua anggota, namun umumnya kalau sudah berhasil berkat bimbingan dan
bantuan pemerintah ada kecenderungan perngelolaan bantuan fisik atau finansial
dikuasai para pengurus saja, apa solusinya ?
Pada prinsipnya, upaya merubah perilaku seseorang harus kontinyu dan
terkompensasi intelektual emosi dan hasil riil bagi semua fihak yang terlibat, oleh
karena itu perlu diawali penguatan kelompok dari aspek modal sosial di lingkungannya.
Umumnya akan terbentuk motivasi berkelompok dengan harapan dan kebutuhan yang
relatif homogen untuk berinteraksi dan saling memperkuat pertukaran produk dan jasa
dalam bentuk nilai tukar (terbentuk dari difusi terpolakan secara selaras dalam konteks
keterampilan teknis dan benefit) sesuai perkembangan kebutuhan dan kemajuan
Iptek. Untuk di wilayah Kabupaten Sumedang bisa dijamin mampu karena dari
leluhurnya telah tertanam sifat mengutamakan musyawarah.
Dalam menumbuhkan motivasi kelompok atau gapoktan sebagai organisasi
lokal pedesaan perlu didorong berorientasi tindakan usaha pada segmen agribisnis on
farm yang resikonya relatif rendah dan banyak menyerap tenaga kerja cukup dengan
tingkat keterampilan sederhana dengan menguatkan, pada aspek :
3.2.1. Keberdayaan Kelembagaan Usahatani (on farm)
Kelembagaan adalah suatu sistem yang menyangkut lembaga (institusi),
organisasi, aturan, norma dan tata nilai yang berlaku dalam suatu komunitas.
Akselerasi adalah penyelarasan dalam konteks pengembangan usaha, misal
komoditas ubi jalar, maksudnya menyelaraskan berbagai kepentingan dan kebutuhan
semua masyarakat yang diwadahi oleh nilai benefit (insentif) yang akan diperoleh oleh
para pelaku usaha atau penjual jasa keterampilan dan keahlian di bidang usaha
tersebut baik pada sub_sistem agribisnis ubi jalar hulu hingga ke hilir agar tercapai
optimasi usaha.
Kelembagaan kelompoktani di wilayah perdesaan/kecamatan umumnya masih
berada dalam kondisi parsial, artinya setiap sub sistem agribisnis masih berjalan secara
terpisah (belum terintegrasi), sehingga kurang mampu menolong dan memberdayakan
11
para petani dalam meningkatkan produksi, produktivitas, efisiensi dalam upaya
peningkatan nilai tambah pendapatan usahataninya.
Kelembagaan didefinisikan sebagai suatu aturan yang mengikat dan menentukan
tata cara kerjasama dalam memanfaatkan sumberdaya dan hak masing-masing
masyarakat (Hayami and Kikuchi, 1995).
Kerjasama sukarela lebih mudah terjadi
di dalam suatu komunitas yang telah mewarisi
sejumlah modal sosial yang substansial dalam
bentuk aturan-aturan, pertukaran timbal balik,
dan jaringan kesepakatan antar warga. Oleh
karena itu, dalam rangka pengembangan
agribisnis di tingkat wilayah perdesaan, perlu
didesain suatu “sistem dan usaha agibisnis
skala kecil yang berorientasi pada sistem
cluster produksi ekonomi kerakyatan”.
Disamping itu, perlu juga inisiasi untuk menumbuhkan kelembagaan utama
kelompoktani/gapoktan (on farm) maupun pendukung agribisnis yang mampu
berfungsi memperbaiki dan memperlancar sistem dan usaha agribisnis ubi jalar
agregat (wilayah) pembangunan di Kabupaten Sumedang. Untuk itu program
penumbuhan motivasi kelompok perlu berlandaskan keberdayaan performa aktual SDM
petani yang didukung potensi SDA pertanian yang relatif mudah dikelola dan sedikit
investasi modal finansial, infrastruktur pertanian primer dan sekunder serta Kebijakan
Pemda Kab. Sumedang yang mendukung (insentif & disinsentif).
Langkah Pertama adalah memahami performa internal petani secara
mendalam, bahwa :
1) Petani sebenarnya adalah seorang pengamat, dan pelaku penguji coba yang
tangguh serta sikap saling percaya (trust) sesama petani dilingkungannya.
2) Petani sebenarnya peka terhadap perubahan yang menyangkut keberlanjutan
pertaniannya, kalau ada peluang mereka secara terus menerus mengevaluasi,
menyeleksi.
12
3) Petani selalu mengkombinasikan berbagai informasi dari berbagai sumber guna
memenuhi kebutuhan hidup dan menyesuaikan diri dengan perubahan yang
dihadapi ( Popkin, 1986).
4) Dinamika perilaku interaksi selalu terbangun cluster produksi sosial ekonomi
masyarakat pertanian sederhana yang terjadi dalam batas lokalita.
5) Permasalahan pengelolaan usahatani ubi jalar spesifik lokasi akan selalu terungkap
aspek kelembagaan pemasaran perdesaan sederhana yang menyangkut nilai
ekonomis, lingkungan sosial dan teknis dalam mutu produk dan waktu produksi.
6) Perilaku manusia dalam melakukan interaksi pada prinsipnya akan selalu
melakukan proses penilaian perilaku-perilaku alternatif.
7) Pilihan tindakan petani selalu mencerminkan “biaya (cost)” dan “imbalan (reward)
profit” yang diharapkan, sedangkan resiko finansial (nilai uang) akan didorong
menjadi resiko sosial dalam bentuk gotong royong kelompok.
Langkah kedua adalah bisa menjawab pertanyaan mendasar petani pedesaan
“Mengapa membentuk kelompok ?” Apakah untuk memenuhi :
1) Kebutuhan sosial (social needs).
2) Kebutuhan keamanan (security needs).
3) Kebutuhan penghargaan (esteem needs).
4) Kedekatan (proximity).
5) Ketertarikan (attraction).
6) Manfaat secara ekonomis (economic benefits).
Langkah Ketiga adalah mempertegas tujuan penumbuhan kelompok (group
goals) dan target output membentuk kelompok, seperti :
1. Kejelasan tujuan membentuk kelompok, memperjelas arah, sasaran dan kegiatan
usaha berkelompok.
2. Struktur organisasi kelompok sesuai dengan tujuan berkelompok.
3. Norma dan sangsi bagi pengurus dan anggota yang tidak mentaati hasil
musyawarah.
4. Agenda kegiatan kelompok jelas dan terukur termasuk aturan bagi hasil antara
pengurus dan anggota.
5. Memberikan dorongan kepada anggota dapat berfungsi sesuai tugas dan tanggung
jawab kepada pengurus dan anggota berdasarkan musyawarah.
13
6. Semua anggota dan pengurus memperoleh nilai benefit (manfaat: teknis produksi
dan produktivitas, ekonomis, dan kelembagaan sosial).
Langkah ke empat adalah menegaskan posisi keberdayaan kelompok akan
terbangun dari landasan cakupan/ruang lingkup yang berkaitan dengan fungsi dan
manfaat kelompok yang diharapkan oleh semua calon anggota serta kebutuhan
prioritas utama memanfaatkan peluang kegiatan sektor riil dalam usahatani on farm,
meliputi:
1) Modal sosial merupakan aspek utama dari organisasi sosial, meliputi : Kepercayaan
(trust); Norma (norms); dan Jaringan-jaringan (networks) operasional kerjasama
antar anggota (Putnam, 1993; dalam Wasito, 2004).
2) Membedakan tujuan menumbuhkan organisasi lokal kelompok dengan tim; kalau
Kelompok: dua atau lebih individu yang berinteraksi antara satu dengan yang
lainnya untuk mencapai tujuan bersama, sedangkan Tim: merupakan kelompok
yang sudah matang dengan tingkat saling ketergantungan anggota dan motivasi
yang tinggi untuk mencapai tujuan bersama.
3) Prinsip komunikasi dalam organisasi kelompok berorientasi bobot output akhir
dengan dasar pertimbangan, anatar lain: (a) nilai peluang kebutuhan yang dapat
dipenuhi; (b) nilai komersial; (c) nilai tambah; dan (d) tidak bertentangan dengan
norma yang berlaku dilingkungannya.
Dalam konteks pemberdayaan kelembagaan kelompok usahatani agribisnis
skala kecil harus jelas organisasi, aturan, norma dan tata nilai yang berlaku dalam
suatu komunitas masyarakat setempat yang mengarah pada pekerjaan yang dilakukan
secara kolektif dan berskala agar tercapai efisiensi dan efektivitas kerja yang relatif
tinggi yang hasilnya memberikan nilai benefit bagi semua anggota pelaku usaha.
Tindakan untuk memenuhi ambisi, semangat dan produktivitas seseorang akan selalu
bergerak untuk mendapatkan kesempatan yang lebih besar dalam penguasaan lahan
yang memberikan nilai kembali ekonomi yang maksimal tanpa mengurangi nilai
keuntungan non-ekonomi (Barlowe, 1979).
Langkah ke lima adalah membentuk struktur organisasi sederhana, contoh
Sifat kelompok (Ivanchevich & Matteson, 2003: dalam Reni Rosari, 2005) sebagai
berikut:
1) Ukuran (size) –harus ada dua atau lebih individu
14
2) Mereka mesti saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya serta harus ada
pertukaran atau komunikasi diantara individu-individu yang ada.
3) Adanya usaha untuk mencapai tujuan yang sama atau tujuan bersama.
4) Struktur organisasi stabil.
5) Adanya persamaan persepsi diri anggota menjadi satu kelompok.
Norma kelompok yang dikembangkan diharapkan dapat berfungsi, untuk :
1) Standar norma yang berlaku sama bagi semua anggota, dan memiliki standar
karakteristik yang penting bagi optimasi kinerja anggota kelompok tersebut.
2) Dibentuk hanya untuk sesuatu yang memiliki kejelasan bagi kelompok.
3) Mengatur struktur organisasi yang harus ditaati oleh anggota kelompok
berdasarkan mufakat, meliputi komponen kegiatan, pembagian tugas pengurus,
dan menetapkan wewenang masing-masing.
Langkah ke enam adalah perilaku aktivitas ekonomi operasional anggota dan
pengurus kelompok dalam tim kerja usahatani bersama berskala agribisnis skala kecil,
antara lain:
1) Mengidentifikasi elemen-elemen dalam proses pembentukan dan pengembangan
kelompok.
2) Membandingkan kelompok formal dan informal.
MANAGER
BENDAHARA SEKRETARIS
SEKSI JASA SAPRODI SEKSI PRODUKSI SEKSI PEMASARAN
ANGGOTA
15
3) Mendiskusikan alasan mengapa membentuk organisasi kelompok.
4) Menjelaskan langkah-langkah pembentukan kelompok.
5) Mengidentifikasikan beberapa karakteristik penting dari kelompok.
6) Mendiskusikan kriteria yang relevan untuk efektivitas fungsi kelompok.
Langkah ke tujuh adalah menjaga dan menstabilkan dinamika kelompok
dalam operasional rencana kerja/rencana usaha bersama secara mandiri dengan
tujuan:
1) mengatur pembentukan dan pengembangan kelembagaan kelompok, elemenelemen
dari struktur kelompok, dan keterkaitan antara kelompok dengan individu,
dengan kelompok lain, dan dengan organisasi.
2) mengefektifkan fungsi kelompok tergantung pada kekompakan anggota kelompok
dalam bekerjasama menggunakan input yang tersedia dalam upaya untuk
menyelesaikan tugas penting.
Langkah ke delapan adalah menetapkan keluaran yang diharapkan,
misalnya:
1) Arah tujuan terbentuknya kelompok/gapoktan pedesaan pertanian.
2) Manajemen pengelolaan usaha agribisnis skala kecil dalam wadah kelompok.
3) Sangsi bagi semua fihak yang tidak mentaati kesepakatan.
4) Struktur organisasi dan terpilihnya pengurus dan jenis usaha berkelompok.
5) Aturan bagi hasil antara pengurus dan anggota.
Penyebab :
1) Kekurangan SDM penyuluh tanaman pangan yang terampil.
2) Kekurangan bahan informasi teknologi dan kelembagaan agribisnis ubi jalar hulu –
hilir.
Akibat :
Intensitas dan kualitas transfer teknologi dan kelembagaan dan agribisnis ubi jalar
hulu–hilir masih rendah.
Solusi :
1. Peningkatan kemampuan SDM penyuluh dan petani.
2. Penyediaan bahan informasi teknologi dan kelembagaan komoditas ubi jalar.
16
3.2.2. Kelembagaan Usaha Lainnya Yang Perlu Akselerasi
A. Kelembagaan Agro-input pertanian
Akselerasi kelembagaan sarana pertanian yang sangat diperlukan petani, antara
lain: (a) penangkar benih ubi jalar dengan varietas unggul baru terpilih dan sesuai
permintaan dan mutu standar pasar; (b) pelayanan sarana produksi, seperti: pupuk,
pestisida.
Perlu ditumbuhkan unit pembenihan komoditas ubi jalar oleh organisasi petani
(pengurus kelompoktani atau Gapoktan/UKM) dengan dukungan pemerintah yang
mengcover wilayah cluster produksi ekonomi perdesaan dalam satu kesatuan wilayah
pembangunan Agribisnis Kabupaten Sumedang agar pada saat diperlukan dapat
dengan mudah diakses petani untuk melakukan usahatani produksi ubi jalar
berkelanjutan.
a. Sistem Perbenihan
Dalam membangun sistem perbenihan di suatu Wilayah maupun antar wilayah
sentra produksi ubi jalar perlu dilakukan penggalian dan pendalaman terhadap
seluruh sistem perbenihan ubi jalar dalam tatanan agribisnis ubi jalar hulu-hilir
yang terbangun dari tindakan para pelaku usaha secara partisipatif, agroekologi
serta jaringannya untuk mewujudkan jaringan benih antar lapang antar musim
(JABALSIM) .
Teknik penelusuran urutan masalah berangkat dari standar permintaan pasar yang
terukur diselaraskan dengan kemampuan menyediakan kualitas benih bermutu
yang diukur dari kesenjangannya. Berdasarkan hasil survai primer dengan studi
kasus terungkap bahwa faktor penyebab, antara lain:
1. Benih ubi jalar unggul yang sesuai permintaan pasar bagi petani sulit
mendapatkan di tingkat lapangan.
2. Kebutuhan benih ubi jalar sangat urgen bagi petani budidaya ubi jalar sebagai
jaminan untuk mencapai produktivitas dan mutu yang baik.
3. Sentra produksi ubi jalar umumnya kurang tersedia lembaga penyedia benih
yang berkualitas unggul yang dekat domisili masyarakat ubi jalar setempat.
4. Benih yang dipergunakan petani umumnya berasal dari benih dengan varietas
yang tidak jelas.
5. Petani menggunakan benih bukan varietas unggul sehingga produktivitas
rendah.
17
Solusi alternatif
Kelembagaan untuk menjamin ketersediaan dan kualitas benih, perlu dibangun
sistem perbenihan yang dapat memfasilitasi para petani di Wilayah Pembangunan
Kabupaten Sumedang, maka kelembagaan perbenihan dikelola oleh organisasi
petani berbasis ekonomi pedesaan, dengan dukungan lembaga pembina terkait,
seperti: Bidang Sarana & prasarana Pertanian serta Bidang Tanaman pangan Dinas
Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab. Sumedang. Institusi pembinaan
pemberdayaan SDM petani adalah Kantor Badan Ketahanan Pangan dan
Penyuluhan Pertanian Kab. Sumedang. Untuk itu perlu ditumbuhkan kelembagaan
perbenihan yang dikelola organisasi petani, dengan dukungan lembaga terkait.
Sarana :
1. Lokasi perbenihan kelompoktani strategis dan mudah diakses sesuai kebutuhan
petani ubi jalar lain dalam satu agregat sentra produksi Wilayah Pembangunan
agribisnis khususnya pada claster produksi ekonomi kerakyatan.
2. Penanaman varietas unggul sebagai sumber benih tingkat Wilayah
Pembangunan Kabupaten Sumedang.
3. Lokasi /tempat perbenihan sesuai kebutuhan (strategis).
4. Penanaman benih varietas unggul sebagai sumber stok benih claster
kecamatan wilayah pembangunan agribisnis ubi jalar.
Pemberdayaan SDM pertanian:
Melatih SDM Dinas Pertanian khususnya dalam pengelola lembaga perbenihan
ubi jalar berskala kecil yang pengcover setiap claster produksi ekonomi kerakyatan
yang mengacu tata ruang wilayah pembangunan agribisnis Kab. Sumedang.
b. Pupuk
Berdasarkan hasil survai ketersedaan pupuk terungkap masalah di tingkat
petani bahwa faktor penyebabnya, antara lain :
1. Kelangkaan pupuk buatan di tingkat petani pada saat musim tanam/
pengolahan lahan dan jika ada harga pupuknya mahal.
2. Tingkat produktivitas ubi jalar rendah disebabkan oleh terbatasnya penguasaan
petani ubi jalar terhadap introduksi teknologi spesifik lokasi sesuai dayadukung
lahan, khususnya teknologi pemupukan dosis,volume dan waktu pemakaian
dikaitkan dangan umur tanaman.
18
3. Belum ada upaya alternatif penyediaan pupuk yang terencana dan terintegrasi
dengan jejarang pupuk oleh Divisi Distribusi Pupuk yang diatur oleh
pemerintah.
4. Kelembagaan tingkat gapoktan atau kelompok umumnya belum mampu
berfungsi dalam penyediaan sarana pertanian, seperti: pupuk an_organik dan
organik, pestisida & herbisida, dll.
5. Biasanya kebutuhan sarana tersebut telah difasilitasi oleh kios setempat secara
bisnis profesional.
6. Petani tidak memupuk dengan tujuan minimal input.
7. Produktivitas tanaman rendah.
Solusi alternatif
Kelembagaan untuk menjamin ketersediaan dan kualitas pupuk sesuai yang
diharapkan para petani adalah melakukan inisiasi menumbuhkan organisasi atau
seksi di bidang saprodi dalam organisasi kelompoktani yang sudah ada
mengembangkan jasa saprodi dengan modal awal dari anggota kelompok. Hal ini
bisa diawali dengan pembelian pupuk petani dilakukan bersama dengan pelaksana
langsung oleh seksi bidang jasa saprodi dan juga telah jelas kelembagaan aturan
bagi hasil atau nilai jasa per_kg pupuk. Modal finansial awal bisa dihimpun dari
para anggota atau kelembagaan bank mikro dengan bunga ringan dan sistem
pembayaran dapat diangsur dalam batas waktu akhir panen lunas bayar.
Sarana :
1. Menumbuhkan kelembagaan sarana
2. Membuat pupuk alternatif (kompos) di tingkat petani/kelompok
Pemberdayaan SDM pertanian:
1. Melatih SDM sebagai pengelola lembaga saprodi berskala kecil berdasarkan tata
ruang wilayah pembangunan agribisnis ubi jalar Kab. Sumedang khususnya
pada claster produksi ekonomi kerakyatan.
2. Melatih SDM sebagai pengelola lembaga unit saprodi berskala kecil.
B. Akselerasi Kelembagaan Pasca Panen Dan Pengolahan
Penyebab
Belum ada penanganan pasca panen dan pengolahan di tingkat kelompoktani atau
gapoktan, usaha pasca panen ubi jalar yang ada umumnya dilakukan secara
individual.
19
Akibat
Petani tidak memperoleh nilai tambah optimal dengan keterbatasan modal.
Solusinya
Kelembagaan:
1. Penumbuhan lembaga pasca panen/pengolahan di tingkat petani/kelompoktani
2. Kelembagaan pasca panen ini berperan dalam menangani, mengubah atau
mengolah produk ubi jalar baik produk secara primer maupun sekunder.
3. Lembaga pengolahan ini juga mempunyai peran dalam meningkatkan nilai
tambah pendapatan bagi petani.
4. Pembentukan kelembagaan pasca panen/pengolahan di tingkat kelompoktani
bertujuan untuk memudahkan dan memberi nilai tambah pada petani ubi jalar
sesuai bobot resiko melalui organisasi kelompoktani/Gapoktan.
Sarana:
Alat mesin pertanian (alsintan) pasca panen ubi jalar primer mulai alat potong, alat
penjemuran, alat perontok, alat pengering, alat penyimpanan seed treatment (benih
ubi jalar konsumsi).
Alat/perlengkapan pengolahan produk bahan baku utama ubi jalar menjadi berbagai
produk olahan (lihat pohon industri ubi jalar), baik sebagai alat utama maupun
pendukung.
Pemberdayaan SDM pertanian:
Pendidikan bagi petani ubi jalar melalui bimbingan atau pelatihan dalam kemasan
SL PTT ubi jalar yang diselenggaran dalam kurun waktu musim tanam, disamping
itu juga dilakukan display varietas unggul tanaman ubi jalar yang sesuai permintaan
pasar, magang, pelatihan kewirausahaan agribisnis ubi jalar skala kecil berdasarkan
peta kesesuaian lahan dan kelembagaan distribusi produk ubi jalar sampai ke
pelaku usaha industri pengolahan.
C. Akselerasi Kelembagaan Pemasaran
Penyebab
Petani tidak memiliki kelompok pemasaran
Akibat
1. Ketergantungan kepada tengkulak/bandar tinggi.
20
2. Petani tidak dapat menahan produk pada saat harga rendah karena faktor
kebutuhan dana segar dalam waktu pendek dan tidak mampu menahan produk
dalam teknologi penyimpanan yang berdampak penyusutan volume dan mutu
produk.
Solusi kelembagaan
Penumbuhan lembaga ekonomi pertanian pedesaan dalam wadah tingkat
kecamatan yang dapat memberi jaminan pinjaman pada saat harga komoditas ubi
jalar sedang rendah sistem resi gudang.
Kelembagaan pemasaran ini berperan penting dalam mengalirkan produk petani ke
pihak pembeli. Produk yang dijual petani saat ini masih dalam bentuk biji
basah/kering. Penjualan dilakukan secara individual kepada pengumpul lokal yang
ada di sekitar, karena petani tidak memiliki lembaga pemasaran dari fihak
kelompoktani.
Jika lembaga ini dapat ditumbuhkan oleh dan untuk petani yang terbangun
berdasarkan trust/saling percaya antar petani. Selanjutnya dapat dikembangkan
kelembagaan tersebut dalam konteks komitmen dalam mentaati perjanjian dengan
fihak ketiga/swasta berdasarkan msyawarah dan mufakat atas asas saling
menguntungkan sesuai kontribusi serta kesepakatan sistem net work kerjasama
dalam kontek jaringan kelembagaan pemasaran produk komoditas.
Berdasarkan hal tersebut di atas diharapkan petani secara berkelompok mampu
meningkatkan keberdayaan kelembagaan lengkap dengan tata niaga memasarkan
produknya.
D. Akselerasi Kelembagaan Jasa Pendukung Usahatani
Kemitraan yang terjadi antara pengusaha/mitra usaha dengan petani (secara
sosial) ditandai oleh dominannya konflik dan ketergantungan yang disebabkan cara
pembayaran, perlakuan mendikte, penentuan harga jual, dan keuntungan secara
sefihak yang dilakukan oleh pengusaha/mitra usaha, sehingga membuat kemitraan
menjadi melemah. Motif membesarnya porsi mencari keuntungan pengusaha secara
sefihak, di sisi lain merugikan petani.
Sejalan dengan diberlakukannya otonomi daerah, reformasi kelembagaan
pedesaan dapat dijadikan agenda penting untuk mengembalikan kekuatan ekonomi
21
pedesaan. Pranadji (2002) menyarankan bahwa dalam rangka meningkatkan
dayasaing keberdayaan kelembagaan dan sistem perekonomian (ubi jalar) di pedesaan
sampai di tingkat komunitas pedesaan. Oleh karena itu, makna reformasi dalam
bingkai otonomi daerah mencakup pengertian pemberian kesempatan dan
kepercayaan (trust) kepada keberdayaan kelembagaan organisasi lokal untuk
meningkatkan kapasitas kecerdasan dan efisiensi di bidang pengelolaan sumberdaya
yang menggairahkan perekonomian perdesaan.
Reformasi organisasi ekonomi pedesaan berbasis pengembangan jaringan
keberdayaan kelembagaan organisasi agribisnis ubi jalar perlu 4 syarat, yaitu:
1. Kekuatan lembaga penunjang yang setiap saat siap melayani keperluan
kegiatan aktivitas perekonomian pertanian perdesaan. Dalam lembaga tersebut
tercakup pula sistem keuangan dan perkreditan mikro serta pelayanan informasi
pemasaran hasil dan inovasi untuk mengembangkan dayasaing ekonomi (ubi
jalar).
2. Prasarana ekonomi dan jaringan telekomunikasi yang memadai di pedesaan
sehingga dinamika dan perkembangan kegiatan perekonomian berbasis komoditas
spesifik ubi jalar bisa seirama dengan tututan kebutuhan pasar.
3. Peraturan pemerintah yang merupakan representasi kepentingan
masyarakat banyak (membatasi praktek monopoli).
4. Sistem penegakkan hukum yang jelas dan tegas, sehingga konflik yang
terjadi antara pelaku ekonomi di pedesaan bisa diselesaikan.
Organisasi (dalam konteks manajemen) merupakan bagian dari konsep
keberdayaan kelembagaan mengarah pada pekerjaan yang dilakukan secara kolektif
dan berskala, sehingga setiap pelaku ekonomi yang terorganisir mempunyai peran
yang jelas agar tercapai efisiensi dan efektivitas kerja yang relatif tinggi.
a. Kelembagaan Pembina
Dalam rangka penumbuhan kelembagaan organisasi petani pada usaha
agribisnis skala kecil spesifik lokasi dengan melibatkan keluarga petaninya.
berfungsinya peran lembaga pendukung (Pembina) sangat menentukan di
wilayah kecamatan terutama sentra produksi dalam rangka menginisiasikan
dengan kelembagaan pemasaran yang sudah eksis atau membuka jaringan
pemasaran yang baru dalam upaya memperluas wilayah pemasaran produk
organisasi kelompoktani.
22
Langkahnya adalah menginventarisasi kebutuhan benih ubi jalar secara berkala
di wilayah pembangunan agribisnis Kabupaten Sumedang, antara lain: (1)
membangun kebun benih, baik pemerintah maupun kelompoktani; (2)
menerapkan teknologi dikelola secara profesional oleh tim ahli dan juga sesuai
permintaan mutu pasar; (3) Melatih tenaga untuk menangani pembenihan; dan
(4) Pembenihan harus mendapat pengawalan dari tenaga ahli dan
memeperoleh sertifikasi jaminan mutu.
Peran pembinaan dilaksanakan oleh lembaga yang kompeten secara terpadu
antar berbagai institusi, seperti Dinas Pertanian tanaman pangan dan
hortikultura, Dinas Peternakan dan Perikanan, Dinas Perindustrian dan
Perdagangan, Dinas Koperasi dan UKM, dan Badan Ketahanan Pangan dan
Penyuluhan Pertanian. Disampin itu juga perlu didukung oleh lembaga
pengkajian dan riset yang mandatnya focus pada pemberdayaan masyarakat
pertanian pedesaan yang mampu berfungsi sebagai fasilitator dalam konteks:
a). Pembinaan organisasi petani dan keterampilan SDM petani
b). Memberikan penyuluhan teknologi inovasi dan kelembagaan yang berkaitan
dengan budidaya, peningkatan produktivitas, dan optimalisasi lahan
c). Membantu petani ubi jalar dalam mengakses permodalan.
a). Kelembagaan Jasa Transportasi; Kelembagaan ini sangat penting dalam
rangka menjembatani kesenjangan-kesenjangan yang terjadi dalam sistem
usahatani dalam sub_sistem agribisnis on farm. Organisasi kelompoktani juga
memerlukan lembaga jasa transportasi untuk meningkatkan fungsi produksi
dalam tatanan sistem dan usaha agribisnis ubi jalar secara utuh. Oleh karena
itu organisasi jasa transportasi ini perlu ditumbuhkan dengan baik dalam bentuk
kelompok/tim dalam satu kesatuan manajemen gabungan kelompoktani
(Gapoktan)/UKM per claster produksi ekonomi pertanian perdesaan.
b). Kelembagaan Jasa Permodalan; Untuk mengembangkan dan
mengoperasikan usaha agribisnis diperlukan dukungan permodalan pengelolaan
lokal pedesaan yang tersedia dalam bentuk cash/uang kontan untuk membiayai
seluruh aktivitas sistem dan usaha agribisnis ubi jalar skala kecil. Sistem
permodalan ini perlu dibangun baik secara mandiri (swadaya) maupun
kerjasama dengan lembaga kredit mikro pedesaan.
23
c). Kelembagaan Ekonomi Petani; Kelembagaan ekonomi petani yang
dianggap dapat memfasilitasi petani adalah kelembagaan ekonomi yang
berorientasi ekonomi kerakyatan, seperti: penumbuhan koperasi kelompoktani
/gapoktan/LKM.
d). Kelembagaan Informasi & Teknologi; Informasi yang dibutuhkan petani
adalah informasi yang terkait dengan sistem sarana, teknologi budidaya, pasca
panen/pengolahan, pemasaran hasil dan manajemen (pemeliharaan,
pengendalian hama dan penyakit), fasilitasi kemudahan memperoleh modal dari
lembaga permodalan mikro. Tugas ini dilayani prioritas oleh Dinas Pertanian
Tanaman Pangan dan Hortikultura; dan didukung instansi lingkup pemda
terkait seperti: kantor Cabang Dinas Pertanian dan Kantor Balai Penyuluhan
Pertaniain (BPP).
3.3. Civil Engineering (agriculture)
3.3.1. Informasi Umum
Secara hiraki data spasial potensi sumberdaya lahan dapat dibagi 3, yaitu: (1)
tingkat eksplorasi (skala 1:1.000.000), berguna untuk perencanaan pertanian di tingkat
nasional sebagai penetapan komoditas unggulan daerah; (2) tingkat tinjau/
reconnaissance dan tinjau mendalam (skala 1:250.000), dapat dimanfaatkan untuk
perencanaan pertanian di tingkat propinsi baik mengetahui luasan maupun sebaran
lahan yang sesuai komoditas tertentu sebagai arahan; dan (3) tingkat semi detail
dan detail (skala 1: 50.000 atau >50.000), dapat digunakan untuk perencanaan
operasional pertanian di tingkat kabupaten atau kecamatan.
Data spasial potensi sumberdaya lahan yang telah dimiliki dan tersedia di Dinas
Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Sumedang telah memiliki
variasi dalam tingkat informasi atau skala peta, luasan dan cakupan wilayah yang telah
disurvey dan dipetakan sejak tahun 1999 oleh BPTP Jawa Barat pada skala 1: 100.000
dan skala 1: 50.000 yang diprakarsai oleh Dinas pertanian Kabupaten Sumedang tahun
2005-2006 bekerjasama dengan BPTP Jawa Barat.
Penilaian tingkat kesesuaian lahan menggunakan beberapa karakteristik lahan,
seperti: jenis tanah, bahan induk, fisiografi, bentuk wilayah, iklim dan ketinggian
tempat. Lahan yang sesuai untuk budidaya dikelompokkan berdasarkan kelompok
24
tanaman untuk lahan basah dan lahan kering (tanaman semusim dan tanaman
tahunan/perkebunan).
Pengelompokkan lahan tersebut secara garis besar ditentukan oleh bentuk
wilayah dan kelas kelerengan. Khusus komoditas tanaman pangan diarahkan pada
lahan dengan bentuk wilayah datar-bergelombang (lereng <15%) dan tanaman
tahunan/perkebunan pada ahan bergelombang-berbukit (lereng (15-30%). Fakta di
lapangan banyak lahan datar-bergelombang digunakan untuk tanaman tahunan/
perkebunan, sehingga tanaman pangan (tegalan) tersisihkan dan banyak diusahakan
di ahan berbukit hingga bergunung, ahkan di tanam dengan cara membuka lahan di
kawasan hutan (hutan lindung).
• Tindakan Konservasi
Rekomendasi teknik konservasi tanah harus memperhatikan kondisi biofisik
lahan seperti lereng (topografi) dan kedalaman tanah (solum). Faktor-faktor lainnya
harus dipertimbangkan dalam memilih teknik konservasi tanah yang diinginkan. Faktorfaktor
tersebut adalah jenis tanah, erodibilitas, kemasaman tanah/kandungan
aluminium, tekstur dan struktur tanah, currah hujan dan intensitasnya.
Diantara teknik konservasi dan air yang direkomendasikan dalam pengelolaan
lahan kering berlereng untuk kegiatan pertanian, adalah :
a). Kemiringan lahan 0-15%
Pada lahan dengan kemiringan 0-15% tanaman pangan masih dominan
(Tabel 1.) Teknik konservasi tanah yang direkomendasikan adalah sistem
pertanaman lorong (alley cropping) atau strip rumput.
Tabel 1. Proporsi tanaman semusim (tanaman pangan) dan tanaman tahunan
berdasarkan kemiringan lahan.
Kemiringan
(%)
Solum dalam (>100 cm) Solum dangkal (<100 cm)
Tanaman
pangan (%)
Tanaman
tahunan (%)
Tanaman
pangan (%)
Tanaman
tahunan (%)
< 5
15-25
25-40
>40
75
50
25
0
25
50
75
100
50
25
0
0
50
75
100
100
Tanaman pangan di tanam pada lorong diantara barisan tanaman pagar
(hedgerow) atau strip rumput. Tanaman pagar yang dapat digunakan adalah dari
jenis legum yang menghasilkan bahan organik dalam jumlah banyak, seperti
25
lamtoro (Leucaena sp), gliricidia, kaliandra dan flemingia congesta. Jarak antara
dua tanaman pagar atau strip tergantung kemiringan lahan (sebagai pedoman
dapat dilihat pada Tabel 2).
Tabel 2. Jarak antara dua tanaman pagar/strip atau lebar lorong yang efektif
berdasarkan kemiringan lahan
Kemiringan lahan (%) Jarak dua tanaman pagar/strip minimum (m)
< 3
3-8
8-15
17
9
6
Tanaman pagar atau rumput dipangkas secara periodik, biasanya dimulai
setelah tumbuh 6 bulan, setiap 1-2 bulan tergantung keadaan pertumbuhannya.
Pangkasan tanaman pagar digunakan sebagai mulsa, sedangkan tanaman rumput
diberikan sebagai pakan ternak. Untuk daerah dengan ternak sebagai komoditas
utama, tanaman pagar dan strip rumput dapat diterapkan secara selang-seling.
Penggunaan pangkasan bahan organik sebagai mulsa pada permukaan
tanah dapat mencegah erosi dan meningkatkan kesuburan tanah serta
memelihara kelembaban dan suhu tanah. Aplikasi mulsa dapat meningkatkan
kesuburan tanah karena dapat menambah kandungan C-organik tanah.
Penggunaan mulsa pada lahan kering beriklim kering akan sangat bermanfaat
karena dapat mempertahankan kelembaban tanah (soil moisture)
Dalam sistem pertanaman lorong atau strip rumput, pengolahan tanah
konservasi adalah cara efektif dan murah dalam mengurangi laju erosi.
Pengolahan tanah konservasi dapat berupa pengolahan tanah minimum (minimum
tillage) dan tanpa pengolahan tanah (no tillage) Dan lebih disarankan dalam
usahatani lahan kering berlereng. Sistem tanpa olah tanah berpotensi mengurangi
kehilangan tanah sampai 90%
b). Kemiringan lahan 15-25%
Pada kemiringan lahan 15-25% proporsi kegiatan tanaman pangan harus
sudah dikurangi dan proporsi tanaman tahunan lebih banyak. Tanaman tahunan
yang dapat direkomendasikan adalah dari jenis tanaman buah-buahan atau
tanaman lainnya yang sesuai dengan daerah tersebut. Tanaman tahunan ditanam
dengan jarak 7×10 m, mengikut kontur. Untuk perawatan perlu pemberian mulsa
dari sisa-sisa tanaman khususnya untuk tanaman muda (umur < 2 tahun).
26
Teknik konservasi tanah yang dianjurkan pada kemiringan 15–25% adalah
sistem pertanaman lorong atau tanaman pagar dengan jarak antara dua tanaman
pagar adalah 6–10 meter (perbedaan tinggi 1,5 meter) atau teras gulud, jarak
antara dua teras gulud sama seperti untuk tanaman pagar. Teras gulud adalah
barisan guludan yang dilengkapi dengan rumput penguat gulud dan saluran air
dibagian atasnya. Saluran air ini berfungsi mengalirkan air dari bidang olah ke
saluran pembuangan air (SPA). Pada kemiringan lahan 15-25% penggunaan mulsa
sangat dianjurkan.
3.3.2. Informasi khusus Civil Engineering Ubi Jalar (Ipomoca batatas)
Hampir setiap jenis tanah pertanian cocok untuk dibudidayakan ubi jalar. Jenis
tanah yang paling baik adalah pasir berlempung, gembur, banyak mengandung bahan
organik, aerasi serta drainasenya baik. Penanaman ubi jalar pada tanah kering dan
pecah-pecah sering menyebabkan ubi jalar mudah terserang hama penggerek (Cylas
sp.). Sebaliknya, bila di tanam pada tanah yang berdrainase jelek, dapat menyebabkan
pertumbuhan tanaman ubi jalar kerdil, ubi mudah busuk, kadar serat tinggi, dan
bentuk ubi benjol.
Pertumbuhan ubi jalar sangat dipengaruhi oleh tersedianya air di dalam tanah.
Pertumbuhan sangat terlambat bila air di dalam tanah berlebih atau kurang,
pertumbuhan optimal akan diperoleh bila air tanah dalam keadaan cukup (kapasitas
lapang yang dikehendaki setara dengan pemberian air 20-25 mm per minggu). Ubi
jalar masih dapat tumbuh dan memberikan hasil pada pH tanah 4,5-7,5 sedangkan
untuk mendapat pertumbuhan optimal diperlukan pH antara 5.5-6.5.
Pengaruh suhu terhadap pertumbuhan cukup besar, demikian juga variasi lama
penyinaran matahari. Pada suhu rendah + 100C daun akan mengering dan mati. Pada
suhu tinggi + 400C pertumbuhan sangat lambat. Suhu optimal yang diperlukan untuk
ubi jalar antara 21-270C. Panjang penyinaran matahari berpengaruh terhadap
pertumbuhan ubi jalar, apabila malam pendek (kurang dari 11 jam per hari),
pertumbuhan batang dan daun cenderung lebih cepat daripada pertumbuhan ubi.
Oleh karena itu ubi jalar menghendaki perbandingan yang sama antara siang dan
malam untuk mendapatkan pertumbuhan dan hasil yang baik.
27
• Iklim
Temperatur berkisar antara 18 sampai 35º C. yang Optimum berkisar antara
400 sampai 4.000 mm selama masa pertumbuhan. Tanaman tidak menghendaki
terjadi genangan.
• Tanah
Persyaratnan kebutuhan tanah untuk ubi jalar, adalah: Kedalaman tanah
minimum 30 cm dan yang optimum >75 cm, konsistensi gembur (lembab),
permeabilitas sedang, drainase agak cepat sampai baik, tingkat kesuburan sedang,
tekstur lempung berpasir sampai liat. Reaksi tanah (pH) antara 4,5–8,5 yang optimum
5,2–8,2.
Penutunan hasil bisa terjadi, apabila salinitas dengan daya hantar listrik (DHL)
mencapai >2 ds/m. Penuruan hasil bisa mencapai 50% apabila DHL mencapai 6 DS/m
atau ESP mencapai 20%, dan tanaman tidak mampu berproduksi (penurunan hasil
± 100%, jika DHL mencapai 11 ds/m.
Kehilangan (kg/ha/sklus pertumbuhan ) untuk produksi tinggi yaitu :
N = 90
P2O5 = 20
K20 = 120
• Hasil
Produksi ubi jalar yang diusahakan pada berbagai kondisi lahan dan manajemen
sebagai berikut :
􀂙 Tadah hujan
Komersial : 25–30 ton umbi/ha
Rata-rata Petani : 5–30 ton umbi/ha
􀂙 Irigasi
Komersial : 25–35 ton umbi/ha
Rata-rata petani : 12–18 ton umbi/ha
28
Tabel. 3. Persyaratan Penggunaan Lahan Ubi Jalar (Ipomoea batatas)
Persyarat
Penggunaan/Karakteristik
Lahan
KelasKesesuaian Lahan
S1 S2 S3 N
Temperatur (tc)
Temperatur rereta (0c)
20 –25 25 – 30
20 – 22
30 – 35
18 – 20
< 35
>18
Ketersediaan Air (wa)
Curah hujan
Lama bulan kering (bln)
Kelembaban (%)
800 – 1500
> 3
600 – 80
1500 – 2500
3 – 4
75 – 85
400 – 1600
2500 – 4000
3– 6
> 85
< 400
> 4000
< 6
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Baik, sampai
agak
terhambat
Agak cepat terhambat
Sangat
terhambat
cepat
Mwedia perakaran (rc)
Tekstur
h, ah
s
\ak
k
Bahan kasar (0/0) < 15 15 – 35 35 –55 > 55
Kedalaman tanah (cm) > 75 50 – 75 20 – 50 < 20
Gambut :
Ketebalan tanah (cm)
+ dengan sisipan/Pengkayaan
Kematangan
< 60
< 140
saprik
60 –140
140 –200
saprik hemik
+
140 – 200
200 – 400
hemik +
> 200
> 400
fiblrik
Retensi hara (nr)
KTK liat (cmol)
> 16
< 16
Kejenuhan basa (%) > 35 20 – 35 < 20
PH H20
5,2 – 8,2
4,8 – 5,2
8,2 – 8,4
< 4,8
>8,4
C – organik (%) > 2 1 –2 < 1
Toksisitas (xc)
Salinitas (ds/m)
< 3
3 – 6
6 – 10
> 10
Sodisitas (xn)
Alkalinitas/ESP (%)
< 15
15 – 20
20 – 25
> 25
Bahaya sulfidik (xs)
Kedalaman sulfidik (cm)
> 100
75 – 100
40 – 75
> 40
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
< 8
sr
8 – 16
r – sd
16 – 30
b
> 30
sb
Bahaya banjir (fh)
Genangan
F0
-
F1
> F2
Penyiapan Lahan (lp)
Batuan di Permukaan (%)
Singkapn batuan
< 5
< 5
5 – 15
5 – 15
15 – 40
15 – 25
> 40
> 25
Keterangan :
Tekstur h = halus ; ah = agak halus; s = sedang; ak = agak kasar, + = gambut dengan sisipan/pengkayaan bahan mineral bahaya erosi sr =
sangat ringan; r = ringan; sd = sedang; b = berat; sb = sangat berat.
A. Teknik pengelolaan dan konservasi tanah
Kelangkaan air merupakan faktor pembatas utama dalam pengelolaan tanaman
di lahan kering. Umumnya teknologi pengelolaan lahan di kawasan ini dihadapkan
29
pada berbagai kendala antara lain : kemiringan lereng relative terjal, solum tanah
dangkal, tingkat erosi dan aliran permukaan tinggi, rendahnya daya sangga air dan
lengas tanah, serta bahaya kekeringan di musim kemarau. Oleh karena itu embung
pertanian atau tandon air (small farm water reservoir) sebagai suatu wadah atau
kolam penampung air serbaguna berukuran kecil atau sedang di lahan kering yang
berfungsi untuk menampung kelebihan air hujan dan air aliran permukaan (run off)
yang melimpah di musim penghujan, untuk dimanfaatkan mengairi tanaman pada
musim kemarau. Embung sangat berguna pada lahan yang tidak memiliki air irigasi
atau tidak memiliki sumber air tanah.
a. Sistem Irigasi Kendi.
Irigasi kendi adalah salah satu bentuk pemberian air pada tanaman melalui zona
per-akaran tanaman. Irigasi kendi ini dapat menghemat penggunaan air dengan cara
mengatur melalui sifat porositas kendi. Secara operasional, kendi ditanam di bawah
tanah dekat dengan zona perakaran tanaman. Jumlah kendi yang ditanam tergantung
pada jenis tanaman, kebutuhan air tanaman, suplai air serta porositas tanah dan
kendi. Mekanisme pengisian air ke dalam kendi dilakukan dengan cara memasukkan air
yang berasal dari air hujan atau sumber air lainnya melalui selang air. Pada waktu
musim kering dimana ketersediaan air di dalam tanah berkurang, maka air dalam kendi
akan mengalir ke luar melalui pori-pori kendi sesuai dengan prinsip hukum
keseimbangan tekanan air di dalam tanah.
b. Sistem Irigasi Dam Parit (Channel Reservoir)
Sistem irigasi dam parit adalah sistem yang memanfaatkan aliran sungai dengan
cara memotong aliran sungai dan mengumpulkan air dari aliran sungai tersebut untuk
didistribusikan ke saluran irigasi yang ada. Dengan sistem ini aliran permukaan dapat
dikurangi sehingga dapat digunakan sebagai cara untuk penanggulangan banjir.
Disamping itu sistem ini dapat mengurangi sedimentasi dan pendangkalan sungai
akibat sedimentasi karena berkurangnya laju aliran permukaan, dan meningkatkan
permukaan air tanah. Sistem ini dikembangkan oleh Pusat Penelitian Tanah dan
Agroklimat Badan Litbang Pertanian.
B. Tujuan
Pembuatan embung bertujuan untuk :
1. Menjamin tersedianya air pada saat akhir musim hujan sampai berakhirnya musim
kemarau;
30
2. Meningkatkan produksi tanaman, produktivitas lahan, intensitas tanam, maupun
pendapatan petani di kawasan lahan kering;
3. Membuat sibuk petani di daerah hilir sepanjang tahun, agar tidak menebang pohonpohonan
di daerah hulu, dengan demikian program pelestarian hutan, tanah, dan
air di daerah aliran sungai dapat dipertahankan keberlanjutannya;
4. Dapat menampung air hujan yang biasanya menyebabkan banjir di daerah hilir;
5. Mengaktifkan tenaga kerja pada musim kemarau sehingga mengurangi urbanisasi
dari desa ke kota;
6. Memperbesar “recharge” atau pengisian kembali air tanah.
C. Manfaat Embung
a. Untuk Mengairi Tanaman
Penggunaan air embung dilakukan seefisien dan seefektif mungkin, dengan cara
menggunakan ember kemudian disiramkan menggunakan “omplong” di tiap-tiap
pangkal tanaman utama (palawija) dengan frekuensi seminggu sekali tergantung
kelengasan tanahnya. Dengan adanya embung dapat dijamin ketersediaan airnya,
sehingga intensitas tanam dapat ditingkatkan.
b. Kolam Pemeliharaan Ikan
Pada musim hujan sampai pertengahan
kemarau, embung belum berfungsi penuh untuk
pengairan sehingga dapat dimanfaatkan untuk
menanam ikan. Jenis ikan yang dapat ditanam
antara lain mujair, gurame, mas, tawes, dan lele.
Pakan ikannya dapat berupa dedak, sisa makanan (sampah dapur) atau pelet.
c. Keperluan Minum Ternak
Di musim kemarau, air untuk minum ternak sangat sulit didapat sehingga petani
sering mengangkut air dari jarak yang cukup jauh (± 3 – 5 km). Rata-rata kebutuhan
air untuk minum ternak ± 20 liter/hari, tergantung besarnya ternak. Dengan adanya
embung, kebutuhan air untuk minum ternak dapat terpenuhi.
31
d. Sumur
Dalam jangka panjang, dengan adanya embung, diharapkan muka air tanah akan
naik, sehingga dapat digunakan untuk pembuatan sumur sebagai sumber air bersih
untuk keperluan rumah tangga sehari-hari.
e. Pemanfaatan Tanggul
Tanggul di sekeliling embung dapat dimanfaatkan untuk menanam sayuran,
kacang-kacangan, pisang, atau pakan ternak. Sebaiknya dibuatkan pagar di sekeliling
embung yang dapat ditanami dengan tanaman merambat seperti pare, emes, labu,
rumput, dll. Sehingga disamping dapat menghasilkan buah, berfungsi juga sebagai
penangkal angin (wind break) sehingga dapat mengurangi evaporasi.
D. Bentuk Embung
1. Embung segi empat (20 x 20) m seperti di desa Bogorejo, Kecamatan sumber, Pati,
Jawa Tengah
2. Embung individu terletak seperti di Desa Megulung, Kecamatan Sumber, Pati, Jawa
Tengah.
3. Embung dengan konstruksi tembok yang cukup baik.
32
E. Syarat Pembuatan Embung
a. Lokasi
• Penempatan embung sebaiknya dekat dengan saluran air yang ada di
sekitarnya, supaya pada saat hujan, air di permukaan tanah mudah
dialirkan ke dalam embung.
• Lebih baik lagi kalau dibuat di dekat areal pertanaman yang akan diairi.
• Lokasinya memiliki daerah tangkapan hujan (catchment area).
Tata letak embung yang ideal dan neraca air di embung (luas
embung 1 – 2% dari luas areal pertanaman).
b. Kemiringan Lahan
• Sebaiknya embung dibuat pada areal pertanaman yang bergelombang
(undulating) dengan kemiringan antara (8 – 30%), agar limpasan air
permukaan dapat dengan mudah mengalir ke dalam embung, selain itu
agar mudah disalurkan ke petak-petak pertanaman secara gravitasi
khususnya untuk pertanaman yang berada di bawah embung.
• Pada lahan yang terlalu miring ( >30%), embung akan cepat penuh dengan
sedimen/endapan tanah karena proses erosi.
c. Tekstur Tanah
• Lapisan tanah pada kedalaman ± 2 m hendaknya kedap air untuk
mengurangi kehilangan air akibat per_lokasi. Umumnya dijumpai pada
tanah bertekstur liat (clay) atau pada tanah Ultisols yang mempunyai
horizon penciri lapisan kedap air/padas (argillic).
33
Tabel 4. Tekstur, permeabilitas, dan kesesuaian tanah untuk embung
Tekstur Permeabilitas Kesesuaian
untuk embung
Liatr
Liat berlempung
Lempung liat berdebu
Lempung berpasir halus
Lempung berpasir
Lambat
Lambat – Agak Lambat
Lambat – Agak Lambat
Sedang
Sedang – Agak cepat
Sesuai
Sesuai
Sesuai
Perlu modifikasi
Tidak sesuai
Sumber : Syamsiah I. et. al. 1994
• Pada tanah bertekstur ringan atau berpasir/berbatu yang porous tidak
dianjurkan pembuatan embung karena air akan cepat menghilang, bila
terpaksa hendak dibangun embung, disarankan memakai lapisan plastik atau
ditembok sekeliling embung untuk mengurangi kehilangan air melalui
perkolasi yang cukup besar.
F. Cara Pembuatan Embung
Ukuran
Embung dapat dibangun secara individu atau berkelompok, tergantung
keperluan dan luas areal pertanamannya.
• Untuk keperluan individu dengan rata-rata luas pertanaman (palawija) 0,5 ha,
embung yang diperlukan adalah panjang 10 m, lebar 5 m, dan kedalaman 2,5-3
m.
• Untuk keperluan kelompok yang dapat dimanfaatkan oleh sekitar 20 petani,
dengan luas pertanaman 15 – 30 ha, luas embung berkisar 250 m2 (25 x 10) m
sampai 500 m2 (25 x 20) m atau (50 x 10) m dengan kedalaman tetap 2,5 – 3
m. Lahan yang digunakan untuk embung kelompok dapat berupa lahan
bengkok, lahan yang dibeli bersama (kelompok tani), atau lahan yang
dihibahkan.
34
G. Daerah Tangkapan Hujan
Keberadaan air di embung dapat berasal dari curah hujan langsung dan air
limpasan permukaan. Dari hasil analisis hujan dan besarnya kehilangan air melalui
evaporasi maupun perkolasi, jumlah air yang tertampung dari curah hujan sekitar
30%, sedangkan dari limpasan permukaan sekitar 70% dari kapasitas tampung
embung.
Untuk mendapatkan air dari limpasan permukaan diperlukan daerah tangkapan
hujan (catchment area). Luas daerah tangkapan hujan tergantung pada koefisien
limpasan permukaan dan ukuran embung atau kapasitas tampung embung (Tabel 5).
Tabel 5. Kapasitas tampung embung, luas daerah tangkapan hujan, dan luas
pertanaman yang dapat diairi selama tiga bulan.
Ukuran
Embung
(m2)
Kapasitas
Tampung
(m3)
Luas Daerah
Tangkapan Hujan
(m2)
Luas Tanaman
yang dapat diairi*)
(ha)
50
100
150
200
250
300
350
400
450
500
75
181
260
362
440
543
620
724
800
905
207
518
725
1036
1243
1554
1761
2072
2279
2589
0.60
1.49
2.08
2.98
3.57
4.47
5.06
5.96
6.85
7.44
*) Tanaman yang diairi adalah Jagung dan Semangka biji (kuaci) dengan cara disiram di sekitar akarnya.
Sumber : Syamsiah I. et. al. 1994.
Keterangan : Stabilitas; Pada tanggul tersebut ditanami pohon-pohonan yang daunnya dapat
dijadikan pakan ternak; selain itu dapat ditanami tanaman buah-buahan, tanaman industri,
ataupun sayuran.
Saluran
pemasukan air
Arah
kemiringan
Lebar tanggul
(0,5-1 m)
Undakan
Saluran
pengeluaran air
Dasar
embung
35
H. Kebutuhan Tenaga Dan Biaya Pembuatan
• Embung dapat dibuat secara individu ataupun bersama-sama, tergantung
kemampuan petani.
• Penggalian tanah dilakukan dengan menggunakan tenaga manusia
menggunakan backhoe. Tanah ditimbun di sekitar galian agar terbentuk
tanggul.
• Keuntungan yang didapat dengan pembangunan dan pemanfaatan embung
sekitar Rp 1,3 juta/ha/tahun, yang diperoleh dari palawija, ikan, dan tanaman
di tanggul embung.
Tabel 6. Biaya pembuatan embung di Rembang, 1991/1992
Tipe embung Ukuran
(m2)
Jumlah
tenaga
Biaya (Rp)
Tenaga Bahan Total
Tanah biasa
Tembok keliling
Lapis plastik
Lapis kapur
150
150
150
150
30
150
32
31
90.000
315.000
96.000
84.000
-
455.555
34.000
43.000
90.000
770.000
130.000
127.000
Sumber : Syamsiah I. et. al. 1994
I. Teknik pengelolaan dan konservasi tanah untuk meningkatkan dan
melestarikan produktivitas tanah
a. Penggunaan pupuk organik untuk peningkatan produktivitas tanah pada
budidaya
b. Peningkatan produktivitas tanah melalui penerapan teknik pengolahan tanah
c. Pengolahan lahan melalui pemanfaatan guludan dan bahan organik pada
lahan pertanaman
d. Pengolahan tanah dan pengelolaan bahan organik untuk meningkatkan
produktivitas lahan terdegradasi.
e. Konservasi tanah dan air untuk meningkatkan kelembaban tanah di daerah
lahan kering beriklim basah.
f. Penggunaan strip lamtoro, rorak, mulsa dan pupuk kandang untuk
meningkatkan kelembaban tanah.
Penyebab utama terjadinya degradasi lahan kering di Kabupaten
Sumedang adalah erosi sebagai akibat curah hujan yang tinggi dan pengelolaan
lahan kering berlereng yang tidak memperhatikan aspek kelestarian
lingkungannya. Menurut Kurnia et al. (1986) bahwa kondisi lahan sebagian
besar wilayah Indonesia sangat potensial untuk terjadinya erosi tanah.
36
Kekritisan lahan dan kerusakan lingkungan seperti tersebut akan semakin
buruk karena petani lahan kering umumnya miskin, dan sulit mengimplementasikan
teknik-teknik konservasi tanah dan air, sehingga apabila masalah-masalah tersebut
tidak ditanggulangi secara terpadu dan terarah, maka produktivitas lahan-lahan
pertanian akan terus menurun. Padahal, hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik
konservasi tanah dengan gulud dan penggunaan bahan organik dari sistem
pertanaman lorong hanya memerlukan sedikit tenaga kerja dan biaya (Rachman et
al., 1989), efektif mengendalikan erosi (Sukmana, 1994) dan mampu meningkatkan
kadar air tanah (Sutrisno et al., 1996).
Rancangan Konservasi
37
Masalah erosi dan penurunan produktivitas tanah, untuk mengatasi
diperlukan tindakan konservasi dan pemulihan atau peningkatan kembali
produktivitas tanah tersebut. Namun teknik konservasi tanah yang diintroduksikan
sering tidak segera dapat dilaksanakan para petani, karena terbatasnya modal
usahatani, tidak memperoleh manfaat langsung dan sebagian dari lahan
usahataninya terpakai untuk keperluan konservasi tanah oleh karena itu perlu
disosialisasikan budaya konservasi lahan jangka memengah.
Pengolahan tanah adalah setiap manipulasi mekanik terhadap tanah untuk
menciptakan kondisi tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman (Hillel, 1980).
Soame Pedgin (1975) mengatakan bahwa perkembangan fisik tanah erat
hubungannya dengan pengolahan tanah. Tujuan utama pengolahan tanah adalah
untuk meningkatkan aerasi tanah, sehingga perkembangan akar di dalam tanah
lebih baik, dan menurunkan ketahanan tanah sehingga mudah ditembus akar
tanaman.
Menurut Arsyad (1989) bahwa tujuan pengolahan tanah untuk menjadikan
tanah gembur, mempermudah penyerapan air hujan, sehingga mengurangi aliran
permukaan akibat laju infiltrasi dan permeabilitas tanah meningkat. Selanjutnya
Arsyad (1989) menambahkan penjelasannya bahwa pengolahan tanah seperlunya
dan penerapan pergiliran dengan tanaman pupuk hijau merupakan contoh teknik
konservasi tanah dan air. Irianto et al. (1986) telah membuktikan bahwa
pengolahan tanah seperlunya yang disertai dengan penggunaan mulsa mampu
menahan erosi pada tanah Ultisol berlereng.
Pengendalian erosi tidak akan berhasil dengan baik dalam meningkatkan
produktivitas tanah, bila pengelolaan lahan-lahan pertanian tersebut termasuk
pengelolaan haranya belum dilakukan secara baik pula. Teknik pengolahan tanah
minimum dapat memperkecil kehilangan hara dari dalam tanah yang terangkut
aliran permukaan/erosi. Sedangkan pemberian bahan organik dan pupuk organik
serta pemupukan yang seimbang terbukti dapat meningkatkan produktivitas tanah
yang telah terdegradasi (Abdurachman et al., 1996; Sutrisno et al., 1996; Hafif et
al., dan Irianto et al., 1993). Selain itu upaya pengendalian aliran permukaan
dengan membuat teras gulud atau rorak pada lahan kering beriklim kering dapat
meningkatkan kelembaban tanah, sehingga akan memperpanjang masa tanam
(Haryono et al., 1998).
38
Pengaruh mulsa terhadap hasil tanaman akan terlihat manfaatnya dalam
jangka panjang. Mulsa sisa tanaman dapat mengurangi frekuensi pengolahan
tanah, yaitu setelah dua tahun kondisi tanah masih gembur dan memiliki pori aerasi
yang cukup untuk menunjang pertumbuhan tanaman (Suwardjo et al., 1989). Hasil
penelitian pada Podsolik Merah Kuning (Ultisols) Pekalongan, Lampung,
menunjukkan bahwa penggunaan mulsa jerami 4-5 ton/ha meningkatkan hasil
jagung 5-20% dan biji ubi jalar 60 % (Hafif et al., 1993; Suwardjo dan Abujamin,
1985).
Dalam tanah tererosi terbawa sejumlah unsur-unsur hara tanah yang
sangat diperlukan tanaman. Disamping itu kehilangan hara dapat terjadi oleh
beberapa proses. Pencucian (leaching) dan pengangkutan hara melalui panen.
Undang Kurnia (1996) melaporkan, kehilangan beberapa unsur hara tanah oleh
erosi pada Ultisols Jasinga masing-masing 1066 kg N, 109 kg P, 197 kg K, dan 5974
kg C-organik setiap hektarnya bila tidak dilakukan konservasi tanah/rehabilitasi
lahan. Penggunaan mulsa jerami padi untuk pencegahan erosi dan rehabilitasi
lahan dapat mengurangi jumlah hara yang hilang masing-masing menjadi 38 kg N,
6 kg P, 9 kg K, dan 158 kg C-organik setiap hektarnya. Sedangkan menurut
Kosman et al. (1997), hara yang hilang melalui panen mencapai 258 kg N, 42 kg
P205, 166 kg K2O dan 53 kg Mg setiap hektarnya pada Andisols Cipanas yang
ditanami kubis.
3.4. Technology Engineering Budidaya Ubi Jalar Ipomoca batatas
Ubijalar atau ketela rambat atau “sweet batata” diduga berasal dari Benua
Amerika. Para ahli botani dan pertanian memperkirakan daerah asal tanaman Ubijalar
adalah Selandia Baru, Polinesia, dan Amerika bagian tengah.
Seorang ahli botani Soviet (Nikolai Ivanovich Vavilov), memastikan daerah
sentrum primer asal tanaman ubijalar adalah Amerika Tengah. Ubijalar mulai
menyebar ke seluruh dunia, terutama negara-negara beriklim tropika pada abad ke-16.
Orang-orang Spanyol menyebarkan ubijalar ke kawasan Asia, terutama Filipina,
Jepang, dan Indonesia.
Pada tahun 1960-an penanaman ubijalar sudah meluas ke seluruh provinsi di
Indonesia. Pada tahun 1968 Indonesia merupakan negara penghasil ubijalar nomor
39
empat di dunia. Sentra produksi ubijalar di Indonesia adalah Provinsi Jawa Barat, Jawa
Tengah, Jawa Timur, Irian Jaya, dan Sumatra Utara.
Plasma nutfah (sumber genetik) tanaman ubijalar yang tumbuh di dunia
diperkirakan berjumlah lebih dari 1.000 jenis, namun baru 142 jenis yang diidentifikasi
oleh para peneliti.
Lembaga penelitian yang menangani ubijalar, antara lain: International Potato
Centre (IPC) dan Centro International de La Papa (CIP). Sedangkan di Indonesia,
penelitian dan pengembangan ubijalar ditangani oleh Pusat Peneliltian dan
Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) Bogor serta Balai Penelitian Kacangkacangan
dan Umbi-umbian (Balitkabi) Malang.
Varietas atau klon ubijalar yang ditanam di berbagai daerah jumlahnya cukup
banyak, antara lain: Lampeneng, Sawo, Cilembu, Rambo, SQ-27, Jahe, Kleneng,
Gedang, Tumpuk, Georgia, Layang-layang, Karya, Daya, Borobudur, Prambanan,
Mendut, Kalasan, Cangkuang Sewu, dan lain-lain.
Varietas yang digolongkan sebagai varietas unggul harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
a) Berdaya hasil tinggi (di atas 30 t/ha).
b) Berumur pendek (genjah) antara 3-4 bulan.
c) Rasa ubi enak dan manis.
d) Tahan terhadap hama penggerek ubi (Cylas sp.) dan penyakit kudis oleh cendawan
Elsinoe sp.
e) Kadar karotin tinggi (di atas 10 mg/100 gram).
f) Keadaan serat ubi relatif rendah.
Di beberapa daerah tertentu, ubijalar merupakan salah satu komoditi bahan
makanan pokok. Ubijalar merupakan komoditi pangan penting di Indonesia dan
diusahakan penduduk mulai dari daerah dataran rendah sampai dataran tinggi.
Tanaman ini mampu beradaptasi di daerah yang kurang subur dan kering. Dengan
demikian tanaman ini dapat diusahakan sepanjang tahun.
Ubijalar dapat dikonsumsi segar sebagai: ubi rebus, ubi goreng, kolak, bubur
dan sebagainya. Sebagai bahan baku industri ubijalar dapat dijadikan sirup, bahan
campuran saus, lem, kosmetik, tepung dan sebagainya. Beberapa peluang penganekaragaman
jenis penggunaan ubijalar dapat dilihat berikut ini:
40
a) Daun: sayuran dan pakan ternak
b) Batang: bahan tanam dan pakan ternak
c) Kulit ubi: pakan ternak
d) Ubi segar: bahan makanan
e) Tepung: makanan
f) Pati: fermentasi, pakan ternak, dan asam sitrat
A. SYARAT TUMBUH
1. Iklim
a. Tanaman Ubijalar membutuhkan hawa panas dan udara yang lembab.
Daerah yang paling ideal untuk budidaya Ubijalar adalah daerah yang
bersuhu 21-27 derajat C.
b. Daerah yang mendapat sinar matahari 11-12 jam/hari merupakan daerah
yang disukai. Pertumbuhan dan produksi yang optimal untuk usahatani
ubijalar tercapai pada musim kering (kemarau). Di tanah yang kering
(tegalan) waktu tanam yang baik untuk tanaman ubijalar yaitu pada
waktu musim hujan, sedang pada tanah sawah waktu tanam yang baik
yaitu sesudah tanaman padi dipanen.
c. Tanaman Ubijalar dapat ditanam di daerah dengan curah hujan 500-
5.000 mm/tahun, optimalnya antara 750-1500 mm/tahun.
2. Media Tanam
a. Hampir setiap jenis tanah pertanian cocok untuk membudidayakan
Ubijalar. Jenis tanah yang paling baik adalah pasir berlempung, gembur,
banyak mengandung bahan organik, aerasi serta drainasenya baik.
Penanaman Ubijalar pada tanah kering dan pecah-pecah sering
menyebabkan Ubijalar mudah terserang hama penggerek (Cylas sp.).
Sebaliknya, bila ditanam pada tanah yang mudah becek atau berdrainase
yang jelek, dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman Ubijalar kerdil, ubi
mudah busuk, kadar serat tinggi, dan bentuk ubi benjol.
b. Derajat keasaman tanah adalah pH=5,5-7,5. Sewaktu muda memerlukan
kelembaban tanah yang cukup.
41
c. Ubijalar cocok ditanam di lahan tegalan atau sawah bekas tanaman padi,
terutama pada musim kemarau. Pada waktu muda tanaman
membutuhkan tanah yang cukup lembab. Oleh karena itu, untuk
penanaman di musim kemarau harus tersedia air yang memadai.
3. Ketinggian Tempat
Tanaman Ubijalar membutuhkan hawa panas dan udara yang lembab.
Tanaman Ubijalar juga dapat beradaptasi luas terhadap lingkungan tumbuh
karena daerah penyebaran terletak pada 300 LU dan 300 LS.
Di Indonesia yang beriklim tropik, tanaman Ubijalar cocok ditanam di
dataran rendah hingga ketinggian 500 m dpl. Di dataran tinggi dengan ketinggian
1.000 m dpl, Ubijalar masih dapat tumbuh dengan baik, tetapi umur panen
menjadi panjang dan hasilnya rendah.
3.4.1. Pembibitan Ubi jalar (Ipomoea batatas)
Tanaman Ubijalar dapat diperbanyak secara generatif dengan biji dan
secara vegetatif berupa stek batang atau stek pucuk. Perbanyakan tanaman
secara generatif hanya dilakukan pada skala penelitian untuk menghasilkan
varietas baru.
Teknik perbanyakan tanaman ubijalar yang sering dipraktekan adalah
dengan stek batang atau stek pucuk. Bahan tanaman (bibit) berupa stek pucuk
atau stek batang harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a) Bibit berasal dari varietas atau klon unggul.
b) Bahan tanaman berumur 2 bulan atau lebih.
c) Pertumbuhan tanaman yang akan diambil steknya dalam keadaan sehat,
normal, tidak terlalu subur.
d) Ukuran panjang stek batang atau stek pucuk antara 20-25 cm, ruas-ruasnya
rapat dan buku-bukunya tidak berakar.
e) Mengalami masa penyimpanan di tempat yang teduh selama 1-7 hari.
Bahan tanaman (stek) dapat berasal dari tanaman produksi dan dari tunastunas
ubi yang secara khusus disemai atau melalui proses penunasan.
Perbanyakan tanaman dengan stek batang atau stek pucuk secara terusmenerus
mempunyai kecenderungan penurunan hasil pada generasi-generasi
berikutnya. Oleh karena itu, setelah 3-5 generasi perbanyakan harus
42
diperbaharui dengan cara menanam atau menunaskan umbi untuk bahan
perbanyakan. Deskripsi masing-masing varietas unggul ubijalar tersebut,
sebagai berikut:
a. Daya
1. Varietas ini merupakan hasil persilangan antara varietas (kultivar) putri
selatan x jonggol.
2. Potensi hasil antara 25-35 ton per hektar.
3. Umur panen 110 hari setelah tanam.
4. Kulit dan daging ubi berwarna jingga muda.
5. Rasa ubi manis dan agak berair.
6. Varietas tahan terhadap penyakit kudis atau scab.
b. Prambanan
1. Diperoleh dari hasil persilangan antara varietas daya x centenial II.
2. Potensi hasil antara 25-35 ton per hektar.
3. Umur panen 135 hari setelah tanam.
4. Kulit dan daging ubi berwarna jingga.
5. Rasa ubi enak dan manis.
6. Varietas tahan terhadap penyakit kudis atau scab.
c. Borobudur
1. Varietas ini merupakan hasil persilangan antara varietas daya x philippina.
2. Potensi hasil antara 25-35 ton per ha.
3. Kulit dan daging ubi berwarna jingga.
4. Umur panen 120 hari setelah tanam.
5. Ubi berasa manis.
6. Varietas tahan terhadap penyakit kudis atau scab.
d. Mendut
1. Varietas ini berasal dari klon MLG 12653 introduksi asal IITA, Nigeria
tahun 1984.
2. Potensi hasil antara 25-50 ton per ha.
3. Umur panen 125 hari ssetelah tanam.
4. Rasa ubi manis.
5. Varietas tahan terhadap penyakit kudis atau scab.
43
e. Kalasan
1. Varietas diintroduksi dari Taiwan.
2. Potensi hasil antara 31,2-42,5 ton/ha atau rata-rata 40 ton/ha.
3. Umur panen 95-100 hari setelah tanam.
4. Warna kulit ubi cokelat muda, sedangkan daging ubi berwarna orange
muda (kuning).
5. Rasa ubi agak manis, tekstur sedang, dan agak berair.
6. Varietas agak tahan terhadap hama penggerek ubi (Cylas sp.).
7. Varietas cocok ditanam di daerah kering sampai basah, dan dapat
beradaptasi di lahan marjinal.
􀂙 Tata cara penyiapan bahan tanaman (bibit) Ubijalar dari tanaman
produksi, sebagai berikut:
a. Pilih tanaman Ubijalar yang sudah berumur 2 bulan atau lebih, keadaan
pertumbuhannya sehat dan normal.
b. Potong batang tanaman untuk dijadikan stek batang atau stek pucuk
sepanjang 20-25 cm dengan menggunakan pisau yang tajam, dan
dilakukan pada pagi hari.
c. Kumpulkan stek pada suatu tempat, kemudian buang sebagian daundaunnya
untuk mengurangi penguapan yang berlebihan.
d. Ikat bahan tanaman (bibit) rata-rata 100 stek/ikatan, lalu simpan di
tempat yang teduh selama 1-7 hari dengan tidak bertumpuk.
3.4.2. Pengolahan Media Tanam
1) Penyiapan Lahan
Penyiapan lahan bagi ubijalar sebaiknya dilakukan pada saat tanah tidak
terlalu basah atau tidak terlalu kering agar strukturnya tidak rusak,
lengket, atau keras. Penyiapan lahan dapat dilakukan dengan cara,
berikut:
a) Tanah diolah terlebih dahulu hingga gembur, kemudian dibiarkan
selama ± 1 minggu. Tahap berikutnya, tanah dibentuk guludanguludan.
44
b) Tanah langsung diolah bersamaaan dengan pembuatan guludanguludan.
2) Pembentukan Bedengan
Jika tanah yang akan ditanami Ubijalar adalah tanah sawah maka
pertama-tama jerami dibabat, lalu dibuat tumpukan selebar 60-100 cm.
Kalau tanah yang dipergunakan adalah tanah tegalan maka bedengan
dibuat dengan jarak 1 meter. Apabila penanaman dilakukan pada tanahtanah
yang miring, maka pada musim hujan bedengan sebaiknya dibuat
membujur sesuai dengan miringnya tanah.
Ukuran guludan disesuaikan dengan keadaan tanah. Pada tanah yang
ringan (pasir mengandung liat) ukuran guludan adalah lebar bawah ± 60
cm, tinggi 30-40 cm, dan jarak antar guludan 70-100 cm. Pada tanah
pasir ukuran guludan adalah lebar bawah ±40 cm, tinggi 25-30 cm, dan
jarak antar guludan 70-100 cm.
Arah guludan sebaiknya memanjang utara-selatan, dan ukuran panjang
guludan disesuaikan dengan keadaan lahan.
Lahan Ubijalar dapat berupa tanah tegalan atau tanah sawah bekas
tanaman padi.
Tata laksana penyiapan lahan untuk penanaman Ubijalar, sebagai berikut:
a. Penyiapan Lahan Tegalan
1. Bersihkan lahan dari rumput-rumput liar (gulma)
2. Olahan tanah dengan cangkul atau bajak hingga gembur sambil
membenamkan rumput-rumput liar
3. Biarkan tanah kering selama minimal 1 minggu
4. Buat guludan-guludan dengan ukuran lebar bawah 60 cm, tinggi
30-40 cm, jarak antar guludan 70-100 cm, dan panjang guludan
disesuaikan dengan keadaan lahan
5. Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air diantara
guludan.
b. Penyiapan Lahan Sawah Bekas Tanaman Padi
1. Babat jerami sebatas permukaan tanah
45
2. Tumpuk jerami secara teratur menjadi tumpukan kecil
memanjang berjarak 1 meter antar tumpukan
3. Olah tanah di luar bidang tumpukan jerami dengan cangkul atau
bajak, kemudian tanahnya ditimbunkan pada tumpukan jerami
sambil membentuk guludan-guludan berukuran lebar bawah
± 60 cm, tinggi 35 cm, dan jarak antar guludan 70-100 cm.
Panjang disesuaikan dengan keadaan lahan.
4. Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air antar guludan;
Pembuatan guludan di atas tumpukan jerami atau sisa-sisa
tanaman dapat menambah bahan organik tanah yang
berpengaruh baik terhadap struktur dan kesuburan tanah
sehingga ubi dapat berkembang dengan baik dan permukaan
kulit ubi rata. Kelemahan penggunaan jerami adalah
pertumbuhan tanaman Ubijalar pada bulan pertama sedikit
menguning, namun segera sembuh dan tumbuh normal pada
bulan berikutnya. Bila jerami tidak digunakan sebagai tumpukan
guludan, tata laksana penyiapan lahan dilakukan sebagai berikut:
- Babat jerami sebatas permukaan tanah
- Singkirkan jerami ke tempat lain untuk dijadikan bahan
kompos
- Olah tanah dengan cangkul atau bajak hingga gembur
- Biarkan tanah kering selama minimal satu minggu
- Buat guludan-gululdan berukuran lebar bawah ±60 cm, tinggi
35 cm dan jarak antar guludan 80-100 cm.
- Rapikan guludan sambil memperbaiki saluran air antar
guludan.
Hal yang penting diperhatikan dalam pembuatan guludan adalah
ukuran tinggi tidak melebihi 40 cm. Guludan yang terlalu tinggi
cenderung menyebabkan terbentuknya ubi berukuran panjang
dan dalam sehinggga menyulitkan pada saat panen. Sebaliknya,
guludan yang terlalu dangkal dapat menyebabkan terganggunya
pertumbuhan atau perkembangan ubi, dan memudahkan
serangan hama boleng atau lanas oleh Cylas sp.
46
3.4.3. Teknik Penanaman
1). Penentuan Pola Tanam
Sistem tanam ubijalar dapat dilakukan secara tunggal (monokultur) dan
tumpang sari dengan kacang tanah.
a. Sistem Monokultur
1. Buat larikan-larikan dangkal arah memanjang di sepanjang
puncak guludan dengan cangkul sedalam 10 cm, atau buat
lubang dengan tugal, jarak antar lubang 25-30 cm.
2. Buat larikan atau lubang tugal sejauh 7-10 cm di kiri dan kanan
lubang tanam untuk tempat pupuk.
3. Tanamkan bibit Ubijalar ke dalam lubang atau larikan hingga
angkal batang (setek) terbenam tanah 1/2-2/3 bagian, kemudian
padatkan tanah dekat pangkal setek (bibit).
4. Masukkan pupuk dasar berupa urea 1/3 bagian ditambah TSP
seluruh bagian ditambah KCl 1/3 bagian dari dosis anjuran ke
dalam lubang atau larikan, kemudian ditutup dengan tanah tipistipis.
Dosis pupuk yang dianjurkan adalah 45-90 kg N/ha
(100-200 kg Urea/ha) ditambah 25 kg P2O5/ha (50 kg TSP/ha)
ditambah 50 kg K2O/ha (100 kg KCl/ha). Pada saat tanam
diberikan pupuk urea 34-67 kg ditambah TSP 50 kg ditambah KCl
34 kg per hektar. Tanaman ubijalar amat tanggap terhadap
pemberian pupuk N (urea) dan K (KCl).
Teknologi budidaya di beberapa lokasi di wilayah Kabupaten
Sumedang.
Hasil analisis laboratorium:
▪ Jenis tanah : Latosol
▪ pH : 5,75
▪ Kandungan N : 0,36%
P : 11 mg/100 g
K : 10 mg/100 g
▪ Kandungan bahan organik : 10%
▪ Ketinggian : 1066 m dpl
▪ Tersedia Embung (yang harus
diperbesar dan dasarnya dilapisi dengan
plastik) untuk mengairi ± 10 ha lahan
penanaman ubi Cilembu.
47
Disarankan :
1. Pada Musim Hujan
▪ Penanaman pada musim hujan agar
guludan dipertinggi (30-40 cm) agar
tidak terjadi pembusukan umbi
karena terendam.
▪ Dosis N : 200 kg urea/ha
P : 150 kg SP-36/ha
K : 150 kg KCl/ha
▪ Pupuk kandang 7,5 – 10 ton/ha.
▪ Embung yang ada.
2. Pada musim kemarau/off season :
▪ Tinggi guludan/bedengan ± 25 cm.
▪ Dosis pupuk N : 150 kg urea/ha
P : 100 kg SP-36/ha
K : 150 kg KCl/ha
▪ 1/3 dosis pupuk (N, P dan K)
diberikan pada waktu tanam.
▪ 1/3 dosis pupuk (N, P dan K)
diberikan pada umur 60 HST (hari
setelah tanam).
▪ 1/3 dosis pupuk (N, P dan K)
diberikan pada umur 120 HST (hari
setelah tanam).
▪ Pupuk kandang : 10-15 ton/ha,
karena pupuk kandang dapat
berfungsi sebagai “water holding
capacity”.
▪ Perlu diwaspadai bahwa pada musim
kemarau “Penyakit Lanas” ada
peningkatan.
▪ Fungsi Embung harus dioperasikan
secara maksimal dan jangan sampai
areal pertanaman tidak terairi.
▪ Lebih baik menggunakan mulsa
jerami atau lainnya.
Hasil analisis laboratorium:
▪ Jenis tanah : Latososl
▪ pH : 5,37 – 6,37
▪ Kandungan N : 0,47%
P : 19 mg/100 g
K : 18 mg/100 g
▪ Kandungan bahan organik : 12-14
▪ Ketinggian : 1.033 m dpl
▪ Embung tersedia (harus diperbesar dan
dasarnya harus dilapisi dengan plastik)
dan mampu mengairi 10 ha.
48
Disarankan :
1.Pada musim hujan :
Tinggi guludan (30-40 cm) agar zona ubi
dalam keadaan kapasitas lapang atau
“field capacity” sehingga tidak terjadi
kerusakan umbi.
▪ Dosis pupuk N : 200 kg urea/ha
P : 100 kg SP-36/ha
K : 150 kg KCl/ha
▪ 1/3 dosis pupuk (N, P dan K) diberikan
pada waktu tanam.
▪ 1/3 dosis pupuk (N, P dan K) diberikan
pada umur 60 HST (hari setelah
tanam).
▪ 1/3 dosis pupuk (N, P dan K) diberikan
pada umur 120 HST (hari setelah
tanam).
▪ Pupuk kandang : 7,5-10 ton/ha.
2. Pada musim kemarau :
▪ Tinggi guludan/bedengan ± 25 cm.
▪ Dosis pupuk N : 150 kg urea/ha
P : 100 kg SP-36/ha
K : 150 KCl/ha
▪ 1/3 dosis pupuk (N, P dan K) diberikan
pada waktu tanam.
▪ 1/3 dosis pupuk (N, P dan K) diberikan
pada umur 60 HST (hari setelah
tanam).
▪ 1/3 dosis pupuk (N, P dan K) diberikan
pada umur 120 HST (hari setelah
tanam).
▪ Pupuk kandang : 10-15 ton/ha.
▪ Fungsi embung harus dimaksimalkan,
dengan melapisi plastik di dasar
embung untuk mengairi 10 ha areal
pertanaman.
▪ Pada musim kemarau sebaiknya diberi
mulsa jerami atau mulsa lainnya untuk
mengurangi penguapan.
▪ Harus diwaspadai pada musim
kemarau serangan lanas meningkat
dengan pemberian air yang cukup dan
kelembaban yang sesuai dengan
pemulsaan dapat dikurangi.
▪ Embung yang akan dibangun di dekat
lahan kehutanan yang lebih besar
untuk mengairi di Blok II, III, IV dan
V. Embung tersebut berada di
49
ketinggian 1.058 m dpl, maka lahanlahan
yang dapat diairi oleh embung
tersebut yang mempunyai ketinggian
lebih rendah/kecil daripada 1.058 m
dpl agar dapat mengairi secara
alamiah (proses grafitasi).
Hasil analisis laboratorium :
􀂃 Jenis tanah : Latosol
􀂃 pH : 5,56 – 5,96
􀂃 Kandungan N : 0,25-11%
P : 14-21 mg/100 g
K : 15-19 mg/100 g
􀂃 Kandungan bahan organik : 8-16%
Disarankan :
1. Pada musim hujan :
Tinggi guludan 30-40 cm, agar ubi tidak
terendam air
􀂃 Dosis pupuk N : 150-200 kg urea/ha
P : 100-150 kg SP-36/ha
K : 150-200 KCl/ha
􀂃 1/3 dosis pupuk (N, P dan K) diberikan
pada waktu tanam.
􀂃 1/3 dosis pupuk (N, P dan K) diberikan
pada umur 60 HST (hari setelah
tanam).
􀂃 1/3 dosis pupuk (N, P dan K) diberikan
pada umur 120 HST (hari setelah
tanam).
􀂃 Pupuk organik/kandang : 15-20 ton/ha.
2. Pada musim kemarau :
􀂃 Dosis pupuk N : 125-150 kg urea/ha
P : 75-125 kg SP-36/ha
K : 125-150 KCl/ha
􀂃 1/3 dosis pupuk (N, P dan K) diberikan
pada waktu tanam.
􀂃 1/3 dosis pupuk (N, P dan K) diberikan
pada umur 60 HST (hari setelah
tanam).
􀂃 1/3 dosis pupuk (N, P dan K) diberikan
pada umur 120 HST (hari setelah
tanam).
􀂃 Pupuk organik/kandang : 20-25 ton/ha.
Hasil analisis laboratorium :
􀂃 Jenis tanah : Latosol yang telah
mengalami oksidasi tinggi dan
terdapatnya alur-alur bekas erosi.
50
􀂃 Terdapatnya lahan kritis atau marginal
􀂃 Ketinggian lokasi rata-rata 916 m dpl
􀂃 Embung yang akan dibuat diketinggian
892 m dpl dan embung terletak di Blok
VI.
􀂃 Embung ini kapasitasnya harus lebih besar
dari yang lainnya karena harus dapat
mengairi di tiga lokasi (Blok).
􀂃 Air dari embung harus ditarik oleh tenaga
pompa ke lokasi lahan penanaman ubi
Cilembu yang letaknya lebih tinggi.
􀂃 Desa Cigendel : 916 m dpl.
􀂃 Jenis tanah : Latososl
􀂃 pH : 5,58-5,87
􀂃 Kandungan N : 0,65%
P : 5-33 mg/100 g
K : 6-31 mg/100 g
􀂃 Kandungan bahan organik : rendah
Disarankan :
1. Pada musim hujan :
􀂃 Tinggi guludan/bedengan 30-40 cm
􀂃 Dosis pupuk
N : 200 kg urea/ha
P : 100-150 SP-36/ha
K : 150-200 KCl/ha
▪ 1/3 dosis pupuk (N, P dan K) diberikan
pada waktu tanam.
▪ 1/3 dosis pupuk (N, P dan K) diberikan
pada umur 60 HST (hari setelah tanam).
􀂃 1/3 dosis pupuk (N, P dan K) diberikan
pada umur 120 HST (hari setelah tanam).
􀂃 Pupuk organic : 15-20 ton/ha.
Pada musim kemarau :
􀂃 Desa Cigendel : ± 25 cm.
􀂃 Dosis pupuk N : 150 kg urea/ha
P : 100 kg SP-36/ha
K : 150 kg KCl/ha
▪ 1/3 dosis pupuk (N, P dan K) diberikan
pada waktu tanam.
▪ 1/3 dosis pupuk (N, P dan K) diberikan
pada umur 60 HST (hari setelah tanam).
􀂃 1/3 dosis pupuk (N, P dan K) diberikan
pada umur 120 HST (hari setelah tanam).
􀂃 Pupuk organik : 20-25 ton/ha
􀂃 Menggunakan mulsa jerami atau lainnya
untuk mengurangi penguapan lebih
tinggi.
51
b. Sistem Tumpangsari
Tujuan sistem tumpangsari antara lain untuk meningkatkan produksi
dan pendapatan per satuan luas lahan. Jenis tanaman yang serasi
ditumpangsarikan dengan Ubijalar adalah kacang tanah. Tata cara
penanaman sistem tumpang sari prinsipnya sama dengan sistem
monokultur, hanya di antara barisan tanaman ubijalar atau di sisi
guludan ditanami kacang tanah. Jarak tanam Ubijalar 100×25-30 cm,
dan jarak tanam kacang tanah 30 x 10 cm.
2) Cara Penanaman
Bibit yang telah disediakan dibawa ke kebun dan ditaruh di atas
bedengan. Bibit dibenamkan kira-kira 2/3 bagian kemudian ditimbun
dengan tanah kemudian disirami air.
Bibit sebaiknya ditanam mendatar, dan semua pucuk diarahkan ke satu
jurusan. Dalam satu alur ditanam satu batang, bagian batang yang ada
daunnya tersembul di atas bedengan.
Pada tiap bedengan ditanam 2 deretan dengan jarak kira-kira 30 cm.
Untuk areal seluas 1 ha dibutuhkan bibit stek kurang lebih 36.000 batang.
• Penanaman Ubijalar di lahan kering; biasanya dilakukan pada awal
musim hujan (Oktober), atau awal musim kemarau (Maret) bila
keadaan cuaca normal.
• Dilahan sawah, waktu tanam yang paling tepat adalah segera
setelah padi rendengan atau padi gadu, yakni pada awal musim
kemarau.
3.4.4. Pemeliharaan Tanaman
1) Penjarangan dan Penyulaman
Selama 3 (tiga) minggu setelah ditanam, penanaman Ubijalar harus harus
diamati kontinu, terutama bibit yang mati atau tumbuh secara abnormal.
Bibit yang mati harus segera disulam. Cara menyulam adalah dengan
mencabut bibit yang mati, kemudian diganti dengan bibit yang baru,
dengan menanam sepertiga bagian pangkal setek ditimbun tanah.
52
Penyulaman sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari, pada saat
sinar matahari tidak terlalu terik dan suhu udara tidak terlalu panas. Bibit
(setek) untuk penyulaman sebelumnya dipersiapkan atau ditanam
ditempat yang teduh.
2) Penyiangan
Pada sistem tanam tanpa mulsa jerami, lahan penanaman Ubijalar
biasanya mudah ditumbuhi rumput liar (gulma). Gulma merupakan
pesaing tanaman Ubijalar, terutama dalam pemenuhan kebutuhan akan
air, unsur hara, dan sinar matahaari. Oleh karena itu, gulma harus segera
disiangi. Bersama-sama kegiatan penyiangan dilakukan pembumbunan,
yaitu menggemburkan tanah guludan, kemudian ditimbunkan pada
guludan tersebut.
3) Pembumbunan
Penyiangan dan pembubunan tanah biasanya dilakukan pada umur 1
bulan setelah tanam, kemudian diulang saat tanaman berumur 2 bulan.
Tata cara penyiangan dan pembumbunan meliputi tahap-tahap sebagai
berikut:
a) Bersihkan rumput liar (gulma) dengan kored atau cangkul secara
hati-hati agar tidak merusak akar tanaman Ubijalar.
b) Gemburkan tanah disekitar guludan dengan cara memotong lereng
guludan, kemudian tanahnya diturunkan ke dalam saluran antar
guludan.
c) Timbunkan kembali tanah ke guludan semula, kemudian lakukan
pengairan hingga tanah cukup basah.
4) Pemupukan
Zat hara yang terbawa atau terangkut pada saat panen Ubijalar cukup
tinggi, yaitu terdiri dari 70 kg N (± 156 kg urea), 20 kg P2O5 (±42 kg
TSP), dan 110 kg K2O (± 220 kg KCl) per hektar pada tingkat hasil 15 ton
ubi basah. Pemupukan bertujuan menggantikan unsur hara yang
terangkut saat panen, menambah kesuburan tanah, dan menyediakan
unsur hara bagi tanaman.
53
Dosis pupuk yang tepat harus berdasarkan hasil analisis tanah atau
tanaman di daerah setempat. Dosis pupuk yang dianjurkan secara umum
adalah 45-90kg N/ha (100-200 kg urea/ha) ditambah 25 kg P2O5/ha
(±50 kg TSP/ha) ditambah 50 kg K2O/ha (±100 kg KCl/ha).
Pemupukan dapat dilakukan dengan sistem larikan (alur) dan sistem
tugal. Pemupukan dengan sistem larikan mula-mula buat larikan (alur)
kecil di sepanjang guludan sejauh 7-10 cm dari batang tanaman, sedalam
5-7 cm, kemudian sebarkan pupuk secara merata ke dalam larikan sambil
ditimbun dengan tanah.
5) Pengairan dan Penyiraman
Meskipun tanaman Ubijalar tahan terhadap kekeringan, fase awal
pertumbuhan memerlukan ketersediaan air tanah yang memadai. Seusai
tanam, tanah atau guludan tempat pertanaman Ubijalar harus diairi,
selama 15-30 menit hingga tanah cukup basah, kemudian airnya dialirkan
keseluruh pembuangan. Pengairan berikutnya masih diperlukan secara
kontinu hingga tanaman Ubijalar berumur 1-2 bulan. Pada periode
pembentukan dan perkembangan ubi, yaitu umur 2-3 minggu sebelum
panen, pengairan dikurangi atau dihentikan.
Waktu pengairan yang paling baik adalah pada pagi atau sore hari. Di
daerah yang sumber airnya memadai, pengairan dapat dilakukan kontinu
seminggu sekali. Hal yang penting diperhatikan dalam kegiatan pengairan
adalah menghindari agar tanah tidak terlalu becek (air menggenang).
3.4.5. HAMA DAN PENYAKIT
1. Hama
a. Penggerek Batang Ubijalar
Stadium hama yang merusak tanaman Ubijalar adalah larva (ulat). Cirinya
adalah membuat lubang kecil memanjang (korek) pada batang hingga ke
bagian ubi. Di dalam lubang tersebut dapat ditemukan larva (ulat).
Gejala: terjadi pembengkakan batang, beberapa bagian batang mudah
patah, daun-daun menjadi layu, dan akhirnya cabang-cabang tanaman
akan mati.
54
Pengendalian:
(1) rotasi tanaman untuk memutus daur atau siklus hama;
(2) pengamatan tanaman pada stadium umur muda terhadap gejala
serangan hama: bila serangan hama >5 %, perlu dilakukan
pengendalian secara kimiawi;
(3) pemotongan dan pemusnahan bagian tanaman yang terserang berat;
(4) penyemprotan insektisida yang mangkus dan sangkil, seperti
Curacron 500 EC atau Matador 25 dengan konsentrasi yang
dianjurkan.
b. Hama Boleng atau Lanas
Serangga dewasa hama ini (Cylas formicarius Fabr.) berupa kumbang
kecil yang bagian sayap dan moncongnya berwarna biru, namun toraknya
berwarna merah. Kumbang betina dewasa hidup pada permukaan daun
sambil meletakkan telur di tempat yang terlindung (ternaungi).
Telur menetas menjadi larva (ulat), selanjutnya ulat akan membuat
gerekan (lubang kecil) pada batang atau ubi yang terdapat di permukaan
tanah terbuka. Gejala: terdapat lubang-lubang kecil bekas gerekan yang
tertutup oleh kotoran berwarna hijau dan berbau menyengat.
Hama ini biasanya menyerang tanaman Ubijalar yang sudah berubi. Bila
hama terbawa oleh ubi ke gudang penyimpanan, sering merusak ubi
hingga menurunkan kuantitas dan kualitas produksi secara nyata.
Pengendalian:
(1) pergiliran atau rotasi tanaman dengan jenis tanaman yang tidak
sefamili dengan Ubijalar, misalnya padi-Ubijalar-padi;
(2) pembumbunan atau penimbunan guludan untuk menutup ubi yang
terbuka;
(3) pengambilan dan pemusnahan ubi yang terserang hama cukup berat;
(4) pengamatan/monitoring hama di pertanaman Ubijalar secara periodik:
bila ditemukan tingkat serangan >5%, segera dilakukan tindakan
pengendalian hama secara kimiawi;
(5) penyemprotan insektisida yang mangkus dan sangkil, seperti Decis
2,5 EC atau Monitor 200 LC dengan konsentrasi yang dianjurkan;
55
(6) penanaman jenis Ubijalar yang berkulit tebal dan bergetah banyak;
(7) pemanenan tidak terlambat untuk mengurangi tingkat kerusakan yang
lebih berat.
c. Tikus (Rattus rattus sp)
Hama tikus biasanya menyerang tanaman ubijalar yang berumur cukup
tua atau sudah pada stadium membentuk ubi. Hama Ini menyerang ubi
dengan cara mengerat dan memakan daging ubi hingga menjadi rusak
secara tidak beraturan. Bekas gigitan tikus menyebabkan infeksi pada ubi
dan kadang-kadang diikuti dengan gejala pembusukan ubi.
Pengendalian:
(1) sistem gerepyokan untuk menangkap tikus dan langsung dibunuh;
(2) penyiangan dilakukan sebaik mungkin agar tidak banyak sarang tikus
disekitar ubijalar;
(3) pemasangan umpan beracun, seperti Ramortal atau Klerat.
2. Penyakit
a. Kudis atau Scab
Penyebab: cendawan Elsinoe batatas. Gejala: adanya benjolan pada
tangkai sereta urat daun, dan daun-daun berkerut seperti kerupuk.
Tingkat serangan yang berat menyebabkan daun tidak produktif dalam
melakukan fotosintesis sehingga hasil ubi menurun bahkan tidak
menghasilkan sama sekali.
Pengendalian:
(1) pergiliran/rotasi tanaman untuk memutus siklus hidup penyakit;
(2) penanaman Ubijalar bervarietas tahan penyakit kudis, seperti daya
dan gedang;
(3) kultur teknik budi daya secara intensif;
(4) penggunaan bahan tanaman (bibit) yang sehat.
b. Layu fusarium
Penyebab: jamur Fusarium oxysporum f. batatas. Gejala: tanaman
tampak lemas, urat daun menguning, layu, dan akhirnya mati. Cendawan
56
fusarium dapat bertahan selama beberapa tahun dalam tanah. Penularan
penyakit dapat terjadi melalui tanah, udara, air, dan terbawa oleh bibit.
Pengendalian:
(1) penggunaan bibit yang sehat (bebas penyakit);
(2) pergiliran /rotasi tanaman yang serasi di suatu daerah dengan
tanaman yang bukan famili;
(3) penanaman jenis atau varietas Ubijalar yang tahan terhadap penyakit
Fusarium.
c. Virus
Beberapa jenis virus yang ditemukan menyerang tanaman Ubijalar adalah
Internal Cork, Chlorotic Leaf Spot, Yellow Dwarf. Gejala: pertumbuhan
batang dan daun tidak normal, ukuran tanaman kecil dengan tata letak
daun bergerombol di bagian puncak, dan warna daun klorosis atau hijau
kekuning-kuningan. Pada tingkat serangan yang berat, tanaman Ubijalar
tidak menghasilkan.
d. Pengendalian:
(1) penggunaan bibit yang sehat dan bebas virus;
(2) pergiliran/rotasi tanaman selama beberapa tahun, terutama di daerah
basis (endemis) virus;
(3) pembongkaran/eradikasi tanaman untuk dimusnahkan.
e. Penyakit Lain-lain
Penyakit-penyakit yang lain, misalnya, bercak daun cercospora oleh jamur
Cercospora batatas Zimmermann, busuk basah akar dan ubi oleh jamur
Rhizopus nigricans Ehrenberg, dan klorosis daun oleh jamur Albugo
ipomeae pandurata Schweinitz. Pengendalian: dilakukan secara terpadu,
meliputi perbaikan kultur teknik budi daya, penggunaan bibit yang sehat,
sortasi dan seleksi ubi di gudang, dan penggunaan pestisida selektif.
3.4.6. P A N E N
1. Ciri dan Umur Panen
Tanaman Ubijalar dapat dipanen bila ubi-ubinya sudah tua (matang fisiologis).
Ciri fisik ubijalar matang, antara lain: bila kandungan tepungnya sudah
57
maksimum (sekitar 20%), ditandai dengan kadar serat yang rendah dan bila
direbus (dikukus) rasanya enak serta tidak berair.
Penentuan waktu panen Ubijalar didasarkan atas umur tanaman. Jenis atau
varietas Ubijalar berumur pendek (genjah) dipanen pada umur 3-3,5 bulan,
sedangkan varietas berumur panjang (dalam) sewaktu berumur 4,5-5 bulan.
Panen Ubijalar yang ideal dimulai pada umur 3 bulan, dengan penundaan
paling lambat sampai umur 4 bulan. Panen pada umur lebih dari 4 bulan,
selain resiko serangan hama boleng cukup tinggi, juga tidak akan memberikan
kenaikan hasil ubi.
2. Cara Panen
Tata cara panen Ubijalar melalui
tahapan, sebagai berikut:
a. Tentukan pertanaman Ubijalar
yang telah siap dipanen.
b. Potong (pangkas) batang Ubijalar
dengan menggunakan parang atau
sabit, kemudian batang-batangnya
disingkirkan ke luar petakan sambil dikumpulkan.
c. Galilah guludan dengan cangkul hingga terkuak ubi-ubinya.
d. Ambil dan kumpulkan Ubijalar di suatu tempat pengumpulan hasil.
e. Bersihkan ubi dari tanah atau kotoran dan akar yang masih menempel.
f. Lakukan seleksi dan sortasi ubi berdasarkan ukuran besar dan kecil ubi
secara terpisah dan warna kulit ubi yang seragam. Pisahkan ubi utuh dari
ubi terluka ataupun terserang oleh hama atau penyakit.
g. Masukkan ke dalam wadah atau karung goni, lalu angkut ke tempat
penampungan (pengumpulan) hasil.
3. Prakiraan Produksi
Tanaman ubijalar yang tumbuhnya baik dan tidak mendapat serangan hama
penyakit yang berarti (berat) dapat menghasilkan lebih dari 25 ton ubi basah
per hektar. Varietas unggul seperti borobudur dapat menghasilkan 25 ton,
prambanan 28 ton, dan kalasan antara 31,2-47,5 ton per hektar.
58
3.4.7. PASCA PANEN
1. Pengumpulan
Hasil panen dikumpulkan di lokasi yang cukup strategis, aman dan mudah
dijangkau oleh angkutan.
2. Penyortiran dan Penggolongan
Pemilihan atau penyortiran Ubi jalar sebenarnya dapat dilakukan pada saat
pencabutan berlangsung. Akan tetapi penyortiran Ubijalar dapat dilakukan
setelah semua pohon dicabut dan ditampung dalam suatu tempat. Penyortiran
dilakukan untuk memilih umbi yang berwarna bersih terlihat dari kulit umbi
yang segar serta pisahkan dengan yang cacat terutama terlihat dari ukuran
besarnya umbi serta bercak hitam/garis-garis pada daging umbi.
3. Penyimpanan
Penanganan pascapanen Ubijalar biasanya ditujukan untuk mempertahankan
daya simpan. Penyimpanan ubi yang paling baik dilakukan dalam pasir atau
abu. Tata cara penyimpanan Ubijalar dalam pasir atau abu, sebagai berikut:
a) Angin-anginkan ubi yang baru dipanen di tempat yang berlantai kering
selama 2-3 hari.
b) Siapkan tempat penyimpanan berupa ruangan khusus atau gudang yang
kering, sejuk, dan peredaran udaranya baik.
c) Tumpukkan ubi di lantai gudang, kemudian timbun dengan pasir kering
atau abu setebal 20-30 cm hingga semua permukaan ubi tertutup.
Cara penyimpanan ini dapat mempertahankan daya simpan ubi sampai
5 bulan. Ubijalar yang mengalami proses penyimpanan dengan baik biasanya
akan menghasilkan rasa ubi yang manis dan enak bila dibandingkan dengan ubi
yang baru dipanen.
Hal yang penting dilakukan dalam penyimpanan Ubijalar adalah melakukan
pemilihan ubi yang baik, tidak ada yang rusak atau terluka, dan tempat (ruang)
penyimpanan bersuhu rendah antara 27-300C (suhu kamar) dengan
kelembapan udara antara 85-90 %.
59
3.5. Economic Engineering
Pra_syarat berkembangnya industrialisasi perdesaan, adalah diperlukan adanya
suatu proses dalam pengelolaan usahatani dan disertai dengan koordinasi
vertikal agribisnis dalam suatu alur produk melalui mekanisme non pasar,
sehingga karakteristik produksi akhir yang dipasarkan dapat menjamin dan
disesuaikan dengan referensi konsumen akhir.
Dengan demikian, setiap usaha agribisnis tidak lagi berdiri sendiri atau tergabung
dalam assosiasi horizontal, tetapi memadukan diri dengan perusahaan
perusahaan lain yang bergerak dalam seluruh bidang usaha yang ada pada satu
alur produk vertikal (hulu-hilir) dalam suatu kelompok usaha.
a). Sub Sistem Agribisnis Hulu
Dalam sistem agribisnis di tingkat hulu, maka salah satu sarana produksi yang
akan menentukan produktivitas adalah penggunaan benih bermutu dari
varietas unggul. Kondisi industri perbenihan pada saat ini masih belum
berkembang sesuai dengan harapan, terpenuhinya penyediaan benih bermutu
dari varietas unggul,
b). Sub Sistem Agribisnis Primer
Pertanaman di Kabupaten Sumedang umumnya merupakan tanaman cash
crop yang diusahakan pada lahan sawah irigasi dan sebagian kecil diusahakan
pada sawah tadah hujan dan lahan kering.
Produksi dan Produktivitas; tidak optimumnya penerapan teknologi di
tingkat petani dapat dicerminkan oleh penggunaan input dan tingkat output
yang dicapai. Tingkat penerapan teknologi oleh petani dapat diketahui dari
hasil penelusuran informasi di lapangan (survei, studi diagnostik).
Produktivitas hasil dapat ditingkatkan melalui penerapan teknologi budidaya
yang lebih baik, sedangkan kualitas hasil dapat ditingkatkan dengan
mengadopsi teknologi pascapanen yang lebih baik. Dengan peningkatan
kuantitas dan kualitas hasil, diharapkan terjadi peningkatan pendapatan
petani.
Peningkatan Produktivitas; penggunaan benih bermutu yang berasal dari
varietas unggul telah terbukti secara nyata terhadap peningkatan
60
produktivitas tanaman dan memberikan kontribusi yang nyata terhadap
peningkatan produksi tanaman. Oleh karena itu, program peningkatan
produktivitas ubijalar perlu didukung oleh perakitan varietas dan
pengembangan varietas unggul berdaya hasil tinggi dan toleran terhadap
cekaman lingkungan biotik (hama, penyakit/OPT) dan tahan terhadap
cekaman lingkungan abiotik (kesuburan tanah rendah, lahan-lahan sulfat
masam, lahan dengan kandungan besi/Fe dan alumunium/Al yang tinggi,
lahan dengan kadar garam tinggi/salinitas, dan lain-lain).
Varietas-varietas unggul tersebut berperan penting dalam peningkatan
produktivitas ubijalar. Hal yang menjadi masalah hingga saat ini adalah
penggunaan benih bermutu varietas unggul baru mencapai <10% pada areal
pertanaman ubijalar.
Landasan Analisis Biaya Usaha Komoditas Ubi Jalar
Bagian A. Informasi latar belakang
A1. Latar belakang kelompok Usaha
Judul usaha Usaha agribisnis komoditas ubi jalar
Nama kelompoktani
Jumlah anggota kelompok Pria : Aktif : Jumlah :
Lokasi Desa
Nagarawangi
Kec.
Rancakalong
Kab. Sumedang
Deskripsi kelompok tani • Didirikan :
• Keanggotaan sekarang :
• Jumlah Luas lahan kelompok :
• Ketua kelompoktani :
• Usahatani komoditas ubi jalar
A2. Asumsi teknis
A 2.1. Deskripsi dan tujuan usaha
Deskripsi • Agribisnis ubi jalar
Tujuan • Menciptakan kegiatan komoditas ubi jalar secara kolektif
yang mempertimbangkan permintaan pasar dan usahatani
Stakeholder dan
peranannya
• Bandar memberikan modal dan jaminan modal
• Penyuluh setempat membina petani
61
A 2.2. Ringkasan asumsi teknis
Deskripsi lokasi
(lampiran peta
lokasi)
• Lokasi lahan perbenihan diusahakan anggota pada lahan
yang berbeda
• Jarak rumah ke lahan relatif jauh (500 – 1.000 m)
• Lahan dapat disewa
• Lokasi tersebut dapat dijangkau kendaraan roda 2, tersedia
sarana listrik dan telpon.
Lama siklus
produksi
• 150 hari
Alur produksi/
pengolahan dan
perdagangan
• Petani – Pedagang pengumpul – Bandar besar – Pedagang
pengecer (supermarket).
Keterampilan
teknis yang
diperlukan
• Menciptakan agar umbi tidak mudah busuk (dapat
disimpan lebih dari 1 bulan)
A 2.3. Kegiatan pada setiap siklus
Kategori Kegiatan
Jangka waktu (per bulan)
J F M A M J J A S O N D
Sebelum
pendirian
usaha
Pembentukan
kelompok
Pencarian modal
Kontrak lokasi,
perancangan lokasi
Pendirian
usaha
Memilih manager
Kegiatan Persiapan lahan X X
Tanam X X
Pemeliharaan X X X X X X
Panen X X
Setelah
usaha
Pemasaran X X
Keterangan :
- Tanam sepanjang tahun.
- Umur 5 bulan.
- Pola tanam : Padi – Ubi – Ubi atau Padi – Ubi.
62
A 2.4. Bahan mentah, masukan dan persediaan lain
Bahan mentah/
Masukan
Unit
Harga
Jumlah *) Harga per unit Total *) Rp.
Bibit 1 25.000 25.000
phonska Kg 140 2.500 350.000
Pupuk kandang Karung 175 7.000 1.225.000
Pestisida Liter 1,5 160.000 240.000
Total biaya bahan mentah, masukan dan persediaan lain 1.840.000
Keterangan : *) per siklus produksi
A 2.5. Keperluan tenaga kerja
Kegiatan
Biaya
Tenaga kerja *)
(orang)
Biaya per-hari Total *) Rp.
Panen (/Ha)
30 25.000 750.000
biaya pengelolaan
keluarga
212 25.000 5.300.000
Total biaya 6.250.000
Keterangan : *) per siklus produksi
A 2.6. Biaya lain-lain
Biaya lain Unit
Biaya
Jumlah * Biaya per-unit Total *) Rp.
P3A Paket
- – -
Iuran anggota Paket
105.000
Paket
Total biaya lain 105.000
Keterangan : *) per siklus produksi, tidak termasuk biaya lembaga/LSM
63
2.7. Biaya aset tetap dan depresiasi
Deskripsi
Lama umur
(tahun)
(A)
Harga perunit
Volume Harga total
(B)
Depresiasi
(B/A)
Sewa lahan 1 musim 3.500.000 1 Ha 3.500.000 3.500.000
Peralatan 3 35.000 2 70.000 11.650
Saung
Total biaya aset tetap dan depresiasi 3.511.650
Keterangan : *) Mesin, konstruksi bangunan, dan lain lain.
A 3.2. Pengelolaan dan organisasi kelompoktani
A 2.7. Sistem pengelolaan
Nama anggota tim
pengelola
Tugas dan fungsi Biaya * Rp
Pedagang pengumpul Memberi modal, dan
Pemasaran
Keuntungan bersih
bandar Rp. 100,- /kg
Total biaya lain
Struktur organisasi kelompoktani
Keterangan : *) per siklus produksi
MANAGER
BENDAHARA SEKRETARIS
SEKSI PRODUKSI SEKSI
PEMASARAN
SEKSI SAPRODI
ANGGOTA
64
A 3.2. Kebijaksanaan pengelolaan
Dokumen yang dikelola dan
penanggung jawab
Pembagian keuntungan
Pemilihan personalia
Kebijaksanaan pembelian dan
pengeluaran dana
Harga sesuai pasar
Pinjaman diberikan dengan sistem pembayaran
yarnen (hasil di tampung pemodal)
A 4. Pemasaran
A.4.1. Hasil agribisnis
Produksi utama dan sampingan Satuan Total produksi *
Ubi Kg 10.500
Keterangan : *) per siklus produksi
A.4.4. Pertimbangan pemasaran
Rencana promosi • Pemasaran sistem gred / kelas
A.4.5. Saluran distribusi
Lokasi distribusi
yang diharapkan
• Supermarket
• Pedagang pengecer
Sistem penyediaan
saprodi
• Memberi pinjaman modal (uang)
Persetujuan
pemasaran hasil
• Ada kontrak 10 ton /bulan
A.4.6. Biaya pemasaran
Tujuan Volume
yang
diharapkan
Presentase
dari produksi
total
Biaya pemasaran
per-unit strayek
Total biaya
pemasaran *)
Rp.
bandar 10 ton /bln Rp. 400,- /kg 4.000.000
Total biaya lain
-
Keterangan : konsumen menanggung biaya transportasi dan packing
65
A 5. Penentuan harga jual
A 5.1. Harga jual pasar saat ini
Produk Musim hujan Musim kemarau
Ubi Harga petani ke bandar Rp. 2.000,- /kg = Rp. 20.000.000
A 5.2. Ringkasan biaya produksi
Pokok Jumlah *) Rp.
Bahan, masukan dan persediaan lain (atau biaya barang) 1.840.000
Tenaga kerja borongan 750.000
Tenaga kerja keluarga 5.300.000
Biaya lain-lain 105.000
Depresiasi 3.511.650
Biaya pengelola 1.000.000
Biaya pemasaran 4.000.000
Total biaya produksi 16.506.650
Keterangan : *) per-siklus produksi (tidak termasuk biaya lembaga/LSM)
A 5.3. Penghasilan penjualan yang diharapkan
Tipe pembeli,
tujuan
Volume penyediaan
yang diharapkan
Harga jual Jumlah *) Rp.
10.000 kg 2.000 20.000.000
Keterangan : *) per siklus produksi
- Harga yang diharapkan petani Rp. 3.000,- /kg
3.6. Management Engineering
3.6.1. Penataan Ruang Ekonomi Pertanian Perdesaan
Secara ekonomi; penggunaan lahan di beberapa daerah subur pada dasarnya
adalah sebuah refleksi dari kompetisi antara beberapa variasi penggunaan lahan yang
operasionalnya melalui kekuatan demand dan supplay (Lean,1966).Lahan mempunyai
fungsi serbaguna yang dapat digunakan untuk beberapa sektor. Jika nilai ekonomi
lahan ditentukan faktor kesuburan dan jarak lahan tersebut dari pusat fasilitas. Teori
yang membahas berkaitan dengan lahan, antar lain: Teori Ricardian Rent; yang
dikemukakan oleh David Ricardo bahwa sewa tanah dapat didefinisikan sebagai
surplus ekonomi atas tanah tersebut, artinya: “keuntungan yang diperoleh
atas produksi dari tanah tersebut setelah dikurangi biaya”. Perbedaan surplus
66
ekonomi yang didapatkan dari suatu tanah dikarenakan perbedaan tingkat
kesuburan. Jadi perbedaan kesuburan lahan, maka pada tingkat harga output dan
input yang sama akan memperoleh surplus yang berbeda perbedaan land rent karena
perbedaan tingkat kesuburan lahan (Suparmoko, 1989).
Surplus ekonomi atas tanah, merupakan bukti pentingnya kesuburan
dan topografi (Gambar 3.) yang dapat diasumsikan bahwa penentuan pusat kota
dengan pembagian ke empat puncak berdasarkan perbedaan kapasitas produksi dari
perbedaan kualitas tanah dan kemajuan fasilitas transportasi.
1) Teori Lokasi Von Thunen; dalam Suparmoko (1989) bahwa surplus ekonomi
suatu wilayah banyak ditentukan oleh lokasi ekonomi. Biaya transportasi dari lokasi
suatu lahan ke kota (pasar) merupakan input produksi yang penting, karena
semakin dekat lokasi suatu lahan ke kota maka semakin tinggi aksesbilitasnya
(biaya transportasi semakin rendah). Oleh karena itu sewa lahan (lend rent) akan
semakin mahal berbanding terbalik dengan jarak.
Gambar 2. Perbedaan land rent
Gambar 3. Perbedaan tingkat kesuburan lahan
dan topografi
Gambar 4. Perbedaan “Land rent” dari tiga luasan lahan yang berbeda lokasi dan
jaraknya dari pasar (Barlowe, 1979).
67
Berdasarkan ekonomi mikro dapat dijelaskan bahwa lokasi lahan dekat kota, maka
biaya transportasinya akan rendah. Average cost (AC) rendah, sehingga surplus
ekonomi tinggi dan semakin jauh jarak suatu lahan dengan kota (pasar), maka
biaya transportasi untuk pengangkutan sarana produksi atau produk cukup mahal,
maka average cost cukup tinggi dan surplus (keuntungan) rendah.
Konsep dasar Von Thunen dalam Barlowe (1979) adalah menggambarkan
hubungan sewa lahan (lend rent) dengan biaya yang akan digunakan kemudian
pada “friction space”. Biaya ini akan menerangkan sewa lahan yang tinggi
berhubungan dengan dekatnya ke pusat pemasaran. Von Thunen menempatkan
informasi di zone ke dua; artinya: pengembangan transportasi lainnya mempunyai
efek yang dapat diperbandingkan dalam pemanfaatan pola “enlongted” dan yang
“star-Shaped” yang ditandai dengan mengurangi lokasi lahan sewa di daerah pusat
bisnis, sehingga mendorong adanya penggunaan lahan daerah yang ada di
pedalaman yang jauh di luar pusat kota sehingga mendapat keuntungan.
3.6.2. Faktor Lokasi Berpengaruh pada Penggunaan Lahan
Perbedaan lokasi mempunyai peranan yang signifikan baik untuk penggunaan
faktor-faktor ekonomi untuk lahan dan mempengaruhi nilai sewa pada penggunaan
lahan. Menurut Barlowe (1979) bahwa karakter sebagian besar orang sebagai
konsumen akan mencari lokasi yang aman untuk ditempati, murah dan
menyenangkan, sedangkan sebagai produsen akan mencari lokasi dengan penghasilan
yang didapat bisa besar dan menjamin, serta bekerja pada kondisi yang
menyenangkan. “Ambisi, semangat dan produktivitas seseorang akan selalu bergerak
untuk mendapatkan kesempatan yang lebih besar dalam penguasaan lahan yang
memberikan nilai kembali ekonomi yang maksimal tanpa mengurangi nilai keuntungan
non-ekonomi (Land tenure)”.
Kesempatan untuk merealiasikan keuntungan, ada 2 orientasi, yaitu:
1) Keuntungan Komparatif; adalah keuntungan alamiah sebagai dasar pemisahan
di spesialisasi yang menguntungkan, seperti: iklim, tanah dan topografi. contoh:
individu memulai bisnis untuk diri sendiri dan menjalankan jenis pekerjaan yang
luas dan banyak, seperti: melakukan pembelian, penjualan sendiri, pencatatan,
dekorasi, pekerjaan menjaga pintu. Namun jika bisnis berkembang dan
menguntungkan, maka pekerja baru disewa, pembagian tenaga kerja, dan setiap
68
pekerja ada untuk melakukan perkerjaan yang terbaik yang bisa mereka lakukan
dalam perbandingan dengan pekerjaan lain. Prinsipnya spesialisasi individu juga
diterapkan pada wilayah spesialiasi produksi yang mempunyai keuntungan
komparatif tertinggi. Oleh karena itu pengetahuan akan keunggulan komparatif
suatu daerah dapat digunakan para penentu kebijakan untuk mendorong
perubahan struktur perekonomian daerah ke arah sektor yang mengandung
keunggulan komparatif (Tarigan R., 2004).
2) Keuntungan kompetitif; yang tinggi dengan semua hal dipertimbangkan secara
logis baik aspek konsep ekonomi spesialiasi dan perbandingan keuntungan. Titik
impas dari faktor ekonomi yang mempengaruhi lokasi dan penggunaan struktur
lahan internal dan faktor yang mempengaruhi lokasi industri, komersial dan wilayah
tinggal. Prinsip keuntungan adalah setiap daerah yang ditujukan sebagai tempat
memproduksi suatu produk dimana tempat tersebut memiliki rasio keuntungan
yang paling besar atau rasio kerugian yang paling kecil dibandingkan dengan
daerah lain, meliputi beberapa kombinasi yang menguntungkan, seperti: produksi,
lokasi, biaya transportasi, perencanaan lembaga (land tenure) dan faktor lain yang
menguntungkan.
Kombinasi produksi yang menguntungkan terkandung kemampuan ekonomi untuk
pasar yang memuaskan dari ”hasil kombinasi salah satu input dalam produksi
barang dan jasa yang didukung oleh faktor modal, kemampuan manajeman atau
pasar, fasilitas kredit” yang menghubungkan potensi alam dengan daerah tersebut.
Sadangkan keterampilan tenaga kerja sebagai salah satu faktor yang penting dan
upah tenaga kerja yang murah, serta komuniti pembangunan infrastruktur.
3.6.3. Evaluasi Lahan dan Kesesuaian Lahan
Evaluasi lahan; salah satu komponen yang penting dalam proses perencanaan
penggunaan lahan (land use planning) menurut Bartelli, et all (1976; FAO, 1976 dalam
Arsyad, 1989) adalah sesuatu yang memberikan alternatif pilihan penggunaan lahan
dalam batas-batas kemungkinan tindakan-tindakan pengelolaan yang diperlukan agar
lahan dapat dipergunakan secara lestari sesuai dengan tingkat kendala, hambatan atau
ancaman. Sudjatmika (1991) memperjelas pengertian pokoknya bahwa pola usahatani
lebih menggambarkan diversifikasi usaha, sedangkan pola tanam lebih mengarahkan
69
pada diversifikasi tanaman baik secara berurutan dalam periode satu tahun atau
secara beragam jenis tanam dalam satu musim dan satu areal.
Petani memilih pola tanam tertentu dengan tujuan, untuk: (1) memenuhi
konsumsi keluarga, (2) memperoleh pendapatan tunai, (3) meratakan penyebaran
kerja, dan (4) mengurangi resiko.
Penataan kembali hubungan sewa lahan (land rent) dan atau bagi hasil yang
dapat memberikan kepastian penguasaan garapan bagi penggarapnya juga termasuk
dalam cakupan pengertian land reform. Faktor penentu dalam pengembangan klaster
agribisnis skala kecil perdesaan, yaitu: (1) spesialisasi; (2) kapasitas dan
pengembangan; (3) pengetahuan dan keterampilan; (4) pengembangan sumberdaya
manusia; (4) jaringan kerjasama dan modal sosial; (5) kedekatan dengan pemasok;
(7) ketersediaan modal; (8) jiwa kewirausahaan; dan (9) kepemimpinan dan visi
bersama. Unit usaha kecil dalam suatu klaster tersebut akan memperoleh keunggulan
kompetitif, dari: (1) kedekatan terhadap bahan baku; (2) tersedianya layanan
pengembangan bisnis yang telah disesuaikan dengan kebutuhan; (3) melimpahnya
pelanggan yang tertarik oleh tradisi klaster dalam industri terkait; dan (4) hadirnya
tenaga kerja terampil (BAPPENAS, 2004).
70
Keragaan potensi lokasi ubi jalar di masing-masing wilayah pembangunan
agribisnis ubi jalr di sumedang, sebagai berikut:
Peta Kesesuaian Lahan Komoditas Unggulan Ubi Jalar
Gambar 5. Peta kesesuaian lahan komoditas unggulan ubi jalar di WP Tanjungsari,
Kabupaten Sumedang.
Tabel 7. Legenda peta kesesuaian lahan komoditas unggulan ubi jalar di WP
Tanjungsari, Kabupaten Sumedang.
No Kecamatan Simbol Uraian Satuan Peta Tanah
(SPT)
Luas
(Ha)
1 Tanjungsari S1 Sangat Sesuai 1,4 73
S2 Cukup Sesuai 35,39 2.196
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai 52,53 2.088
2 Jatinangor S1 Sangat Sesuai 45 877
S2 Cukup Sesuai 35 1.334
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai 52 325
71
No Kecamatan Simbol Uraian Satuan Peta Tanah
(SPT)
Luas
(Ha)
3 Rancakalong S1 Sangat Sesuai 1,40,41,50,51 2.712
S2 Cukup Sesuai 30,34,35,39 1.983
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai 52,53 869
4 Pamulihan S1 Sangat Sesuai 1,4,5 713
S2 Cukup Sesuai 34,35,36 2.687
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai 17,21,23,52 1.985
5 Sukasari S1 Sangat Sesuai – -
S2 Cukup Sesuai 35,39 1.093
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai 52,53 2.774
6 Cimanggung S1 Sangat Sesuai 45 1.021
S2 Cukup Sesuai 35,36 351
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai 17,21,23,52 2.924
Gambar 6. Peta kesesuaian lahan komoditas unggulan ubi jalar di WP Darmaraja,
Kabupaten Sumedang.
72
Tabel 8. Legenda peta kesesuaian lahan komoditas unggulan ubi jalar di WP
Darmaraja, Kabupaten Sumedang.
No Kecamatan Simbol Uraian Satuan Peta Tanah
(SPT)
Luas
(Ha)
1 Darmaraja S1 Sangat Sesuai 9,44,45,49,50,51 5.407
S2 Cukup Sesuai – -
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai – -
2 Wado S1 Sangat Sesuai 9,11,26,45,46,49,51 2.118
S2 Cukup Sesuai – -
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai 18,22,23 4.887
3 Cibugel S1 Sangat Sesuai 9,45,49,50,51 4.879
S2 Cukup Sesuai – -
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai 17 109
4 Jatinunggal S1 Sangat Sesuai 9,11,16,25,26 6.212
S2 Cukup Sesuai – -
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai 22,23 427
5 Cisitu S1 Sangat Sesuai 1,9,38,44,45,49,50,51 6.452
S2 Cukup Sesuai – -
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai – -
6 Situraja S1 Sangat Sesuai 1,2,38,41,45,47,49,50,51 4.761
S2 Cukup Sesuai 39 64
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai 54 25
73
Gambar 7. Peta kesesuaian lahan komoditas unggulan ubi jalar di WP Sumedang Kota,
Kabupaten Sumedang.
Tabel 9. Legenda peta kesesuaian lahan komoditas unggulan ubi jalar di WP
Sumedang Kota, Kabupaten Sumedang.
No Kecamatan Simbol Uraian Satuan Peta Tanah
(SPT)
Luas
(Ha)
1 Sumedang Utara S1 Sangat Sesuai 1,2,3,5,6,7,27,28,37,40, 3.145
41,46,51
S2 Cukup Sesuai – -
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai – -
2 Sumedang Selatan S1 Sangat Sesuai 1,3,4,5,7,40,42,43,45,46, 6.570
49,50,51
S2 Cukup Sesuai 34,35,36 2.094
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai 17,21,54 1.064
3 Cimalaka S1 Sangat Sesuai 6,20,26,27,28,31,32,37,40,
47,48,49,50,51 3.192
S2 Cukup Sesuai 19,30 864
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai 17,23,33 524
74
No Kecamatan Simbol Uraian Satuan Peta Tanah
(SPT)
Luas
(Ha)
4 Cisarua S1 Sangat Sesuai 1,2,6,27,32,40,50 1.421
S2 Cukup Sesuai – -
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai – -
5 Paseh S1 Sangat Sesuai 2,4,12,20,27,32,48 2.758
S2 Cukup Sesuai 30 496
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai 33 51
6 Ganeas S1 Sangat Sesuai 1,2,45,46,47,48,50,51 2.558
S2 Cukup Sesuai – -
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai – -
Gambar 8. Peta kesesuaian lahan komoditas unggulan ubi jalar di WP Buahdua,
Kabupaten Sumedang.
75
Tabel 10. Legenda peta kesesuaian lahan komoditas unggulan ubi jalar di WP
Buahdua, Kabupaten Sumedang.
No Kecamatan Simbol Uraian Satuan Peta Tanah
(SPT)
Luas
(Ha)
1 Buahdua S1 Sangat Sesuai 5,12,16,24,26,28,29,31,48 7.620
S2 Cukup Sesuai 19,30,39 209
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai 17,23,33 3.388
2 Tanjungkerta S1 Sangat Sesuai 1,5,16,26,27,28,37,40,50,51 4.458
S2 Cukup Sesuai 19 65
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai 23,33 280
3 Tanjungmedar S1 Sangat Sesuai 1,5,6,37,50,51 5.529
S2 Cukup Sesuai 39 272
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai 52 405
4 Surian S1 Sangat Sesuai 5,6,12,50 2.969
S2 Cukup Sesuai 39 1.935
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai 23 2.808
5 Conggeang S1 Sangat Sesuai 2,4,12,14,24,31,32 8.582
S2 Cukup Sesuai 30 927
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai 17,23,33,54 1.314
76
Gambar 9. Peta kesesuaian lahan komoditas unggulan ubi jalar di WP Tomo,
Kabupaten Sumedang.
77
Tabel 11. Legenda peta kesesuaian lahan komoditas unggulan ubi jalar di WP Tomo,
Kabupaten Sumedang.
No Kecamatan Simbol Uraian Satuan Peta Tanah
(SPT)
Luas
(Ha)
1 Tomo S1 Sangat Sesuai 2,4,11,12,15,47,49,50 8.290
S2 Cukup Sesuai – -
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai – -
2 Jatigede S1 Sangat Sesuai 2,8,9,10,11,13,15,16,37,
47,48,49,50 11.159
S2 Cukup Sesuai – -
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai – -
3 Ujungjaya S1 Sangat Sesuai 2,4,6,12,14,15 8.583
S2 Cukup Sesuai – -
S3 Sesuai Marjinal – -
N Tidak Sesuai – -
78
PENUTUP
Kerangka arahan rancangan dalam upaya merehabilitasi pra-kondisi
(engineering) pembangunan agribisnis kacang tanah, sebagai tahapan adopsinya,
sebagai berikut:
1. Berdasarkan pohon industri para pelaku agribisnis kacang tanah dapat menetapkan
pilihan segmen usahatani yang berpeluang untuk diusahakan dengan
memtimbangkan “produk yang akan dihasilkan & peluang pasar” serta aspek lain,
seperti: luasan lahan lahan yang akan dikelola dan status kesesuaian lahan
terhadap komodtitas kacang tanah kelas S1, ketrampilan teknis, kemampuan
modal sendiri & modal pinjaman, kemampuan manajerial dan dukungan SDM
pertanian sekitarnya.
2. Secara historis, Sumedang di masa silam merupakan suatu kerajaan yang dikenal
dengan nama “Sumedanglarang”. telah menjadi sumbangan yang sangat berarti
bagi terwujudnya ciri khas masyarakat Sumedang kini, yaitu: sifat dan sikap
someah (ramah), tidak menonjolkan diri, menghindari kekerasan dan lebih
mengutamakan musyawarah. Hal ini menjadi modal sosial dalam mengembangkan
usahatani kacang tanah berkelompok berskala usaha agribisnis skala kecil.
3. Introduksi teknologi budidaya kacang tanah spesifik lokasi dan kelembagaan
jaringan pemasaran kacang tanah sudah mapan, hal ini memberikan peluang bagi
pelaku usahatani kacang tanah berkelompok menetapkan bisnisnya dan nilai
tambah pendapatan.
4. Strategi introduksi teknologi spesifik lokasi untuk meningkatakan produksi dan
produktivitas kacang tanah oleh petugas teknis Dinas Pertanian Tanaman Pangan
dan Hortikultura Kabupaten Sumedang dapat mengacu management engineering
dan strategi tranfer teknologi berdasarkan umpan balik sasaran minimal
penguasaanya pada level 4.
5. prioritas pembinaan oleh petugas teknis pertanian perlu mempertimbangkan
permintaan pasar dan kelembagaan pasar serta mengembangkan industri
pengolahan ubi jalar.
79
DAFTAR PUSTAKA
Abdurachman, A., Nono Sutrisno dan I. Juarsah. 1985. Percobaan penggunaan
berbagai jenis pupuk hijau pada tanah Podsolik Merah Kuning yang
ditumbuhi alang-alang di Lampung. Hal. 327-339 dalam Prosiding Pertemuan
Teknis Penelitian Tanah No. 5. Cipayung 18-20 Maret 1985. Pusat Penelitian
Tanah Bogor.
Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press. Bogor.
Bapeda Kab. Sumedang, 2008. Masterplan Pembangunan Agribisnis Kabupaten
Sumedang.
BAPPENAS,2007. Buku Pegangan Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan
Daerah, Pengembangan Ekonomi Daerah dan Sinergi Kebijakan Investasi Pusat-
Daerah. Hal I-2 sampai V-16.
Bariot Hafif, Djoko Santoso, J. Sri Adiningsih dan H. Suwardjo. 1993. Evaluasi
penggunaan beberapa cara pengelolaan tanah untuk reklamasi dan
konservasi lahan terdegradasi. Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk No.
11:7-12.Institut Pertanian Bogor. 1989. Pengkajian Pengelolaan dan
Pemeliharaan Sumber Air. Laporan Utama. Fakultas Pertanian IPB, Bogor.
Barlowe, R. 1979. Land Resource Economics: The Economics of Real Estate. 3rd Edition.
Michigan State University. Prentice-Hall, Inc, Englewood Cliffs, New Jersey
07632. page 20-51.
Conway, G.R. 1987. Rapid Rural Appraisal and Agroecosystem Analysis: A Case Study
from Northern Pakistan. Proceeding of The 1985 International Conference on
Rapid Rural Appraisal. Rural Systems Research and Farming Systems Research
Projects. Khon Kaen, Thailand.
Darmawijaya, M. Isa. 1992. Klasifikasi Tanah. Dasar Teori Bagi Peneliti Tanah dan
Pelaksana Pertanian di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Diperta Kab. Sumedang dan BPTP Jawa Barat, 2006. Pewilayahan Komoditas Pertanian
Berdasarkan Peta Seseuaian Lahan Skala 1: 50.000 Publikasi Dinas Pertanian
Kabupaten Sumedang bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian Jawa Barat.
Geli Bulu Yohanes, 2003. Pengaruh struktur sosial terhadap kemampuan petani dalam
penerapan teknologi pertanian berkelanjutan di Kecamatan Loura Kabupaten
Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Thesis. Program Pascasarjana
Universitas Padjadjaran, Bandung. Hal 1-234.
Hilel, D. 1980. Fundamental of Soil Physics. Acad Press. Inc, New York.Irianto, G.,
Suwardjo dan I. Juarsah. 1986. Peranan pengolahan tanah dan sisa tanaman
terhadap erosi dan hasil jagung pada Ultisols Lampung. Pertemuan Teknis
Penelitian Tanah. PPT. Bogor.
Kepas. 1989. Pedoman Usahatani Lahan Kering Zone Agro-Ekosistem Vulkanis.
Kerjasama Badan Pengkajian dan Pengembangan Pertanian dengan The Ford
Foundation. Malang.
80
Kips, A. Ph., D. Djaenudin and Nata Suharta. 1981. The land unit approach to land
resources surveys for land use planning with particular reference to the
Sekampung Watershed, Lampung Province, Sumatra. Indonesia.
AGOF/INS/78/006. Technical Note No. 11. Centre for Soil Research, Bogor.
Kurnia, U., A. Abdurachman, and S. Sukmana. 1986. Comparison of two methods
in assessing the soil erodibility factor of selected soil in Indonesia.
Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk No. 5:33-37.
Lembaga Biologi Nasional LIPI. 1977. Ubi-ubian. Balai Pustaka.
Muljadi, D. dan Soepraptohardjo. 1975. Masalah Data Luas dan Penyebaran Tanahtanah
Kritis. Simposium Pencegahan dan Pemulihan Tanah Kritis dalam
rangka Pengembangan Wilayah. Jakarta, Oktober 1975.
Najiyati, Sri. (1998). Palawija: budidaya dan analisis usaha tani. Jakarta: PT.Penebar
Swadaya, 1998.
Nono Sutrisno, Haryono, N. L. Nurida, T. Vadari, S. Sukmana dan Miskam. 1996.
Penelitian rehabilitasi dan konservasi lahan kering kritis beriklim kering. Hal.
1-23 dalam Penelitian Pengelolaan Lahan Kering untuk Meningkatkan
Produktivitas dan Pengembangan Komoditas Pertanian. Bagian Proyek
Penelitian Pemanfaatan Produktivitas Sumberdaya Lahan. Pusat Penelitian
Tanah dan Agroklimat (unpublished).Pranadji, T, 2003. Reformasi
kelembagaan dan kemandirian perekonomian pedesaan: kajian pada kasus
perekonomian padi sawah. Prosiding ““Ekonomi padi dan Beras Indonesia”
Badan Litbang Pertanian Deptan. Hal 107-127.
Prosea. 1994. Menyiasati lahan dan iklim dalam pengusahaan pertumbuhan jenis-jenis
tanaman terpilih. Prosea Bogor.
Rachman, A., H. Suwardjo, R. L. Watung dan H. Sembiring. 1989. Efisiensi teras
bangku dan teras gulud dalam pengendalian erosi. Hal. 11-17 dalam Risalah
Diskusi llmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah
di Daerah Aliran Sungai. Batu Malang, 1-3 Maret 1989. P3HTA – Badan
Litbang Pertanian.
Rhoades, R.E. 1987. Basic Field Techniques fo Rapid Rural Appraisal. Proceeding of The
1985 International Conference on Rapid Rural Appraisal. Rural Systems
Research and Farming Systems Research Projects. Khon Kaen, Thailand.
Rukmana, Rahmat. (1997). Ubi jalar: budi daya dan pascapanen. Yogyakarta:
Kanisius,1997.
Rustiadi, E., 2001. Paradigma Baru Pembangunan Wilayah Di Era Otonomi Daerah.
Makalah disampaikan pada Lokakarya Otonomi daerah 2001. Perak Studi Club
di Jakarta Media Center. 11 Juni 2001. Hal 1-18.
Sukmana, S. 1994. Budidaya lahan kering ditinjau dari konservasi tanah. Hal. 25-39
dalam Prosiding Penanganan Lahan Kering Marginal Melalui Pola Usahatani
Terpadu di Jambi. Jambi 2 Juli 1994. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat
- Badan Litbang Pertanian.
Thoha, 2002. Perilaku Organisasi: Konsep Dasar dan Aplikasinya. Fisipol-UGM. Cetakan
ketigabelas Maret. Penerbit PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Hal 1-327.
81
Lampiran 1. Modul
MANAJEMEN TRANSFER TEKNOLOGI
MELALUI PROSES PENILAIAN UMPAN BALIK
Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Setelah berlatih peserta mampu merancang strategi memecahkan masalah
transfer teknologi tertentu melalui proses penilaian umpan balik. (A-4, K-4, P-3).
Metoda
Model penyampaian informasi dengan Experiensing Learning Cycle (ELC), sedangkan
proses dan cara penggalian adalah: ungkapan pengalaman, wawancara, ceramah,
meta plan, diskusi, praktek.
Waktu yang dialokasikan : 4 x 50 menit
Langkah Penyajian :
No Langkah Kegiatan WAKTU
(menit)
􀂉 Menyampaikan pengantaran (Climate Setting) : “Upaya
menggunakan role playing (membuat kapal dari kertas dengan
ruang bagasi maksimum dan tahan goncangan) yang dapat
mengantar peserta pada topik yang akan disampaikan”
25
􀂉 Menjelaskan TIK 5
􀂉 Menjelaskan materi :
1. Transfer Teknologi
2. Komunikasi
3. Cara Proses Penilaian Umpan Balik
170
Catatan :
Peserta dibimbing memahami secara bertahap sesuai kemampuan penerimaan ilmu
pengetahuan.
82
LEMBAR INFORMASI
MANAJEMEN TRANSFER TEKNOLOGI
MELALUI PROSES PENILAIAN UMPAN BALIK
Darmawan – BPTP Jawa Barat
I. PENDAHULUAN
Mengingat bahwa proses pembinaan harus mengutamakan pendekatan
penguatan pengetahuan yang harus diwujudkan dalam bentuk stimulus dari faktor
luar (external) atau disebut juga dengan “Reinforcement Consept” (Thoha, 2002).
Berdasarkan kerangka berfikir “System Theory” dari Bennet (1996) dalam
Adimihardja (1999) bahwa “Masyarakat dengan dorongan, teknologi, organisasi sosial
dan lembaga pengendalian berusaha memanfaatkan lingkungan fisik yang diubah
menjadi sumberdaya alam yang digunakan untuk menyeleksi energi dan barang”.
Maka dalam proses ini perlu memperhitungkan muatan dan tingkat kesulitan transfer
teknologi serta tingkat penerimaan sasaran, sedangkan salah satu alatuntuk
mempermudahnya dapat digunakan indikator penilaian umpan balik (feed back).
Tujuan penilaian proses umpan balik dalam transfer teknologi adalah
meningkatkan kualitas dan keterampilan secara benar, utuh, tepat waktu dan tepat
kebutuhan sasaran (penerima informasi).
II. TRANSFER TEKNOLOGI
Menurut Sandersen (2000) bahwa teknologi merupakan salah satu
infrastruktur material dan merupakan komponen yang paling dasar dengan
pengertian tanpa itu, maka sebuah masyarakat tidak akan mungkin bertahan secara
fisik. Teknologi terdiri dari informasi, peralatan, teknis yang dengannya manusia
beradaptasi dengan lingkuingan fisik. Transfer teknologi pada prinsipnya bagian tugas
penyuluhan; Claar et all (1984) dalam Nasution (1996) telah merumuskan bahwa
penyuluhan merupakan jenis khusus pendidikan pemecahan masalah (problem
solving) yang berorientasi pada tindakan yang mengajarkan sesuatu,
mendemonstrasikan, memotivasi, tapi tidak melakukan pengaturan (regulating) dan
juga tidak melakukan program yang non-edukatif. Perlu disadari bahwa tujuan utama
penyuluhan pertanian adalah untuk menambah kesanggupan petani dalam
meningkatkan efisiensi usahataninya melalui bentuk pendidikan non-formal untuk
merubah perilaku (Mubiyarto dalam Nasution, 1996).
Sebelum melangkah lebih jauh, kita fahami dahulu pengertian tentang:
Pengetahuan (cognitive) menurut Mardikanto (1993) adalah berasal dari kata ‘tahu’
yang artinya pemahaman seseorang tentang sesuatu yang dinilainya lebih baik dan
bermanfaat bagi dirinya. Tahu berarti benar-benar memahami dengan pikirannya
segala ilmu atau teknologi dan informasi dari orang lain atau dengan membaca.
83
Pengetahuan adalah suatu proses sosial (social process), karena pengetahuan lahir
sebagai produk dari interaksi yang berkelanjutan serta dialog di antara aktor yang
berbeda dan sejumlah aktor pada kekuasaan dan sumberdaya yang berbeda pula
(Scoones dan Thompson, 1994 dalam Adimihardja, 1999: 183).
Pengetahuan dapat berasal dari pengalaman; pengalaman itu sendiri
merupakan akumulasi dan proses belajar yang dialami oleh seseorang yang
memberikan kontribusi terhadap minat dan harapannya untuk belajar lebih banyak,
karena pengalaman itu menentukan minat dan kebutuhan yang dirasakan (Dahama
dan Bhatnagar, 1980: 16). Dewey (1964, dalam Sadulloh, 1994: 119) menegaskan
bahwa pengalaman merupakan suatu interaksi antara lingkungan dengan organisme
biologis dan membentuk aktivitas untuk memperoleh pengetahuan. Kemudian
Adimihardja (1999:7) menambahkan bahwa pengalaman adalah sesuatu yang telah
dialami oleh seseorang sehingga bisa membentuk pengetahuan. Pengetahuan itu
sendiri merupakan sesuatu yang dinamik dan berkembang terus sejalan dengan
tuntutan kebutuhan manusia. Ditegaskan Garna (1996:4; 1999:3) bahwa
pengetahuan diperoleh dari fakta dan pengalaman hidup.
Pengetahuan juga dapat berasal dari pendidikan; Brubacher (1969, dalam
Mardikanto, 1982: 22) menyatakan bahwa pendidikan merupakan perkembangan
yang terorganisasi dan kelengkapan dari semua potensi manusia mengenai: moral,
intelektual dan jasmani oleh dan untuk kepribadian individu serta berguna bagi
masyarakat yang diarahkan bagi tujuan hidupnya. Menurut Mardikanto (1982: 22-24)
pendidikan dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) Pendidikan formal adalah usaha
pendidikan yang diselenggarakan secara berencana, terarah dan sistematis melalui
suatu lembaga pendidikan; dan (2) Pendidikan non-formal adalah penyelenggaraan
pendidikan yang terorganisir di luar sistem pendidikan sekolah yang pendidikannya
terprogram.
Menurut Soewardi H (2000) bahwa kemampuan afektif ialah kemampuan
untuk merasakan tentang yang diketahuinya , dengan rasa manusia menjadi
manusiawi atau bermoral dan rasa tidak mempunyai patokan seperti halnya rasio.
Interaksi antara pengalaman, pengetahuan dan pendidikan akan mendorong
tindakan individu petani untuk memenuhi kebutuhan sesuai tujuan yang ingin
dicapai. Dorongan kemampuan untuk mencapai apa yang dirasakan (didektekan
rasa) disebut “kemampuan konatif”. Konasi adalah karsa = kemauan, keinginan,
hasrat (Soewardi H., 2000).
Kesadaran adalah landasan untuk nalar atau berfikir tentang segala sesuatu
baik yang dapat diindera disebut pengalaman (experience) maupun yang tidak dapat
diindera (empirikal).
Kebutuhan bagi setiap orang apabila disadari secara mendalam menurut
McClelland, (1987: 31) terdiri dari: (1) kebutuhan berprestasi ( “Need for
Achievement” yang sering dinyatakan dengan rumus N-Ach); (2) kebutuhan
kekuasaan (“Need for power”= N-Po); dan (3) kebutuhan persahabatan (“Need for
Affiliation” = N-Aff). Kebutuhan berprestasi merupakan dorongan yang kuat pada
seseorang dan sebagai hasil dari pengalaman yang telah dilakukan, pengetahuan dan
pendidikan yang diperoleh (Mc Clelland dalam Suwarsono dan So, 1991: 27; Mc
Clelland dalam Lauer, 1993: 137-138).
84
III. KOMUNIKASI
Komunikasi yang dimaksudkan disini tidak hanya sekedar proses
penyampaian informasi yang simbul-simbulnya dapat dilihat, didengar dan
dimengerti, tetapi proses penyampaian informasi secara keseluruhan termasuk
didalamnya perasaan dan sikap dari orang yang menyampaikannya. Sehingga
membentuk pengertian dan persepsi yang sama pada penerima. Prinsip proses
komunikasi dibutuhkan suatu pembicaraan antara pengirim dan penerima informasi.
Komunikasi akan direspon penerima, kalau mempunyai: (1) nilai peluang kebutuhan
yang dapat dipenuhi; (2) nilai komersial; (3) nilai tambah; dan (4) tidak bertentangan
dengan norma yang berlaku dilingkungannya.
Persepsi pada hakekatnya adalah proses kognitif, yang dialami oleh setiap
orang di dalam memahami informasi tentang lingkungan baik melalui indra
penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan maupun penciuman. Kunci untuk
memahami persepsi terletak pada pengenalan bahwa persepsi itu merupakan suatu
penafsiran yang unik terhadap situasi dan bukannya suatu pencatatan yang benar
terhadap situasi.
2.1. Faktor internal dan Eksternal
Dalam konteks kemampuan komunikasi antara mengirim dan penerima suatu
informasi menurut Thoha (2002) ditentukan oleh: faktor internal, proses pemahaman
sesuatu termasuk didalamnya sistem nilai tujuan, kepercayaan dan tanggapannya
yang telah dicapai; dan faktor eksternal, berupa lingkungan (bio-fisik, sosial,
ekonomi, budaya, politik, dan hukum).
2.2. Proses Persepsi dan Penilaian Umpan balik
Untuk menunjukkan bukti bahwa proses persepsi (sifat persepsi) itu
merupakan hal yang komplek dan interaktif . Thoha (2002) telah menguraikan ke
dalam 4 (empat) sub-proses dalam persepsi yaitu: (1) sub-proses stimulus;
dianggap penting dari sesuatu situasi yang hadir baik dalam bentuk lingkungan
sosiokultur maupun fisik yang menyeluruh; (2) sub-proses registrasi; dalam masa
ini suatu gejala nampak berupa mekanisme fisik yang berupa penginderaan dan
syaraf seseorang terpengaruh baik kemampuan fisik untuk mendengar maupun
melihat; (3) sub-proses interpretasi; merupakan suatu aspek kognitif dari
persepsi yang amat penting, hal ini tergantung pada cara pendalaman (learning),
motivasi dan kepribadian seseorang yang akan berbeda dengan orang lain. Oleh
karena itu interpretasi terhadap suatu informasi yang sama akan berbeda antara
satu orang dengan orang lain; dan (4) sub-proses umpan balik (feed back);
merupakan indikator/tolok ukur nilai hasil akhir dari informasi yang telah
dikomunikasikan dan diterima sesuai persepsi penerima.
Umpan balik adalah suatu cara untuk menguji, menyempurnakan ketepatan
pelaksanaan sampai seberapa jauh informasi yang dikomunikasikan itu dimengerti
oleh penerima, sebagai implikasi menjadi sangat jelas kalau umpan balik memberikan
hasil yang positif/ negatif tergantung pada tujuan yang ingin dicapai baik ketepatan
ataupun kecepatan. . Umpan balik merupakan faktor kunci utama keberhasilan dari
setiap tahapan proses transfer teknologi dan mampu menggambarkan proses
perkembangan persepsi seseorang dalam menerima suatu informasi. Oleh karena itu;
sebelum melakukan transfer teknologi harus menghimpun informasi pendukung dan
85
pemahaman terhadap lingkungan sekitar sasaran (penerima) baik melalui pendekatan
teknis, sosial, ekonomi dan kelembagan yang bersifat interaktif, partisipatif dan multidisiplin
(Adnyana, 1997). Soekartawi, dkk (1986) menambahkan khusus pendekatan
ekonomi, maka elemen teori ekonomi yang relevan mencakup prinsip: (1)
keunggulan komperatif (comperative advantage); (2) kenaikan hasil yang berkurang
(deminising returns); (3) substitusi; (4) analisis biaya; (5) biaya yang diluangkan
(opportunity cost); (6) pemilihan cabang usaha; dan (7) bakutimbang tujuan (goal
trade off).
Kunci dalam melakukan proses transfer teknologi melalui penilaian umpan
balik salah satunya dengan bertindak sebagai konsultan (konselor). Dalam
melakukan konseling Slameto (1990) memberikan syarat tindakan, antara lain: (1)
berlaku secara wajar dalam hubungan; (2) memberikan penghargaan secara spontan
(perhatian/ caring atau kasih yang tidak menguasai/ non possesive love) untuk
melakukan perubahan konstruktif; dan (3) kesanggupan memahami dunia batiniah
client (kepekaan terhadap dunia pengalaman internal sasaran); dan (4) konseli
(client) diberi tanggung jawab besar dalam pengambilan keputusan dan fleksibilitas
serta open-ended (sifat tentatif dan toleransi terhadap perubahan). Berelson (1952:
dalam Roger, 1989) menegaskan bahwa analisa isi itu diguanakn untuk
menggambarkan isi komunikasi yang manifes secara obyektif, sistematis dan
kuantitatif. Termasuk ciri-ciri daripada isi, penyebab-penyebabnya dan pengaruhpengaruhnya.
Ciri spesifik dari teknik analisa isi adalah menggolongkan berita-berita
ke dalam katagori-katagori format dan topik, mengukur frekuensinya, an
menghubungkannya dengan pengetahuan kahalayak.
Pendekatan tersebut menurut Slameto (1990) akan memberikan efek bagi
sasaran (penerima informasi) untuk mampu introspeksi, dalam: (1) menjajagi
perasaan dan sikap secara lebih mendalam; (2) menemukan aspek potensi
tersembunyi yang sebelumnya tidak disadari; (3) mencari kemungkinan dapat lebih
besar menghargai terhadap diri sendiri; (4) lebih mampu mendengarkan diri sendiri
tentang perasaan-perasaan sebelumnya yang tidak sanggup difahami; (5)
pendekatan kewajaran dan kesungguhan (real); (6) perubahan cara
mengekspresikan diri; (7)memperoleh kemampuan yang lebih besar, jika hati senang
terhadap diri sendiri; (8) sikap lebih terbuka terhadap orang lain; (9) cara pandang
tidak hitam-putih, tetapi sudah menemukan makna didalamnya; dan (10)
mendasarkan penilaian dari dalam (internal).
IV. CARA PROSES PENILAIAN (umpan balik hasil transfer teknologi)
Paradigma Roger dan Shoemaker dalam Hanafi (1981) tentang “proses adopsi
dari tahap kesadaran, menaruh minat, penilaian, percobaan dan penerimaan”
kemudian dikembangkan lebih lanjut dengan memasukkan faktor internal dan
eksternal serta dasar pertimbangan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan
(affective) dan tindakan (psichomotor). Konsep pemberdayaan oleh Kartasasmita G
(1996) tentang pembangunan untuk rakyat faktor utama yang diperhatikan adalah
faktor struktural, seperti: permodalan, pemasaran, teknologi, manajemen, informasi
sehingga rakyat memperoleh akses kepada unsur dinamik modern dan perekonomian
rakyat bakal maju. Padahal Menurut Soewardi H (2000) selain faktor struktural juga
perlu memperhatikan faktor kultural.
86
Prinsip utama proses penilaian ini mengacu , yaitu:
1. Pendekatan penguatan pengetahuan (cognitive), perasaan (affective) dan
tindakan (psichomotor) yang harus diwujudkan dalam bentuk stimulus dari faktor
luar (external) atau disebut juga dengan “Reinforcement Consept” (Thoha,
2002).
2. Pemecahan masalah (problem solving) yang berorientasi pada tindakan yang
mengajarkan sesuatu, mendemonstrasikan, memotivasi, tapi tidak melakukan
pengaturan (regulating) dan juga tidak melakukan program yang non-edukatif;
(Claar, et all, 1984: dalam Nasution, 1996)
3. Penciptakan keterpaduan 6 nilai utama, yaitu: nilai ekologi, nilai budaya, nilai
ekonomi, nilai psikologi, nilai sosial, serta nilai fisik dan ruang (Karmana., dkk.,
2000).
Tindakan fasilitator dalam transfer teknologi diawali dengan: (1) Moderating action;
melalui penggalian masalah dari sasaran (exploratory probe), kemudian melakukan
confirming probe kepada sasaran; (2) Strengthening action; melakukan presentasi,
penutupan dan pendukungan. Bila tidak ada komplain dalam transfer teknologi
dilanjutkan confirming probe kepada sasaran. Namun jika ada komplain dilanjutkan
dengan tindakan (3) Redirecting action; yang kegiatannya adalah menunjukkan bukti
(proving), explaining dan refocusing. Selanjutnya dilakukan confirming probe kepada
sasaran. Hasil setiap tindakan proses transfor teknologi yang dilengkapi baik aspek
teknis, metoda dan media yang digunakan tersebut dimasukkan pada tabel indikator
penilaian umpan balik. Hasil ini sebagai gambaran profil kemampuan sasaran.
Catatan:
Untuk mengetahui efektif atau tidak efektifnya komunikasi dapat digunakan beberapa
karakteristik, sebagai berikut:
(1) intensif; arahkan langsung (efektif);
(2) spesifik; membekali penerima dengan informasi yang khusus;
(3) deskriptif; menghindari memberikan umpan balik yang bersifat menilai atau
mengevaluasi, tapi lebih ditekankan pada pemberian penjelasan mengenai
pelaksanaan pekerjaan;
(4) kemanfaatan; umpan balik mengandung info yang dapat digunakn untuk
memperbaiki dan menyempurnakan pekerjaan;
(5) tepat waktu; terdapat petimbangan-pertimbangan yang memperhitungkan faktor
waktu yang tepat;
(6) kesiapan; kesiapan penerimaan umpan balik tersebut;
(7) kejelasan; dapat dimengerti secara jelas oleh penerima; dan
(8) validasi; umpan balik dapat dipercaya dan sah.
3 hal yang mempengaruhi sifat atau hakekat informasi sebagai salah satu unsur
pokok dalam komunikasi yang diraukan amat penting dalam memahami komunikasi,
al: (1) jumlah besar sedikitnya informasi yang diterima; (2) cara penyajian dan
pemahaman informasi; dan (3) umpan balik.
87
Karakter umpan balik komunikasi antar pribadi yang efektif dan tidak efektif dalam
manajemen pemberdayaan sumberdaya manusia pertanian.
No
Umpan Balik
Efektif Tidak Efektif
1. Cenderung untuk membantu Cenderung memperkecil arti peranan
sasaran
2. Khusus dan terperinci Bersifat umum
3. Deskriptif Bersifat menilai (evaluation)
4. Bermanfaat Tidak bermanfaat
5. Memperhitungkan waktu Tidak memperhitungkan ketepatan
waktu
6. Kesiapan untuk menerima dan
memberikan umpan balik
Membuat sasaran bertahan
7. Jelas Tidak memudahkan pengertian
8. Sah dan benar Tidak sah dan tidak benar
88
PENGIRIM PENERIMA
PENGALAMA
Interaksi timbal balik
PENGETAHU
PENDIDIKAN
TEKNOLOGI
ORGANISASI
Lingkungan
MOTIVASI
FAKTOR
FAKTOR
Gambar 10. MANAJEMEN TRANSFER TEKNOLOGI DALAM INTERAKSI TIMBAL-BALIK ANTARA PENGIRIM DAN PENERIMA
89
Tabel 12. Tindakan fasilitastor dalam melakukan manajemen transfer teknologi
No Tindakan
Check and recheck
Indikator Keterampilan
I. Moderating
a. Exploratory Proble • initial probe for problem
• tanda respon negatif
• masalah tujuan yang mendasar
• untuk tujuan additional
• untuk keuntungan spesifik
• untuk sumberdaya yang
tertahan (terkendala)
􀂉 problem solving khusus pemecahan masalah
b. confirming probe • indiferent
• states problem
􀂉 pendukungan
II. Mendukungan
a. Presentation • states goal 􀂉 Menyatakan kembali kebutuhan sasaran
􀂉 Kaitkan dengan produk teknologi
􀂉 Sebutkan bentuk teknologi yang cocok
􀂉 Hubungkan keunggulan dengan kebutuhan sasaran
􀂉 Pertanyakan probe untuk goal tambahan
b.Closing • States no new problem /goal 􀂉 Merangkum goal sasaran
􀂉 Merangkum keunggulan produk teknologi
􀂉 Memohon komitmen sasaran
c. Supporting • States benefit (keunggulan) 􀂉 Menyatakan kembali keunggulan produk
􀂉 Menghubungkan keunggulan dengan kebutuhan
sasaran
􀂉 Menanyakan sesuatu untuk goal tambahan
90
No Tindakan
Check and recheck
Indikator Keterampilan
III. Redirecting (kembali)
a. Proving (bukti) • Meragukan keunggulan produk
teknologi
􀂉 Menyatakan kembali keunggulan yang ragu
􀂉 Memberikan sumber bukti referensi dan
menjelaskan
􀂉 Menghubungkan keunggulan dengan goal sasaran
􀂉 Menanyakan sesuatu untuk goal tambahan
b. Explaining • Salah pengertian
(misunderstands)
􀂉 Pemahaman secara spesifik tentang features
dengan keunggulan
􀂉 Menjelaskan salah paham tentang keunggulan
􀂉 Menghubungkan keunggulan produk teknologi
dengan goal sasaran
􀂉 Menanyakan sesuatu untuk goal tambahan
c.Refocusing • Pertentangan goal 􀂉 Pemahaman secara umum
􀂉 Menyatakan pentingnya mengevaluasi situasi secara
keseluruhan
􀂉 Memberikan keunggulan tandingan
􀂉 Menanyakan sesuatu untuk goal tambahan
91
Informasi yang tidak
disampaikan kepada
sasaran
Pemberian
Penjelasan
Tidak ada pemberian penjelasan kepada sasaran
Keraguan
Kesalahan
Pemahaman
Tidak ada
kesepakatan
tujuan
Moderating
• Menyelidiki masalah
(yang bisa diatasi
feature produk).
• Mengkonfirmasikan
goal
(sasaran yang bisa
dipenuhi benefit
produk)
Presenting
• Menyatakan kembali
goal sasaran.
• Kaitkan denga produk
anda.
• Sebutkan feature yang
cocok.
• Hubungan benefit
dengan goal sasaran
Penyelidikan
Manfaat
Pendukungan
• Menyatakan
kembali produk
• Menghubungkan
benefit dengan
goal sasaran
Pembuktian
• Menyatakan
kembali benefit
yang diragukan.
• Memberikan
sumber bukti
referensi dan
menjelaskan
• Menghubungka
n benefit
dengan goal
sasaran
Penjelasan
• Pemahaman
secara spesifik
tentang feature
atau benefit
yang disalah
fahami.
• Menjelaskan.
• Menghubungka
n benefit
dengan goal
sasaran
Pemusatan
Kembali
• Pemahaman
secara umum
• Menyatakan
penting
mengevaluasi
(menilai)
situasi secara
keseluruhan.
• Memberikan
benefit
tandingan
Gambar 11. Alur strategi transfer teknologi
Dalam mengambil keputusan sebagai fasilitator dalam penyuluhan atau kontrak
kerjasama tidak ada pemberian penjelasan kepada sasaran namun
mempertimbangkan respon umpan balik dari penerima informasi, kalau :
a. Ada Keraguan; lakukan ”Pembuktian” dengan menyatakan kembali benefit
yang diragukan, memberikan sumber bukti referensi dan menjelaskan serta
menghubungkan benefit dengan goal sasaran.
b. Kesalahan Pemahaman; lakukan “Penjelasan” tentang pemahaman secara
spesifik tentang feature or benefit yang disalah fahami, menjelaskan dan
menghubungkan benefit dengan goal sasaran
Menyelidiki
untuk informasi
Menutup
• Merangkum goal sasaran
• Merangkum benefit
produk
• Minta komitmen sasaran
92
c. Tidak ada kesepakatan tujuan; lakukan “Pemusatan Kembali” dengan
tindakan membahas kembali tingkat pemahaman secara umum, menyatakan
penting mengevaluasi(menilai) situasi secara keseluruhan, serta memberikan
benefit tandingan
Kemampuan afektif; adalah kemampuan untuk merasakan tentang yang
diketahuinya, dengan rasa manusia menjadi manusiawi atau bermoral dan rasa
tidak mempunyai patokan seperti halnya rasio. Interaksi antara pengalaman,
pengetahuan dan pendidikan akan mendorong tindakan individu petani untuk
memenuhi kebutuhan sesuai tujuan yang ingin dicapai.
Sebelum melangkah lebih jauh, perlu difahami dahulu pengertian pengetahuan
(cognitive) adalah berasal dari kata ‘tahu’ yang artinya pemahaman seseorang
tentang sesuatu yang dinilainya lebih baik dan bermanfaat bagi dirinya.
Dimana pengetahuan diperoleh dari fakta dan pengalaman hidup.
Dorongan kemampuan untuk mencapai apa yang dirasakan (didektekan rasa)
disebut “kemampuan konatif”. Konasi adalah karsa = kemauan, keinginan, hasrat
(Soewardi H., 2000). Kesadaran adalah landasan untuk nalar atau berfikir tentang
segala sesuatu baik yang dapat diindera disebut pengalaman (experience) maupun
yang tidak dapat diindera (empirikal).
Dalam konteks kemampuan komunikasi antara mengirim dan penerima suatu
informasi ditentukan oleh: (1) faktor internal; proses pemahaman sesuatu
termasuk didalamnya sistem nilai tujuan, kepercayaan dan tanggapannya yang
telah dicapai; dan (2) faktor eksternal; proses pemahaman berupa lingkungan
seperti bio-fisik, sosial, ekonomi, budaya, politik, dan hukum (Thoha, 2002).
Tujuan strategi penilaian proses umpan balik dalam transfer teknologi komersial
adalah meningkatkan kualitas dan keterampilan secara benar, utuh, tepat waktu
dan tepat kebutuhan sasaran (penerima informasi).
Setiap tahapan proses transfer teknologi komersial ini mampu menggambarkan
proses perkembangan persepsi seseorang dalam menerima suatu informasi. Oleh
karena itu; sebelum melakukan transfer teknologi komersial harus menghimpun
informasi pendukung dan pemahaman terhadap lingkungan sekitar sasaran
93
(penerima) baik melalui pendekatan teknis, sosial, ekonomi dan kelembagan yang
bersifat interaktif, partisipatif dan multi-disiplin (Adnyana, 1997) serta lintas disiplin.
Metode diseminasi yang dikembangkan ini untuk memudahkan fasilitator dalam
memahaman kepada kondisi sasaran dan lingkungan sekitarnya dilaksanakan
melalui pendekatan aquisisi, diskripsif dan diimplimentasikan pada acuan “5 level
adopsi”. Dalam penerapan metoda ini ditetapkan batasan waktu 15 – 30 menit pertopik/
per-individu/per-tatap muka, sedangkan untuk beberapa khalayak pengguna
(clien antara 4 – 10 orang) batasan waktu 1 – 2 jam/per-topik/per-forum
diskusi/per-tatap muka. Proses transfer teknologi mengacu pada lampiran 1
“Tindakan Fasilitator” dan Lampiran 2 “Indikator Transfer Teknologi” (Darmawan,
dkk., 2004).
Metode yang dikembangkan: ”Expose dan Konseling Inovasi Teknologi”; kepada:
(a) para penentu kebijakan strategis pembangunan dan penentu kebijakan teknis
operasional institusi terkait pembangunan pertanian lingkup Pemda II Kabupaten
Sumedang; dan (b) Disebarluaskan melalui kegitan periodik Expose dan konseling,
sebagai bagian dari kegiatan Subdin Perkebuanan Dinas Kehutanan dan Tanaman
pangan Kabupaten Sumedang.
Tabel 13. Indikator Adopsi Teknologi Inovasi Melalui Penilaian Umpan Balik
(berdasarkan tahapan perubahan perilaku sasaran ditinjau dari aspek
kognitif, afektif dan psikomotor)
Level Tahapan
Adopsi
KATAGORI JENIS PERILAKU
Kognitif Afektif Psikomotor
I.
Pertama Pengetahuan Penerimaan Persepsi
• Kemampuan
Internal
• Partisipan
mengetahui
maksud, tujuan,
sasaran teknologi
yang diintroduksikan
dan luaran yang akan
dicapai.
• Kesadaran
partisipan bahwa
teknologi yang
telah diterapkan
dalam usahataninya
perlu teknologi dan
informasi yang
selalu diperbaharui.
• Partisipan mampu
menafsirkan teknologi
introduksi yang akan
berdampak kemudahan
dan peningkatan
pendapatan pada jenis
usaha yang sedang
dikelolanya.
Score (1-5)
• Kemampuan
kerja
operasional
• Partisipan dapat
memilih teknologi
introduksi yang
ditawarkan dalam
pengkajian.
• Partisipan dapat
memilih teknologi
yang dianggap
sesuai dengan latar
belakangnya.
• Partisipan mampu
mengidentifikasikan
teknologi introduksi
yang ditawarkan dan
peluang alternatif
teknologi yang dapat
langsung berguna
baginya.
94
Level adopsi I
Beberapa jenis media yang tersedia sangat banyak, dan berkembang terus
seiring dengan kemajuan teknologi informatika. Media dapat diklasifikasikan dengan
beberapa cara, tetapi yang penting bukanlah klasifikasinya, tetapi bagaimana media itu
digunakan secara tepat. Transfer teknologi inovasi dapat dilakukan relatif efektif melalui
distribusi media poster dan feaflet. Media ini mungkin mata rantai yang paling lemah
dalam proses komunikasi. Beberapa contoh kendala yang mungkin akan anda hadapi,
dan berbagai hal yang perlu dipertimbangkan disajikan berikut ini.
1) Poster ; Pencetakan poster (terutama yang berwarna) cukup mahal. Anda harus
mencetak dalam jumlah yang cukup, sehingga dapat ditempelkan secara cukup
luas, agar bermanfaat. Poster harus didistribusikan (kepada siapa? melalui pos?)
secara aman supaya tidak rusak. Kemudian seseorang perlu dibujuk untuk
menempel poster itu di lokasi yang sesuai/cocok. Poster yang menarik sering
ditempel di dalam kantor pribadi, sehingga hanya dilihat oleh seorang atau dua
orang saja.
2) Leaflet; Leaflet dan brosur harus dicetak dalam jumlah besar sehingga cukup, agar
masing-masing khalayak pengguna dapat menerima suatu copy (atau paling sedikit
satu leaflet untuk 3–4 orang). Distribusi ke alamat pengguna perlu dibiayai, dan
penerimanya perlu dibujuk agar membagikan leaflet tersebut kepada khalayak
pengguna lainnya, atau menggunakannya pada pertemuan penyuluhan.
Level II, III, IV, dan V
Level Tahapan
Adopsi
KATAGORI JENIS PERILAKU
Kognitif Afektif Psikomotor
II.
Kedua Pemahaman Partisipasi Kesiapan
• Kemampuan
Internal
• Partisipan mampu
memperkirakan
dampak introduksi
teknologi terhadap
usahataninya.
• Partisipan ikut
secara aktif dalam
perencanaan sampai
pelaksanaan dan
evaluasi hasil.
• Partisipan
berkonsentrasi
penuh terhadap
semua proses
pelaksanaan yang
dilakukan olehnya,
fasilitator dan mitra
lainnya.
Score (1-5)
• Kemampuan
kerja
operasional
• Partisipan mampu
menerangkan
bahwa beberapa
alternatif teknologi
introduksi
bermanfaat
baginya.
• Partisipan
mempraktekkan
beberapa teknologi
introduksi yang
dianggap sesuai di
lokasi dan usahanya.
• Partisipan mampu
dan faham maksud
transfer teknologi,
kemudian
memprakarsai
penerapan teknologi
introduksinya.
Score (1-5)
III.
Ketiga Penerapan Penentuan Sikap Gerakan terbimbing
• Kemampuan
Internal
• Partisipan mampu
mengidentifikasi
masalah dan
memecahkan
masalah yang
dihadapi dalam
penerapan teknologi
introduksi sehingga
dapat diadopsi oleh
petani yang lain.
• Partisipan
menyepakati
teknologi introduksi
diterapkan dalam
usahataninya.
• Partisipan
menirukan contoh
teknologi introduksi
yang
didemonstrasikan
(percontohan-super
inpuls) pada kegiatan
usahanya.
95
Level Tahapan
Adopsi
KATAGORI JENIS PERILAKU
Kognitif Afektif Psikomotor
Score (1-5)
• Kemampuan
kerja
operasional
• Partisipan mampu
menyesuaikan
teknologi introduksi
pada kegiatan
usahanya.
• Partisipan berani
mengambil
prakarsa untuk
mengambil beberapa
teknologi introduksi
yang diperkirakan
bermanfaat dalam
usahanya.
• Partisipan
mempraktekkan
langsung beberapa
teknologi introduksi
yang sedang dikaji
pada kegiatan
usahanya.
Score (1-5)
IV.
Keempat Analisa Organisasi Gerakan Terbiasa
• Kemampuan
Internal
• Partisipan mampu
menganalisa
kesalahan yang
dilakukan/diterapka
n oleh tim pengkaji
di lapangan.
• Partisipan
membentuk sistem
nilai terhadap
pengaruh teknologi
introduksi dengan
kenyataan usaha
yang sebelumnya
sudah diterapkan
dalam usahanya.
• Partisipan mampu
menerapkan
teknologi introduksi
dengan berpegang
pada pola yang
diterapkan dalam
pengkajian di
lapangan.
Score (1-5)
• Kemampuan
kerja
operasional
• Partisipan mampu
menunjukkan
hubungan antara
teknologi introduksi
dengan kenyataan
lapangan (bio-fisik,
sosial, ekonomi dan
kelembagaannya)
• Partisipan mampu
menyaring
keunggulan teknologi
introduksi dan
memodifikasi serta
diterapkan langsung
pada kegiatan
usahanya.
• Partisipan mampu
mengatur beberapa
teknologi introduksi
ke dalam kegiatan
usahanya.
Score (1-5)
V.
Kelima Sintesa Pembentukan Pola Gerakan Komplek
• Kemampuan
Internal
• Partisipan mampu
menyusun
rencana penerapan
teknologi introduksi
secara berurutan
dan lengkap pada
kegiatan
usahataninya yang
berorientasi
agribisnis dan
agroindustri.
• Partisipan mampu
menunjukkan
simpul-simpul utama
keunggulan teknologi
introduksi serta
peluang
pengembangannya
yang dapat
diperapkan oleh
petani di wilayahnya.
• Partisipan
berketerampilan
lancar pada berbagai
keadaan dan
permasalahan yang
dihadapi selama
menerapkan teknologi
introduksi.
Score (1-5)
96
Level Tahapan
Adopsi
KATAGORI JENIS PERILAKU
Kognitif Afektif Psikomotor
• Kemampuan
kerja
operasional
• Partisipan mampu
membuat pola
penerapan
teknologi
introduksi guna
pengembangan
usaha berorientasi
agribisnis dan
agroindustri yang
dikelola secara
berkelompok
berazazkan
kemitraan yang
saling
menguntungkan
bagi semua fihak.
• Partisipan mampu
membuktikan
bahwa teknologi
introduksi yang
diterapkan selama
pengkajian ada
beberapa teknologi
yang unggul dan ada
beberapa teknologi
yang perlu dikaji atau
dikembalikan (sebagai
umpan balik).
• Partisipan mampu
mendemonstrasika
n teknologi introduksi
kepada berbagai fihak
yang ingin
mengetahui,
mencontoh maupun
mempertanyakan
secara terbuka dan
transparan (tidak ada
yang ditutupi atau
disembunyikan)
beberapa hal prinsip
yang perlu diperbaiki.
Cara penilaian mengikuti prinsip Andras Danandjaya dalam Ndraha (1997) “ Budidaya Organisasi”
Hal 19 Cetakan I, sebagai berikut:
􀂉 Kognitif : dinilai bobot “Penting” berdasarkan tingkat kebutuhan sasaran
􀂉 Afektif : dinilai bobot “Baik” berdasarkan moral atau norma etika setempat
Psikomotor : dinilai bobot “Benar” berdasarkan logika (rasional)
97
Lampiran 2. Contoh mengevaluasi tingkat Pengetahuan Sikap Keterampilan
(PSK)
EVALUASI TINGKAT KEMAMPUAN KELOMPOK
BERDASARKAN INDIKATOR TRANSFER TEKNOLOGI
Level
Adopsi
Nilai Kemampuan
Kelompok
Jumlah
nilai
DISEMINASI MATERI
(teknologi)
Internal Eksternal Metoda Media
I. K 5
A 4
P 4
K 3
A 4
P 5
8
8
9
• Pertemuan
(klasikal)
• Ceramah
• Ungkapan
pengalaman
• Budidaya Ubi
Jalar
II. K 5
A 4
P 4
K 3
A 4
P 5
8
8
9
• Pertemuan
(klasikal)
• Diskusi
• Ceramah
dan umpan
balik
III. K 3
A 4
P 5
K 4
A 5
P 5
7
9
10
• Demonstrasi
cara
(praktek)
• Demplot
IV. K 3
A 4
P 4
K 4
A 5
P 4
7
9
8
• Temu lapang • Poster
• Ceramah
• Praktek
V. K 4
A 4
P 3
K 4
A 3
P 4
8
7
7
• Pertemuan
lintas
sektoral
(temu usaha)
• Diskusi
• Ceramah
• Praktek
analisis
produksi
yang
dihasilkan
Keterangan : skor tertinggi per level 30 point
Contoh
98
Lampiran 3.
MANAJEMEN ENGINEERING (REHABILITASI PRA-KONDISI)
NO TAHAPAN BENTUK
KEGIATAN ISI KEGIATAN METODA TIM
PELAKSANA TEMPAT WAKTU HASIL
YANG PEROLEH
1. Persiapan
Desk Study
• Meriview hasil-hasil
penelitian yang lebih luas
• Menentukan metoda
pengumpulan data dan
informasi serta metode
analisis yang sesuai
dengan luaran yang ingin
dicapai
Studi
pustaka,
konsultasi
• • Rancangan &
Panduan advokasi
• Quisioner yang
operasional untuk
pengumpulan data/
informasi yang
releval dengan
advokasi.
Seminar • Menggali masukanmasukan
dari pengambil
kebijakan, peneliti,
penyuluh, pakar yang ahli
dibidangnya.
Diskusi •
2. Penentuan
Hamparan
atau
Kelompok
Sasaran
Identifikasi • Karakterisasi bio-fisik dan
sosial ekonomi petani
secara umum.
• Penentuan peluang
menekan senjang hasil
antara teknologi anjuran
maupun teknologi yang
diperbaiki di tingkat
petani
Wawancara,
kunjungan
lapang,
Problem
solving
• • Skenario Global
penyelenggaraan
advokasi.
• Perkiraan dampak
penerapan teknologi
yang nyata baik
per-individu petani
maupun
kelompoktani
dengan indikator
tingkat adopsi
• Tingkat kekerabatan
masyarakat
• Hubungan Patron
99
NO TAHAPAN BENTUK
KEGIATAN ISI KEGIATAN METODA TIM
PELAKSANA TEMPAT WAKTU HASIL
YANG PEROLEH
dan client antara
petani budidaya
dengan pedagang
(tengkulak).
• Pengaruh dominasi
Kepada Desa dan
pamong terhadap
masyarakat sangat
berpengaruh dalam
setiap kegiatan
dalam mengambil
kemutusan untuk
masyarakat.
• Keragaan kondisi
sosial masyarakat
3. Karakterisasi
Lokasi dan
Inventarisasi
Sumberdaya
Survai dan
inventarisasi
• Karakterisasi bio-fisik dan
sosial ekonomi petani
spesifik lokasi pada
agroekologi
• Inventarisasi sumberdaya
alam, sumberdaya
manusia dan faktor
pendukung sebagai
pijakan dampak kajian
(ex ante vs ex post
analisis dan petani
kooperator vs non
kooperator)
Wawancara,
kunjungan
lapang
• Profil lokasi
advokasi mengenai
sumberdaya alam,
sumberdaya
manusia dan faktor
pendukung
advokasi.
100
NO TAHAPAN BENTUK
KEGIATAN ISI KEGIATAN METODA TIM
PELAKSANA TEMPAT WAKTU HASIL
YANG PEROLEH
4. Pemilihan
Paket
Teknologi
yang siap
dikomersialkan
Problem
Solving
• Pola tanam budidaya
produksi setiap bulan
• Teknologi masing-masing
komoditas setiap bulan
• Teknologi pasca panen
• Alat dan mesin
Ungkapan
pengalaman,
Diskusi,
Rencana
tindak lanjut
• Paket teknologi
komersial
5. Penentuan
Kebutuhan
dan Sumber
Pendanaan
Koordinasi • Gerakan memotovasi
petani berkoperasi dan
upaya memanfaatkan
fasilitas KUD, BUMN,
swasta dan modal usaha
yang dikelola dalam pola
kemitraan yang saling
menguntungkan.
Konsultasi • Pemanfaatan
fasilitas kredit
pemerintah dan
swasta oleh
petani/kelompok
pada pemerintah,
Bank dan wasta.
6. Konsultasi
dengan
instansi terkait
di daerah
Konsultasi • Pendekatan dan
konsultasi secara aktif
dengan instansi terkait di
tingkat daerah
(Kabupaten, Kecamatan
dan Desa terpilih sebagai
lokasi advokasi/
pembinaan)
Konsultasi • Dukungan dan
keterlibatan instansi
terkait di daerah
dalam
mensukseskan
program advokasi
teknologi budidaya
spesifik lokasi
7. Konsolidasi
dan konsultasi
di tingkat
pusat
Konsolidasi
dan
konsultasi
• Penyampaian program
advokasi meliputi
rencana operasional
kegiatan dalam :
perencanaan,
pelaksanaan, evaluasi,
Audiensi • Rencana kerja yang
matang dan cukup
rinci mulai dari
kegiatan persiapan
sampai
operasionalisasi dan
101
NO TAHAPAN BENTUK
KEGIATAN ISI KEGIATAN METODA TIM
PELAKSANA TEMPAT WAKTU HASIL
YANG PEROLEH
monitoring, analisis
dampak akhir kegiatan,
dan organisasi
pelaksanaan.
evaluasi dampak
advokasi.
8. Pelatihan Pendidikan Materi :
• Pendekatan pembinaan
teknis budidaya dan
pasca panen serta
penumbuhan koperasi
dan kemitraannya
• Persiapan yang
diperlukan dalam
advokasi
• Diagnose eksploratif dan
analisis dalam penentuan
lokasi
penelitian/advokasi/
pembinaan (potensi dan
kendala)
• Evaluasi Dampak.
• Alat analisis kelayakan
investasi
• Materi lain yang relevan
berupa teknologi praktis
(budidaya, produksi,
panen, pasca panen, dan
pengetahuan
manajemen).
ELC
(Experiencing
Learning
Cycle)
• Terlatihnya petugas
dan petani /
kelompoktani yang
memiliki
pengetahuan
manajerial dan
keterampilan dalam
pelaksana advokasi
berbasis komoditas
spesifik lokasi.
102
NO TAHAPAN BENTUK
KEGIATAN ISI KEGIATAN METODA TIM
PELAKSANA TEMPAT WAKTU HASIL
YANG PEROLEH
9. Apresiasi
dengan aparat
pemerintah
daerah
Seminar • Pengembangan motivasi
rasa memiliki dan rasa
tanggung jawab dalam
pelaksanaan program
advokasi.
• Pengembangan partisipasi
aktif aparat setempat
dalam pelaksanaan
program advokasi.
• Distribusi tugas dan
tanggung jawab antara
aparat yang terlibat.
Ungkapan
pengalaman,
diskusi
• Pembagian tugas
dan tanggung
jawab yang jelas
antara aparat
pelaksanan
advokasi.
10. Pemantauan
kesiapan
prasarana dan
sarana
produksi
Supervisi /
Monitoring
• Kesiapan aparat
pelaksana dalam
pengadaan, distribusi
sarana produksi dan
prasarana pendukungnya
(vital).
Kunjungan
lapang dan
wawancara
• Tersiapkan sarana
dan prasarana
produksi komoditas
budidaya dalam
pengelolaan
koperasi mandiri
yang disalurkan
melalui fasilitas
kredit swadana atau
sumber swasta.
11. Pelaksanaan
kegiatan
lapangan
Penerapan
teknologi
budidaya,
produksi,
panen, pasca
panen dan
manajerial
• Introduksi teknologi
superimpuls, teknologi
yang diperbaiki,
tataniaga, dan
pengembangan
kelembagaan yang
berorientasi agribisnis
Demonstrasi,
percontohan,
temu lapang,
studi banding
• Teradopsinya
teknologi introduksi
oleh petani
pelaksana advokasi.
• Terinformasikannya
tentang
perkembangan
103
NO TAHAPAN BENTUK
KEGIATAN ISI KEGIATAN METODA TIM
PELAKSANA TEMPAT WAKTU HASIL
YANG PEROLEH
usaha yang dilakukan oleh tim
pengkaji (peneliti,
penyuluh)
pelaksanaan
advokasi dalam
bentuk laporan
kemajuan bulanan
yang ringkas dan
padat.
12. Monitoring
dan evaluasi
Monitoring
dan evaluasi
• Penjagaan konsistensi
pelaksanaan advokasi dan
penumbuhan koperasi
meliputi aspek :
1. manajemen dan
kebijaksanaan pada
tingkat daerah
2. substantif subsistem
koperasi yang sedang
dikembangkan
3. kajian yang dilakukan
secara super impose
(teknis,kelembagaan,
persepsi dan
partisipasi petani)
Wawancara,
kunjungan
• Konsistensi
manajemen petani
budidaya dalam
wadah koperasi
yang berorientasi
pasar dan
kebijaksanaan
untuk melakukan
penyempurnaan
advokasi lebih
lanjut.
13 Pengumpulan
data dan
informasi
Survai • Keragaan masing-masing
subsistem, data sosial
ekonomi mulai dari
kegiatan produksi, pasca
panen sampai distribusi
serta pemasaran.
Wawancara,
diskusi, dan
menghimpun
data
sekunder
Data dan informasi
tentang keragaan
sistem produksi,
pengolahan hasil,
distribusi, pemasaran
serta sistem pendukung
lainnya.
104
NO TAHAPAN BENTUK
KEGIATAN ISI KEGIATAN METODA TIM
PELAKSANA TEMPAT WAKTU HASIL
YANG PEROLEH
14. Analisis dan
pengolahan
data
Analisis dan
pengolahan
data
• Analisis finansial – analisis
ekonomi, meliputi :
analisis keunggulan
komperatif dan
keuntungan kompetitif
koperasi, analisis resiko,
pemasaran dan prioritas,
analisis kelembagaan
yang diterapkan.
• Keragaan fisik dan
biologis, meliputi :
analisis agronomis,
biologis yang diterapkan
untuk mengevaluasi
konsistensi penerapan
teknologi dalam skala
agribisnis.
- Data dan informasi baik
kuantitatif dan kualitatif
yang telah dianalisis dan
ditampilkan dalam
bentuk tabulasi silang.
15. Penulisan
laporan dan
seminar
Seminar dan
prosiding
• Penyusunan laporan
advokasi akhir oleh
masing-masing
penanggung jawab.
• Rangkuman laporan
dalam sebuah sistesis
yang mencerminkan
keragaan advokasi.
• Penajaman laporan
advokasi dengan seminar
yang mengundang para
peneliti, penyuluh, pakar
yang ahli dibidangnya,
- • Laporan akhir yang
siap digandakan.
105
NO TAHAPAN BENTUK
KEGIATAN ISI KEGIATAN METODA TIM
PELAKSANA TEMPAT WAKTU HASIL
YANG PEROLEH
dan pembuat dan
penentu kebijaksanaan
dari instansi terkait.
16. Laporan final
dan
rekomendasi
Laporan dan
bahan
rekomendasi
• Penyusunan laporan
advokasi dalam bentuk
utuh, sistesis dan
ringkasan eksekutif yang
telah mencantumkan
rekomendasi
pengembangan hasil
advokasi.
• Laporan akhir
advokasi yang siap
untuk
dikomunikasikan
dengan penentu
kebijakan maupun
pengguna.
106
Lampiran 4.
Gambar 12. Penanaman dalam strip (a) menurut garis kontur (contour strip cropping),
(b)lapangan (field strip cropping), dan (c) strip berpenyangga (buffer strip
cropping).
Gambar 13. Sketsa penampang (a) Guludan, dan (b) Guludan bersaluran.
107
Gambar 14. Sketsa terras pengelak (a) dan terras retensi (b).
Gambar 15. Sketsa terras bangku berlereng ke dalam (atas), dan terras bangku datar
(bawah).
108
Tabel 14. Hubungan antara kecuraman lereng dengan lebar terras, dan luas areal
yang dapat ditanami pada terras bangku dengan jarak vertikal 1 m
(Constantinesco, 1987).
109
Lampiran 5. MEKANISME SISTEM AGRIBISNIS
DELIVERI SYSTEM
(sistem Hubungan)
KEBIJAKAN
Sarana, Parasarana, kredit/dana, pembinaan,/penyuluhan,dll
SUBSISTEM PRASARANA PRODUKSI
Prasarana : Pengairan
Sarana : Bibit, pupuk, pestisida, tarnsportasi, dll.
II. SUBSISTEM PRODUKSI
Usahatani.
Perilaku Produsen (pecil, besar, menengah)
Teknologi dan Manajemen
Resiko
Produktivitas
Teknik Panen primer
III. SUBSISTEM PENANGANAN PASCA PANEN DAN
PENGOLAHAN
Grading: kualitas, volume, berat.
Packing: lama penyimpanan, cara.
Storage: bentuk bangunan.
Processing: Value added
Standarisasi: pemalsuan.
IV. SUBSISTEM PEMASARAN
4.1. Volume (kuantitas) : harga
4.2. Kualitas : harga
4.3. Perilaku konsumen : daya beli
4.4. Preferensi : daya beli/ income
4.5. kontinuitas : kestabilan harga
4.6. Harga : margin harga
4.7. Tampilan : daya tarik
V. SUBSITEM KELEMBAGAAN
5.1. Koperasi, PT, CV, BUMN: pelaku tataniaga/produsen
5.2. LSM
5.3. Pemerintah
KESEMPATAN
KERJA
(sumber
pendapatan)
110
Lampiran 6. Komposisi Tim tenaga ahli dan tenaga pendukung
No Nama/NIP/Gol/No. HP Lokasi Tugas Bidang keahlian Pendidikan
A. Tim ahli
1. Ir. Darmawan, MP/ 1958 1010 1986 031 002
/ Pembina, IVa / 08122 398 270
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat Ekonomi Pertanian S2
2. Ir. Subhan, APU/ Balai Penelitian Sayuran (Balitsa) Lembang Agronomi S1
3. Ir. Ahmad Hanafiah / 1958 0430 1981 031 002
/ Penata Tingkat I, IIId
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat Peternakan S1
4. Ir. Dian Hestifarinah, Msi/ Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat Pasca Panen S2
5. Nadimin, Ssi / 1960 1020 1983 031 003
/ Penata, IIIc
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat Technologi
Informatika
S1
B. Tim Asisten/pendukung
1. Ir. Nani Kornia Rusyano/ 19611214 1986 03 2 005
/ Penata Tingkat I, IIId
Subag Program dan Pelaporan Dinas Pertanian
Tanaman dan Hortikultura Kab. Sumedang
Teknis S1
2. Ir. Asep Karyawan/ 19680319 2006 04 1 005
/ Penata Muda, IIIa
Subag Program dan Pelaporan Dinas Pertanian
Tanaman dan Hortikultura Kab. Sumedang
Teknis S1
3. Nugrahana F. R., SP/ 19780903 2006 04 1 009
/ Penata Muda, IIIa
Subag Program dan Pelaporan Dinas Pertanian
Tanaman dan Hortikultura Kab. Sumedang
Ekonomi S1
4. Denny, SP/ 19741110 2008 01 1 003
/ Penata Muda, IIIa
Subag Program dan Pelaporan Dinas Pertanian
Tanaman dan Hortikultura Kab. Sumedang
Teknis S1
5. Ajeng Sendang Lestari, S.Kom / 19821231 2009 01 2 005/ /
Penata Muda, IIIa
Subag Program dan Pelaporan Dinas Pertanian
Tanaman dan Hortikultura Kab. Sumedang
Sosial S1
6. Jajat Sudrajat, SP / – Subag Program dan Pelaporan Dinas Pertanian
Tanaman dan Hortikultura Kab. Sumedang
Teknis S1
7. Indra Yupiterson Mbolik/ – Subag Program dan Pelaporan Dinas Pertanian
Tanaman dan Hortikultura Kab. Sumedang
Sosial -
8. Ai Tetin, S.Kom / – Subag Program dan Pelaporan Dinas Pertanian
Tanaman dan Hortikultura Kab. Sumedang
Sosial S1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s